Umat Islam Mesir Tolak Gubernur dari Kristen

Demonstran yang dipimpin kelompok Islam di selatan Mesir menggelar aksi protes. Mereka bersumpah tidak akan mengakhiri kampanye penentangan hingga pemerintah memberhentikan seorang gubernur Kristen Koptik yang baru terpilih.

Para demonstran, banyak yang berasal dari kelompok Salafi, melancarkan aksi duduk di atas jalur rel kereta api. Mereka juga menguasai gedung-gedung pemerintah dan memblokir jalan utama di selatan kota Qena. Mereka bersikukuh bahwa gubernur yang baru tidak akan dapat memberlakukan hukum Islam dengan layak.

Aksi duduk ini sudah dimulai sejak Jumat lalu. Kebijakan ini berasal dari menteri dalam negeri yang juga baru ditunjuk.

Sejak tergulingnya Presiden Husni Mubarak 11 Februari lalu dalam gerakan revolusi rakyat, berbagai kelompok Islam bersikap lebih fleksibel dan bersumpah untuk lebih aktif dalam politik ketika Mesir dalam transisi demokrasi.

Minoritas Koptik di Mesir mewakili sekitar 10 persen dari 82 juta penduduk.

Gubernur yang baru terpilih itu adalah seorang Kristen dan mantan jenderal polisi. Tapi ia dipilih Mubarak dan tidak kompeten serta dekat dengan rejim sehingga kubu Salafi berhasil menggalang dukungan lokal untuk menyatakan ketidakpuasan warga atas kepemimpinannya.

Kampanye ketidakpatuhan publik membuat Menteri Dalam Negeri Mansour el-Eissawi mengunjungi Qena untuk mencoba meredam situasi itu.

“Jika ada keputusan penggantian gubernur kepada orang Muslim sipil, kami akan menghentikan aksi dan kehidupan akan kembali seperti biasa,” ujar Syeik Qureishi Salama, imam masjid lokal, sambil mempertanyakan mengapa wilayah miskin mereka ini ditempatkan seorang gubernur dari Kristen.

“Mengapa Qena menjadi tempat uji coba bagi orang Kristen?” Dia bertanya. “Kami bukan kelinci percobaan.”

Diaa Rashwan, seorang ahli pada kelompok Islam dan penduduk asli Qena mengatakan, bagi mayoritas penduduk, masalah baru adalah adanya tren pengangkatan mantan para jenderal polisi sebagai gubernur.

Jatuhnya Husni Mubarak menjadikan peluang gerakan Islam ikut ambil bagian. Selain kelompok Al Ikhwan al Muslimun, kelompok Salafi juga mulai ikut. Mereka semua kini ikut menjadi vokal.

Sebelumnya, Ikhwan adalah kelompok yang dilarang dan paling dihambat oleh Mubarak.

Namun umumnya media asing paling sibuk menulis sinis. Seolah-oleh kelompok ini berusaha untuk mendirikan negara Islam dan akan memotong tangan orang seenaknya jika hukum Islam diterapkan.

“Kita tidak bisa tidur lagi, jadi kita akan memberikan ruang untuk agama ini berkembang di Mesir jangan sampai kita menyia-nyiakan kesempatan ini,” ujar Saad al-Husseini, pemimpin Ikhwan dikutip Al-Masry Al-Youm.

Red: Fani
Sumber: Hidayatullah