Dialog Antaragama Bohong-bohongan, Tanggapan untuk Ulil Abshar Abdalla

Kendala-kendala dialog antaragama dirumuskan dengan cukup tepat oleh Ulil Abshar Abdalla melalui tulisannya “Beberapa Kendala Praktis Dialog Antaragama” di harian Kompas, 5 Aqustus 2000. Ada satu faktor penting dalam tema dialog antaragama yang tidak dimasukkan oleh Ulil Abshar Abdalla sebagai faktor kendala, yakni pengembangan “teologi pluralis.” Kelompok penganut teologi pluralis inilah yang ironisnya justru gencar mengembangkan wacana dialog antaragama.

Bagi penganut teologi pluralis, apa pun agamanya, tidak ada suatu yang perlu didialogkan di antara mereka, sebab mereka sudah menganut teologi yang sama, yakni suatu “teologi universal” lintas agama. Menurut Ulil Abshar, orang-orang pluralis adalah orang-orang yang menyetujui adanya dialog antaragama.

Orang-orang pluralis inilah yang selama ini aktif menggalang aksi dialog antaragama di antara mereka sendiri dan kadang-kadang memiliki prasangka buruk mengenai kelompok-kelompok konservatif, sehingga dialog antara kelompok pluralis dan kelompok konservatif sulit berlangsung. Padahal, menurut Ulil Abshar, yang perlu dikembangkan ke depan adalah dialog antara dua kelompok itu sehingga sejumlah masalah yang menjadi bahan perbedaan dan mengganjal bisa diatasi dengan terbuka.

Ulil Abshar tidak mengelaborasi lebih jauh tentang teologi kaum pluralis. Nurcholish Madjid (1999), menjelaskan pandangan pluralis sebagai pandangan “bahwa setiap agama sebenarnya merupakan ekspresi keimanan kepada Tuhan yang sama”. Ibarat roda, pusat roda itu adalah Tuhan dan jari-jari itu adalah jalan dari berbagai agama. Adapun sikap pluralis dapat terekspresi dalam macam-macam rumusan, misalnya: “agama-agama lain adalah jalan yang sama-sama sah untuk mencapai kebenaran yang sama,” “agama-agama lain berbicara secara berbeda, tetapi merupakan kebenaran-kebenaran yang sama-sama sah,” atau “setiap agama mengekspresikan bagian penting sebuah kebenaran.”

Penjelasan yang lebih tegas tentang teologi pluralis diungkapkan oleh Budhi Munawar Rachman. Teologi pluralis melihat agama-agama lain dibanding dengan agamanya sendiri dalam rumusan: other religions are equally valid ways to the same truth (John Hikc); other religions speak of different but equally valid truths (John B. Cobb Jr.); each religion expresses an important part of the truth (Raimundo Panikkar). Intinya, penganut teologi pluralis meyakini bahwa semua agama memiliki tujuan yang sama.

Dalam istilah Budhy Munawar Rachman, teologi pluralis ini dirumuskan sebagai “satu Tuhan dalam banyak jalan”. Teologi pluralis menolak paham eksklusivisme, karena dalam eksklusivisme itu ada kecenderuang oppressive terhadap agama lain. Teologi ekslusif dirumuskan sebagai pandangan yang menganggap bahwa hanya ada satu jalan keselamatan, yaitu agama mereka sendiri. Budhy mencatat bahwa pandangan ekslusif jelas mempunyai kecenderungan fanatik, dogmatis, dan otoriter sehingga tidak kondusif untuk pengembangan kerukunan umat beragama, bahkan menjadi akar munculnya konflik agama. (Republika, 24 Juni 200).

Bohong-Bohongan

Jadi, kaum pluralis sebenarnya tidak perlu mengadakan dialog antaragama lagi, sebab mereka sudah menganut teologi pluralis yang memandang bahwa semua agama adalah sama. Penganut teologi pluralis percaya bahwa Tuhan orang Kristen, Tuhan orang Hindu, Tuhan orang Yahudi, Tuhan orang Budha, Tuhan orang Shabi’in adalah sama. Tokoh teologi pluralis, Anand Krishna, menegaskan, “Orang yang masih menganggap Tuhan orang Kristen beda dengan orang Islam; Tuhan orang Hindu beda dari Tuhan Budhis; Tuhan Shabi’in beda dari Tuhan Yahudi, harus membaca ulang Al-Qur’an. Jika masih melihat perbedaan semacam itu, kita belum khatam Al-Qur’an.” (Republika, 3 Agustus 2000).

Bisa dikatakan bahwa dialog antarpenganut teologi pluralis (kaum pluralis) adalah dialog “bohong-bohongan” karena pada hakikatnya kaum pluralis sudah memiliki “agama” yang sama. Mereka sudah tidak mempedulikan teologi agama asal dan menciptakan teologi baru. Bagi mereka, semua agama adalah sama. Tidak ada perbedaan yang perlu didialogkan lagi.

Dalam Tafsir Al-Azhar (juz VI, hlm. 323), Hamka menyebut orang yang percaya kepada kebenaran semua agama itu sebagai kelompok Shabi’in, seperti disebutkan dalam surah Al-Maa’idah ayat 69. Hamka mencontohkan kelompok Teosofi yang dikembangkan Annie Besant dan Madame Balavatsky di India pada awal abad ke-20, yang hendak mempersatukan atau mencari titik temu segala agama yang ada.

Dalam tafsirnya itu, Hamka mencatat, “Mulanya, kelompok ini tidak bermaksud hendak membuat agama baru, tetapi hendak mempertemukan intisari segala agama, memperdalam rasa kerohanian, tetapi akhirnya mereka tinggalkanlah segala agama yang pernah mereka peluk dan tekun dalam Teosofi.”

Kaum pluralis yang aktif mengampanyekan paham persamaan agama biasanya cenderung mengabaikan hal-hal yang eksklusif dan substansial yang diyakini oleh setiap pemeluk agama. Kaum Muslim, misalnya, tentu meyakini aspek-aspek keimanan Islam bahwa agamanya yang benar (Ali Imran: 19, 85). Konsep teologi Islam bersifat sangat eksklusif dan nonkompromistis ketika menyatakan bahwa Allah adalah satu, tidak beranak, dan tidak diperanakkan (surah Al-Ikhlas); penganut Trinitas yang mempercayai ketuhanan Isa Al-Masih dicap sebagai kafir (Al-Maa’idah: 72-73); tempat kaum kafir adalah neraka (Al-Bayyinah: 6).

Itulah keyakinan (keimanan) tiap-tiap pemeluk agama. Apakah semua ayat kitab suci itu harus dibuang dan dinafikan sebagaimana tuntutan kaum pluralis? Ayat-ayat dalam kitab suci tiap-tiap agama itulah yang kini tetap diyakini oleh jutaan kaum Muslim, Protestan, dan Katolik. Karena itulah, gerakan kaum pluralis yang mencoba mempromosikan dialog antaragama dengan mengusung teologi pluralis merupakan gerakan yang sia-sia dan bahkan menambah konflik internal umat beragama.

Bagi kaum Muslim, gerakan semacam itu biasanya cicurigai sebagai upaya kaum non-Muslim untuk memecah belah Islam, mendangkalkan keimanan, bahkan memurtadkan kaum Muslim; apalagi dalam catatan sejarah, gerakan seperti Teosofi justru memiliki kaitan erat dengan organisasi Yahudi: Freemasonry.

Bersikap seperti Burung Unta

Selain membuat “agama baru”, kaum pluralis biasanya lebih suka bersikap seperti burung unta dalam melihat persoalan konflik antaragama. Mereka enggan menyentuh akar persoalan konflik antaragama yang sebenarnya. Sebutlah berbagai kasus konflik antaragama di masa yang lalu (khususnya Islam-Kristen), seperti kasus Situbondo (1996), kasus Tasikmalaya (1997), kasus Doulos di Cipayung (1999), kasus Mataram (2000), dan kasus Maluku (1999 sampai sekarang ). Dalam berbagai kasus tersebut, yang lebih dirmaikan adalah isu provokator dan aspek politis yang sifatnya lebih temporal. Aspek-aspek konflik antarumat beragama yang sebenarnya lebih bersifat mendasar dan laten justru diabaikan.

Yang lebih menambah keruh dan mengalihkan persoalan adalah banyaknya komentar yang simplifikatif dan hipotetis, seperti pernyataan bahwa komflik-konflik antaragama yang terjadi adalah rekayasa elite-elite politik untuk memperkeruh suasana. Biasanya, komentar itu tanpa disertai bukti apa pun. Opini, dugaan, atau anggapan diungkapkan seolah-olah sebagai fakta yang sebenarnya.

Bisa saja ada faktor provokator, permainan elite, dan sejenisnya dalam suatu konflik antaragama, tetapi semua itu lebih berperan sebagai trigger atau pemicu konflik. Potensi konflik itu sendiri sudah tertanam tajam di tengah masyarakat.

Sebutlah soal tentang Kristenisasi yang sejak dulu menjadi perhatian kaum Muslim. Hingga kini, belum ada pengakuan yang tulus dan fair dari tokoh-tokoh Kristen/Katolik untuk mengakui program Kristenisasi di Indonesia terhadap kaum Muslim, padahal Kistenisasi adalah perintah Injil, “Dan kamu akan menjadi saksi bagiku, baik di jerusalem, baik diseluruh tanah Judea atau di Samaria, sehingga sampai ke ujung bumi,” (Kisah Rasul-Rasul, 1: 8). “Pergilah ke seluruh dunia dan maklumkanlah Injil ke seluruh makhluk.” (Markus, 16: 15). Bukankah logis sekali jika konsep-konsep keimanan tentang “penyelamatan manusia” versi Kristen mengharuskan kaum Kristen menyebarkan agamanya kepada seluruh umat manusia, termasuk kepada kaum Muslim?

Jadi, Kristenisasi adalah hal yang wajar-wajar saja jika ditinjau dari konsep keimanan Kristen. Begitu juga dengan Islamisasi yang wajib dilakukan oleh kaum Muslimin kepada seluruh umat manusia, termasuk kaum Kristen. Ini karena dalam konsep teologi Islam, hanya yang beriman kepada Allah SWT dan kepada kerasulan Muhammad yang akan selamat. Wajar sekali jika kaum Muslim menyeru umat manusia untuk masuk Islam.

Sayangnya pihak Kristen dan Islam kadangkala enggan berterus terang tentang misi agamanya masing-masing. Ketua Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan KWI, Mgr. I. Suharyo Pr., mengakui bahwa luka-luka sejarah dalam hubungan Islam-Kristen tidak hanya terjadi dalam lingkungan nasional, namun juga terjadi dalam lingkup internasional dengan terjadinya Perang Salib. Adapun untuk tingkat nasional adalah tindakan diskriminatif yang dijalankan oleh pemerintah Orba dengan memanjakan umat Kristen dan memarjinalkan umat Islam dari kekuasaan. Akan tetapi, Suharyo tetap menyatkaan bahwa Kristenisasi adalah sekadar isu. “Akibatnya, pada kedua agama itu timbul sikap saling curiga. Rasa saling curiga ini kian meruncing dengan dihembuskannya isu Kristenisasi dan Islamisasi,” kata Suharyo, yang juga Uskup Agung Semarang.

Dialog perlu kejujuran, termasuk kejujuran idiologis dan teologis. Jika semua pihak bersikap seperti burung unta dan tidak jujur dengan keyakinan teologisnya masing-masing, yang terjadi adalah dialog kemunafikan dan bohong-bohongan.

Sumber: Penyesatan Opini, Adian Husaini, M.A.
Catatan: Ditampilkan si situs ini dengan perubahan kebahasaan seperlunya.