Ada masa ketika hidup terasa begitu berat.
Masalah datang satu demi satu. Apa yang sudah direncanakan tidak berjalan sesuai harapan. Doa yang terus dipanjatkan belum juga menemukan jawaban. Kita sudah berusaha, tetapi hasilnya seakan tidak kunjung berubah.
Pada saat seperti itu, manusia biasanya mencari sesuatu yang bisa menguatkan dirinya. Sebagian mencari nasihat, sebagian mencoba mengalihkan pikiran, dan sebagian memilih diam sambil memendam semuanya sendirian.
Namun Al-Qur’an menawarkan sesuatu yang lebih dalam: sabar dan kembali kepada Allah.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)
Ayat ini menarik untuk direnungkan. Allah tidak hanya mengatakan, “Bersabarlah.” Tetapi Allah mengajarkan kepada kita bagaimana menghadapi kesulitan, yaitu dengan meminta pertolongan melalui sabar dan salat.
Sabar Bukan Berarti Tidak Merasa Sakit
Sering kali kita memahami sabar secara keliru. Seolah-olah orang yang sabar adalah orang yang tidak boleh menangis, tidak boleh sedih, tidak boleh merasa lelah, dan harus selalu terlihat kuat.
Padahal sabar bukan berarti tidak merasakan sakit.
Sabar adalah ketika seseorang tetap menjaga dirinya agar tidak keluar dari jalan Allah, meskipun sesuatu yang menyakitkan sedang terjadi.
Tafsir As-Sa’di menjelaskan bahwa sabar mencakup beberapa keadaan: bersabar dalam menjalankan ketaatan, menahan diri dari kemaksiatan, dan bersabar menghadapi takdir Allah yang menyakitkan.
Dengan demikian, seseorang bisa saja menangis tetapi tetap sabar. Ia bisa merasa sedih tetapi tetap sabar. Ia bisa merasa lelah tetapi tetap memilih untuk tidak berputus asa dari Allah.
Sabar bukan berarti tidak terluka. Sabar berarti luka itu tidak membuat kita meninggalkan Allah.
Ketika Masalah Terasa Terlalu Berat
Ada kalanya seseorang berkata dalam hati, “Sampai kapan saya harus menghadapi ini?”
Pertanyaan seperti itu sangat manusiawi. Namun Al-Qur’an mengajarkan kita untuk melihat kesulitan dengan perspektif yang berbeda.
Allah berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5–6)
Perhatikan kata yang digunakan Allah: مَعَ — bersama.
Allah tidak menggambarkan kemudahan sebagai sesuatu yang baru datang setelah kesulitan berakhir. Ayat ini justru memberikan gambaran bahwa kemudahan menyertai kesulitan.
Tafsir As-Sa’di menjelaskan ayat ini sebagai kabar gembira bahwa setiap kesulitan akan disertai kemudahan.
Ini bukan berarti setiap masalah akan hilang seketika. Namun seorang mukmin memiliki keyakinan bahwa kesulitan tidak pernah berdiri sendirian. Ada pertolongan Allah yang menyertainya.
Bisa jadi kemudahan itu hadir dalam bentuk masalah yang selesai. Bisa juga dalam bentuk hati yang menjadi lebih kuat, atau Allah mengganti sesuatu yang hilang dengan sesuatu yang lebih baik.
Bahkan bisa jadi kemudahan itu baru sempurna ketika seorang hamba bertemu dengan Allah dan mendapatkan balasan atas kesabarannya.
Mengapa Allah Mengajarkan Sabar dan Salat?
Menariknya, dalam QS. Al-Baqarah ayat 153, Allah menyandingkan sabar dengan salat.
Ini memberikan pelajaran penting.
Ketika menghadapi masalah, manusia sering kali sibuk mencari jalan keluar ke berbagai arah. Kita berpikir keras, bertanya kepada banyak orang, menghitung kemungkinan, dan berusaha mencari solusi.
Semua itu tentu boleh dilakukan. Namun jangan sampai kita lupa mencari pertolongan dari Zat yang menguasai seluruh keadaan.
Allah berfirman:
اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ
“Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat.”
As-Sa’di menjelaskan bahwa salat menjadi salah satu sarana pertolongan karena di dalamnya seorang hamba menghadirkan hati untuk bermunajat kepada Rabb-nya. Dengan keadaan tersebut, salat menjadi salah satu pertolongan terbesar dalam menghadapi berbagai urusan.
Maka ketika hidup terasa berat, mungkin yang kita perlukan bukan hanya istirahat dari masalah.
Kita juga membutuhkan tempat untuk bersandar.
Dan tempat bersandar itu adalah Allah.
Kisah Nabi Ya’qub: Sabar yang Tidak Menghilangkan Kesedihan
Salah satu kisah paling menyentuh tentang kesabaran dapat kita temukan dalam kisah Nabi Ya’qub عليه السلام.
Beliau kehilangan Yusuf. Bukan kehilangan karena kematian yang sudah pasti, tetapi kehilangan seorang anak yang sangat dicintainya tanpa mengetahui di mana keberadaannya.
Tahun-tahun berlalu. Kesedihan itu begitu dalam hingga penglihatannya menjadi putih karena banyak menangis.
Namun perhatikan bagaimana beliau mengungkapkan kesedihannya:
إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ
“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf: 86)
Ini adalah pelajaran yang sangat indah.
Nabi Ya’qub tidak berpura-pura bahwa dirinya tidak sedih. Beliau tidak mengatakan bahwa kehilangan Yusuf tidak menyakitkan. Beliau bahkan mengakui kesedihan itu.
Tetapi beliau memilih mengadukan kesedihannya kepada Allah.
Inilah salah satu bentuk kesabaran yang sering kita lupakan.
Sabar bukan berarti tidak boleh mengeluh. Sabar berarti tahu kepada siapa kita mengadukan keluhan.
Kita boleh menangis. Kita boleh merasa sedih. Kita boleh mengakui bahwa kita sedang lelah.
Namun jangan biarkan kesedihan membuat kita menjauh dari Allah. Jadikan kesedihan sebagai alasan untuk semakin dekat kepada-Nya.
Jangan Mengukur Pertolongan Allah dari Cepatnya Masalah Selesai
Salah satu kesalahan dalam memahami pertolongan Allah adalah menganggap bahwa pertolongan selalu berarti masalah langsung selesai.
Padahal tidak selalu demikian.
Nabi Ya’qub harus menunggu. Nabi Yusuf harus melewati sumur, perbudakan, fitnah, dan penjara sebelum Allah mengangkat kedudukannya.
Jalan menuju pertolongan tidak selalu pendek.
Terkadang Allah mendidik seorang hamba melalui proses yang panjang. Karena itu, ketika doa kita belum mendapatkan jawaban seperti yang kita inginkan, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Allah tidak mendengar.
Bisa jadi Allah sedang mempersiapkan sesuatu. Bisa jadi Allah sedang mengubah diri kita sebelum mengubah keadaan kita. Bisa jadi ada hikmah yang belum mampu kita lihat hari ini.
Dan bisa jadi, melalui kesulitan itu, Allah sedang mengajarkan kita sebuah bentuk penghambaan yang tidak akan pernah kita dapatkan ketika hidup selalu mudah.
Kesabaran Memiliki Buah yang Besar
Allah tidak menyia-nyiakan kesabaran seorang hamba.
Allah berfirman:
وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Kemudian Allah menyebutkan keadaan orang-orang yang ketika ditimpa musibah mengatakan:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)
Perhatikan bagaimana Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan manusia untuk menahan diri, tetapi juga mengajarkan cara berpikir ketika musibah datang.
“Kami milik Allah.”
Artinya, diri kita, keluarga kita, harta kita, kesehatan kita, pekerjaan kita, bahkan segala sesuatu yang kita cintai pada hakikatnya adalah milik Allah.
Jika suatu hari Allah mengambilnya, kita sedang dikembalikan kepada kenyataan bahwa sejak awal semuanya memang milik-Nya.
Ketika kesadaran itu tumbuh, hati perlahan belajar untuk menerima.
Pelajaran yang Bisa Kita Bawa
Dari ayat-ayat tentang kesabaran tersebut, ada beberapa pelajaran penting yang bisa kita bawa ke dalam kehidupan.
Pertama, jangan menghadapi masalah sendirian.
Allah mengajarkan kita untuk meminta pertolongan melalui sabar dan salat. Berusaha tetap penting, tetapi jangan lepaskan hubungan dengan Allah.
Kedua, sedih tidak membuat kita gagal menjadi orang yang sabar.
Nabi Ya’qub menangis dan bersedih, tetapi beliau tetap berharap kepada Allah. Maka jangan merasa gagal hanya karena sedang merasa lemah.
Yang perlu dijaga adalah arah hati kita.
Ketiga, jangan terburu-buru menilai akhir sebuah ujian.
Sesuatu yang hari ini terasa menyakitkan belum tentu menjadi akhir yang buruk. Kisah Nabi Yusuf menunjukkan bagaimana sebuah perjalanan yang tampak penuh penderitaan ternyata menjadi jalan menuju kemuliaan.
Keempat, kesabaran bukan hanya ketika mendapat musibah.
Kita juga membutuhkan sabar ketika beribadah, sabar meninggalkan dosa, sabar mendidik anak, sabar dalam pekerjaan, sabar dalam menjaga keluarga, dan sabar dalam menghadapi berbagai proses kehidupan.
Kelima, ingat bahwa Allah bersama orang-orang yang sabar.
Ini mungkin bagian yang paling menenangkan dari QS. Al-Baqarah ayat 153.
Allah tidak hanya memuji orang yang sabar. Allah mengatakan:
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
Kebersamaan khusus dari Allah ini mengandung pertolongan, taufik, penjagaan, kecintaan, dan dukungan-Nya kepada orang-orang yang bersabar.
Maka ketika dunia terasa sepi, jangan lupa:
Selama kita bersabar di jalan Allah, kita tidak benar-benar sendirian.
Ketika Besok Masih Berat
Mungkin setelah membaca tulisan ini, masalah Anda belum selesai.
Tagihan masih ada. Pekerjaan belum berubah. Doa belum terkabul. Orang yang menyakiti Anda mungkin belum meminta maaf. Keadaan keluarga mungkin masih belum seperti yang diharapkan.
Tetapi mungkin ada satu hal yang bisa berubah: cara kita menghadapi semuanya.
Kita tidak lagi melihat ujian hanya sebagai sesuatu yang harus segera dihilangkan. Kita mulai melihatnya sebagai kesempatan untuk mendekat kepada Allah.
Kita belajar bersabar.
Kita belajar salat dengan lebih sungguh-sungguh.
Kita belajar berdoa dengan lebih jujur.
Kita belajar menangis di hadapan Allah.
Dan kita belajar percaya bahwa:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
Mungkin hari ini kita belum melihat kemudahannya.
Namun tugas kita bukan mengetahui kapan pertolongan itu datang.
Tugas kita adalah tetap berjalan bersama Allah sampai pertolongan itu datang.
Terkadang, jalan yang paling berat justru menjadi jalan yang membawa seorang hamba paling dekat kepada Rabb-nya.
Renungkan
Jika hari ini hidup terasa berat, tanyakan kepada diri sendiri:
- Apakah kesulitan ini membuatku semakin dekat atau semakin jauh dari Allah?
- Apakah aku sudah benar-benar meminta pertolongan kepada Allah?
- Apakah aku sudah bersabar dalam menjalankan kewajiban?
- Apakah aku masih percaya bahwa di balik kesulitan ada kemudahan?
- Kepada siapa selama ini aku mengadukan kesedihanku?
Semoga ketika ujian datang, kita bukan hanya menjadi orang yang mampu bertahan, tetapi menjadi orang yang semakin dekat dengan Allah karena ujian tersebut.
Sumber:
Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān — Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di.
Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm — Ismail bin Umar Ibnu Katsir.
Jāmi’ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān — Muhammad bin Jarir ath-Thabari.
Mafātīḥ Tadabbur al-Qur’ān wan-Najāḥ fil-Ḥayāh — Khalid bin Abdul Karim al-Lahim.