Syi’ah Sewa Preman Sebar Brosur ‘Fatwa MUI Palsu’ di Pengajian Islam

Berbagai cara dilakukan para pengikut Syi’ah untuk menghalangi syiar islam. Setelah gagal meneror panitia tabligh akbar, Syi’ah menyewa preman untuk menyusupkan brosur Fatwa MUI palsu ke peserta pengajian.

Empat orang preman tertangkap basah menyebarkan fatwa MUI palsu kepada jamaah tabligh akbar “Membongkar Kekufuran Syi’ah” di Masjid Jami’ Amar Ma’ruf Bulak Kapal, Bekasi Timur, Ahad (22/5/2011).

Ketika diinterogasi panitia dan satpam masjid, keempat preman itu mengaku sebagai tukang ojek yang diperintah Kapolsek Bekasi Timur. Tapi panitia meragukan pengakuan keempat preman itu, karena acara yang digelar itu resmi dengan pemberitahuan kepada Polsek Bekasi Timur, bahkan untuk menjaga keamanan, acara itu juga dijaga oleh beberapa polisi. Panitia mencurigai para preman tersebut diperalat oleh kalangan Syi’ah untuk memprovokasi pengajian.

“Tidak mungkin brosur provokasi ini disebarkan oleh Kapolsek. Kayaknya ini dari orang Syi’ah yang menyuruh mereka dengan bayaran,” jelas Ruhiyat, ketua panitia tabligh akbar kepada voa-islam.com usai shalat zuhur di Masjid Amar Ma’ruf.

Usai diinterogasi, keempat preman itu dinasihati dan dilepas, namun ratusan brosur disita panitia pengajian. Selain itu, sebuah spanduk Syi’ah yang dipasang para preman di seberang jalan juga diamankan panitia. “Satu rim brosur dan spanduk Syi’ah sudah kita sita dan kita amankan, lalu para premannya kita lepas,” tambahnya.

Teror terhadap acara yang digelar oleh Harakah Sunniyyah untuk Masyarakat Islami (HASMI) DPD Bekasi itu, terang Ruhiyat, sangat gencar dilakukan melalui telepon maupun pesan singkat kepada panitia. Salah satu peneror yang mengaku dari Mabes Polri, meminta agar pembicara tabligh akbar diganti dari Ustadz Syi’ah.

“Saya sering ditelpon dari orang yang katanya dari Mabes Polri, meminta agar jangan radikal. Selama dua hari ini ada lima kali dia menelepon saya terus,” ujarnya. “Dia minta agar pembicaranya diganti oleh Ustadz (Syi’ah) yang direkomendasikan Mabes Polri. Saya nggak yakin itu telepon dari Mabes Polri.”

Sementara teror via SMS dilakukan secara kasar dengan mengutuk Masjid Amar Ma’ruf sebagai masjid Dhiror dan mengecam pembicaranya sebagai ustadz pembangkang.

Meski diintimidasi dengan berbagai cara, Ruhiyat mengaku tidak kaget karena kasus serupa, sebelumnya dialami HASMI Jakarta.

Dalam pengamatan voa-islam.com, brosur yang disebarkan preman itu bertajuk “Fatwa Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia): Syi’ah Sah Sebagai Mazhab Islam.” Dalam uraiannya, selebaran tak beralamat dan tak bertanggal itu menyebutkan, MUI Pusat berfatwa bahwa Sunni dan Syi’ah itu bersaudara sesama Muslim. Selebaran ini juga menyebut orang yang membeda-bedakan Sunni dan Syi’ah sebagai perbuatan yang menentang Allah SWT. “Sunni-Syi’ah bersaudara, sama-sama umat Islam. Jika ada yang memperselisihkan dan menabrakkan keduanya, mereka adalah penghasut & pemecah-belah umat. Mereka berhadapan dengan Allah SWT yang menghendaki umat ini bersatu,” tulis selebaran itu.

Menurut Ustadz Ibrahim Bafadhal Lc, pembicara tabligh akbar tersebut, selebaran gelap yang disebarkan preman bayaran itu bukan resmi MUI, karena MUI pusat dalam fatwa resminya pada tanggal 7 Maret 1984 justru menyatakan Syi’ah sesat. Dalam fatwa yang ditandatangani oleh 
Prof. K.H. Ibrahim Hosen LML dan 
H Musytari Yusuf LA itu, disebutkan dengan jelas bahwa faham Syi’ah sangat berbeda dengan faham Islam (Sunni/Ahlus Sunnah Wal Jama’ah). Menyikapi faham sesat Syi’ah itu, MUI mengimbau agar umat Islam meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah.

“Selebaran itu bukan dari MUI. Redaksinya juga bukan Fatwa resmi MUI, tapi kutipan pendapat pribadi Prof Umar Shihab, salah seorang Ketua MUI,” bantah Ketua Lajnah Ilmiah DPP HASMI itu.

Inilah Fatwa MUI Palsu yang Menyatakan Faham Syi’ah Tak Sesat

Inilah kutipan lengkap fatwa palsu yang mengatasnamakan MUI Pusat itu:

Fatwa Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia): Syi’ah Sah Sebagai Mazhab Islam

Sunni-Syi’ah bersaudara, sama-sama umat Islam. Itulah prinsip yang dipegang oleh MUI. Jika ada yang memperselisihkan dan menabrakkan keduanya, mereka adalah penghasut & pemecah-belah umat. Mereka berhadapan dengan Allah SWT yang menghendaki umat ini bersatu.

Di tengah gencarnya isu yang menyudutkan Syi’ah sebagai mazhab sesat dan dinilai bukan dari islam, ketua majelis ulama indonesia menyatakan Syi’ah sebagai mazhab yang sah san benar dalam islam.

Selengkapnya baca di http://www.tin####.com/3kzb2

Mohon informasi ini disebarluaskan agar umat islam tidak termakan oleh isu-isu yang dirancang Zionis, Amerika Serikat dan para propaganda yang menghendaki perpecahan umat islam. Semoga informasi ini bermanfaat.

Prof KH Umar Shihab MA
Ketua MUI

Fatwa dalam selebaran yang mengatasnamakan MUI Pusat ini sangat aneh dan kurang layak disebut sebagai fatwa. Biasanya, setiap fatwa MUI diawali dengan basmalah dan disertai logo MUI, lalu di aakhiri dengan tanda tangan dan stempel resmi MUI. Selain itu, tidak mencantumkannnya tanggal dan alamat menambah daftar kepalsuan fatwa yang menjustifikasi keabsahan Syiah itu.

Di samping itu, secara defacto maupun dejure, fatwa pendukung Syi’ah yang dinisbatkan kepada MUI itu bertentangan dengan Fatwa MUI yang resmi dikeluarkan pada tahun 1984.

Inilah fatwa asli dan resmi MUI Pusat yang menyatakan kesesatan Syi’ah:

FATWA MUI TENTANG SYI’AH

Majelis Ulama Indonesia dalam Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H/Maret 1984 M merekomendasikan tentang faham Syi’ah sebagai berikut:

Faham Syi’ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia.

Perbedaan itu di antaranya :

1. Syi’ah menolak hadits yang tidak diriwayatkan oleh Ahlul Bait, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak membeda-bedakan asalkan hadits itu memenuhi syarat ilmu musthalah hadits.

2. Syi’ah memandang “Imam” itu ma ‘sum (orang suci), sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan).

3. Syi’ah tidak mengakui Ijma’ tanpa adanya “Imam”, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ ah mengakui Ijma’ tanpa mensyaratkan ikut sertanya “Imam”.

4. Syi’ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama, sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan adalah untuk menjamin dan melindungi dakwah dan kepentingan umat.

5.Syi’ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar As-Shiddiq, Umar Ibnul Khatthab, dan Usman bin Affan, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengakui keempat Khulafa’ Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib).

Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang “Imamah” (pemerintahan)”, Majelis Ulama Indonesia mengimbau kepada umat Islam Indonesia yang berfaham Ahlus Sunnah wal Jama’ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah.

Ditetapkan: Jakarta, 7 Maret 1984 M (4 Jumadil Akhir 1404 H)

KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA

Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML
Ketua

H. Musytari Yusuf, LA
Sekretaris

Sejak dirilis tahun 1984 hingga saat ini, Fatwa MUI tentang kesesatan Syi’ah itu belum pernah diamandemen apalagi dicabut. Tiba-tiba tahun bulan Mei 2011 muncul selebaran fatwa palsu yang substansinya menghapus fatwa resmi. Mungkinkah fatwa palsu menghapus (menasakh) fatwa yang asli dan legal? Hanya orang kurang waras yang menyatakan mungkin! (Fani/Voa-islam)