ICAF: Indonesia Jangan Tiru Gaya Amerika

Klaim meninggalnya Usamah bin Ladin tidak serta-merta bisa secara otomatis menumpas gerakan “teroris” seluruh dunia. Di Indonesia, bahaya Usamah bukan terletak pada kematiannya, namun bahaya pemerintah akan meniru gaya Amerika.

Demikian dikatakan Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF) Mustofa B. Nahrawardaya. Menurut dia, sejarah Amerika harus dipahami sebagai negara yang memang hobi perang.

Amerika, kata Mustofa, pernah membiayai Usamah bersama pasukan Mujahidin seluruh dunia termasuk Mujahidin dari Indonesia untuk perang melawan Uni Soviet di Afganistan. Namun, Amerika kemudian menjadikan Usamah Cs sebagai “teroris” ketika tidak membutuhkannya. Bahkan kemudian memusnahkannya di saat presiden Amerika Obama sedang giat-giatnya Kampanye Pemilu untuk perebutan kursi kekuasaan periode kedua.

“Pembunuhan Usamah sangat kental misi politisnya. Bahkan, pembunuhan Usamah setahun menjelang pemilu, bisa saja memang dimaksudkan untuk itu,” kata Mustofa.

Namun yang dikhawatirkan Mustofa, Indonesia berpotensi meniru gaya Amerika itu. Para veteran Poso, kini juga hampir senasib dengan Usamah Cs. Mereka satu per satu dijadikan target perburuan.

Satu persatu mujahidin Poso dan Ambon, Maluku, kini mulai dihabisi, persis cara gaya Amerika. Mustofa menduga Abubakar Baasyir akan dijadikan ikon “teroris” Indonesia, seperti halnya Usamah bagi Amerika.

Saya yakin, ada niat dari pemerintah untuk menjadikan Baasyir sebagai Usamah-nya Indonesia. Sayangnya, pemerintah masih kesulitan mencari bukti nyata keterlibatannya. Meski berbagai cara sudah dilakukan untuk menyudutkan Baasyir,” ujar Mustofa.

Tak menutup kemungkinan upaya penyelesaian Abubakar Baasyir dilakukan menjelang 2014, karena dengan demikian, akan tercapai kesan bahwa pemerintah sukses mengakhiri masa jabatan dengan happy ending.

“Semoga itu tidak terjadi. Indonesia jangan meniru Amerika,” harapnya.

Red: Fani
Sumber: Hidayatullah