Dituding Agen Israel, Emir Qatar Terancam Digulingkan

Pemimpin negara Qatar, Emir Hamad bin Khalifa Al-Thani juga menjadi target kampanye penggulingan kekuasaan seperti yang terjadi di beberapa negara muslim lainnya. Kampanye itu disebarluaskan melalui jejaring sosial Facebook yang bertajuk “Revolusi Kebebasan, 16 Maret, Qatar”.

Halaman jejaring sosial itu menyerukan rakyat Qatar untuk melakukan aksi demonstrasi besar-besaran, menuntut perubahan di Qatar. Halaman tersebut sudah menjaring dukungan dari 18.000 lebih pengguna Facebook.

Halaman itu dilengkapi foto wajah Emir Khalifa Al-Thani yang dicoret tanda silang berwarna merah, dengan latar belakang bendera Qatar disertai tulisan “Untuk Qatar, adili pengkhianat, seorang agen Israel.”

Seperti kebanyakan pemimpin negara Arab, Emir Qatar yang dikenal modern, adalah pemimpin Arab yang pro-Barat. Ia juga dituding sebagai agen Israel.

Diantara tuntutan yang dipublikasi di halaman Facebook adalah tuntutan agar isteri Emir, Syaikh Mouza, tidak dilibatkan dalam urusan publik serta pemutusan hubungan dengan Israel dan AS, yang memiliki basis militer di Qatar.

Meski tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Israel, Qatar menjalin hubungan informal dengan negara Zionis itu. Saat terjadi serangan Israel ke Jalur Gaza tahun 2009, Qatar memutus dan menutup kantor perwakilan dagang Israel di Doha, ibukota Qatar.

Foto-foto Emir Qatar bersama sejumlah pejabat pemeirntah Israel yang juga diunggah ke situs jejaring sosial itu menuai komentar pedas dan kemarahan para pengunjung halaman anti-Emir Qatar itu. Mereka mengecam Emir Khalifa Al-Thani sebagai “pengkhianat, sama dengan Mubarak.”

Laporan yang dipublikasikan Dubai School of Government menyebutkan bahwa pengguna Facebook di negara-negara Arab meningkat hingga 78 persen pada tahun 2010, dari 12 juta orang menjadi lebih dari 21 juta orang.

Jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter memainkan peran yang sangat signifikan dalam gelombang aksi protes terhadap penguasa di negara-negara Afrika Utara dan Timur Tengah yang marak belakangan ini.

Lewat jejaring sosial itulah, anak-anak muda di Tunisia dan Mesir berhasil menggerakkan aksi massa yang akhirnya menumbangkan pemerintahan Ben Ali dan Husni Mubarak. Aksi protes serupa kini juga masih berlangsung di Bahrain, Yaman, Libya dan ditengarai akan merembet ke dunia Arab lainnya.

Awal bulan Februari, juga muncul halaman di Facebook yang menyerukan perubahan politik, sosial dan reformasi ekonomi di Arab saudi. Sampai hari Sabtu kemarin, halaman itu sudah menjaring 9.400 simpatisan.

Melihat gejala itu, hari Rabu kemarin, Raja Saudi mengumumkan kebijakan di bidang sosial, antar lain menaikkan gaji pegawai negeri sebesar 15 persen dan meningkatkan pinjaman untuk pembelian rumah bagi rakyat Saudi.

Red: Fani
Sumber: Eramuslim.com