Marah adalah sesuatu yang manusiawi. Setiap orang pasti pernah mengalaminya.
Ada yang marah karena perkataan orang lain. Ada yang tersulut karena merasa diperlakukan tidak adil. Ada pula yang marah hanya karena hal kecil, terutama ketika sedang lelah atau banyak masalah.
Islam tidak mengajarkan bahwa seorang Muslim tidak boleh merasakan marah. Yang diajarkan adalah bagaimana mengendalikan marah agar tidak berubah menjadi dosa dan penyesalan.
Allah memuji orang-orang yang mampu menahan amarah:
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ
“Orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain.” (QS. Ali ‘Imran: 134)
Lalu, apa yang bisa kita lakukan ketika amarah mulai muncul?
- Segera Berlindung kepada Allah
Ketika seseorang sedang marah, langkah pertama yang diajarkan Nabi ﷺ adalah berlindung kepada Allah dari godaan setan.
Suatu ketika ada dua orang yang saling mencela di hadapan Nabi ﷺ. Salah seorang di antara mereka terlihat sangat marah hingga wajahnya memerah.
Nabi ﷺ bersabda:
إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Aku mengetahui satu kalimat yang jika ia mengucapkannya, niscaya akan hilang apa yang ia rasakan: A’udzu billahi minasy-syaithanir-rajim.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kalimatnya sederhana, tetapi maknanya besar.
Ketika marah, jangan langsung mengikuti emosi. Berhenti sejenak dan berlindunglah kepada Allah.
- Jangan Terburu-Buru Membalas
Saat marah, kita sering merasa harus segera membalas.
Ada yang langsung menjawab dengan kata-kata kasar.
Ada yang mengirim pesan panjang.
Ada yang mengunggah sesuatu di media sosial.
Ada pula yang langsung mengambil keputusan.
Padahal, beberapa menit setelah emosi mereda, kita sering menyadari bahwa perkataan tadi sebenarnya tidak perlu disampaikan.
Karena itu, ketika marah:
Tunda respons.
Tidak semua perkataan harus dijawab saat itu juga.
Tidak semua masalah harus diselesaikan ketika emosi sedang tinggi.
- Jika Berdiri, Cobalah Duduk
Nabi ﷺ memberikan petunjuk praktis bagi orang yang sedang marah.
Beliau bersabda:
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ
“Apabila salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaknya ia duduk. Jika kemarahannya hilang, itu sudah cukup. Jika belum, hendaknya ia berbaring.” (HR. Abu Dawud)
Perubahan posisi ini dapat membantu seseorang menghentikan reaksi spontan ketika sedang marah.
- Jaga Lisan
Salah satu dampak kemarahan yang paling sering terjadi adalah keluarnya perkataan yang kemudian disesali.
Ketika marah, seseorang bisa mengatakan sesuatu yang tidak akan pernah ia ucapkan dalam keadaan tenang.
Karena itu, menjaga lisan adalah bagian penting dalam mengendalikan marah.
Kalau belum mampu berbicara dengan baik, diam bisa menjadi pilihan yang lebih aman.
Bukan berarti semua masalah harus didiamkan selamanya. Tetapi kita bisa menunggu sampai emosi mereda sebelum membicarakannya.
- Ingat Keutamaan Menahan Marah
Rasulullah ﷺ pernah memberikan nasihat kepada seseorang yang meminta wasiat.
Beliau bersabda:
لَا تَغْضَبْ
“Jangan marah.”
Orang tersebut mengulang permintaannya beberapa kali, tetapi Nabi ﷺ tetap menjawab:
لَا تَغْضَبْ
(HR. Bukhari)
Para ulama menjelaskan bahwa maksudnya bukan berarti manusia sama sekali tidak boleh merasakan marah. Akan tetapi, jangan sampai marah menguasai diri sehingga seseorang melakukan sesuatu yang dilarang.
Justru kemampuan menahan marah merupakan tanda kekuatan.
Nabi ﷺ bersabda: “Bukanlah orang kuat itu yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
- Belajar Memaafkan
Setelah kemarahan mereda, ada satu tahap yang lebih tinggi: memaafkan.
Allah memuji orang-orang yang:
وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ
“Memaafkan kesalahan orang lain.” (QS. Ali ‘Imran: 134)
Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan.
Memaafkan juga tidak selalu berarti kita harus kembali memberikan kepercayaan yang sama.
Namun, kita berusaha melepaskan dendam dari hati dan tidak membalas keburukan dengan keburukan.
Bagaimana Jika Kita Terlanjur Marah?
Manusia tidak selalu berhasil mengendalikan dirinya.
Jika kita terlanjur mengucapkan perkataan buruk atau menyakiti orang lain, jangan gengsi untuk meminta maaf.
Akui kesalahan.
Perbaiki apa yang bisa diperbaiki.
Dan bertaubat kepada Allah jika kemarahan tersebut membuat kita melakukan sesuatu yang berdosa.
Jangan sampai ego membuat kita mempertahankan kesalahan hanya karena malu mengakui bahwa kita telah salah.
Latihan Sederhana Ketika Mulai Marah
Coba ingat urutan sederhana ini:
Berhenti → Berlindung kepada Allah → Jangan langsung membalas → Ubah posisi → Jaga lisan → Tenangkan diri → Selesaikan masalah setelah emosi reda.
Semakin sering kita melatihnya, semakin mudah bagi kita untuk mengendalikan emosi.
Penutup
Marah tidak selalu bisa kita cegah. Tetapi kita bisa belajar memilih apa yang dilakukan setelah marah muncul.
Kita bisa memilih untuk membalas atau menahan diri.
Kita bisa memilih berkata kasar atau diam.
Kita bisa memilih menyimpan dendam atau memaafkan.
Dan di situlah letak ujian sebenarnya.
Orang yang mampu menahan marah bukan berarti orang yang tidak memiliki emosi. Ia justru orang yang mampu mengendalikan emosinya ketika memiliki kesempatan untuk melampiaskannya.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mampu menahan amarah, memaafkan kesalahan orang lain, dan memperbaiki diri ketika melakukan kesalahan.
Sumber:
Riyadh ash-Shalihin, Imam an-Nawawi.
Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, Ibnu Rajab al-Hanbali.