Ramadhan di Gaza: Rumah Hancur, Berbuka tanpa Saudara

Image Alislamu.com

Inilah Ummu Muhamad, di awal Ramadhan dan di akhir usianya yang ke enam puluh tahun ia memandangi rumah anaknya di Distrik Khuzaah, timur Khan Yunus. Ia berkata, “Ramadhan tahun ini tak ada anak-anak dan cucu yang mengelilingiku ketika berbuka. Juga tidak ada tetangga dan saudara yang akan shalat tarawih bersamaku. Yang ada hanyalah kesedihan dan kenangan masa lampau,” ujarnya sedih. 

Sebabnya beragam, tapi penderitaan tetaplah satu. Inilah kisah Salim Abu Syab (43 th) yang dipenjara sejak tahun 1993 setelah divonis seumur hidup. Ia berharap dapat bebas dalam perjanjian pertukaran tawanan antara Ghilad Salit tentara Israel yang ditawan pejuang Palestina dengan tawanan Palestina  yang ada di penjara Israel. Tapi, harapan ini tampaknya sirna. Kesedihan tampak menghiasi wajahnya di depan meja ketika berbuka, “Anak-anak berharap bisa berbuka bersama pemilik rumahnya,” ujarnya.

Hal senada juga dikatakan isterinya Ummu Aid. Sejak suaminya ditangkap ia tidak merasakan kenikmatan Ramadhan. “Salah satu anak saya syahid, bagaimana saya bisa merasakan nikmatnya berbuka?” Ungkapnya sambil mencucurkan air mata.

Abdullah Salal (44th) mungkin bisa menjadi wakil bagi kebanyakan keluarga Gaza. Selama  beberapa tahun ia tidak bekerja. Menjelang Ramadhan tiba, ia berkeliling ke yayasan sosial untuk meminta bantuan. “Demi Allah, saya ingin menggembirakan keluarga dengan berbagai cara, tetapi tak ada hasil. Dan, tidak ada bagi orang fakir seperti kami selain shalat, puasa, dan berdoa.”

Badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) meminta kepada negara-negara Arab untuk menggelontorkan dana sebesar 181 juta dolar untuk membantu kondisi warga Palestina yang lebih dari 70% dari penduduknya adalah pengungsi. (alquds/ha).