Nasihat dalam Menghadapi Kerabat yang Menjadi Penyebab Timbulnya Masalah dan Kesulitan

Pertanyaan:

Saudariku telah menyebabkan banyak masalah dan penderitaan bagi saya dan keluarga saya, hampir setiap hari. Ia telah banyak menzalimi kami, hingga saya sampai pada tahap membenci rumah kami sendiri dan selalu menunggu kesempatan untuk keluar darinya.

Saya juga mulai membencinya dan tidak suka berbicara dengannya. Bahkan melihat wajahnya pun sudah membuat saya merasa tidak nyaman. Saya berpikir untuk memutuskan hubungan dengannya, tetapi saya tahu bahwa hal itu haram, dan itulah satu-satunya hal yang menghalangi saya untuk melakukannya.

Saya ingin mendapatkan nasihat. Bagaimana sebaiknya saya bersikap terhadapnya?

Jawaban

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah ﷺ. Amma ba‘du:

Saudariku yang mulia, kami memohon kepada Allah Ta‘ala agar melapangkan dadamu, memperbaiki keadaanmu, menyatukan hati kalian, menganugerahkan ketenangan dan kasih sayang, serta menjadikan rumah-rumah kaum Muslimin dipenuhi cinta dan rahmat.

Dari pesanmu terlihat bahwa kamu sedang mengalami kemarahan dan kelelahan secara emosional, hingga sampai pada tahap merasa tidak nyaman terhadap saudaramu, ingin menjauh darinya, bahkan berpikir untuk memutus hubungan. Tidak diragukan bahwa masalah yang terus terjadi di dalam keluarga termasuk perkara yang sangat melelahkan jiwa, karena seseorang tidak bisa begitu saja menjauh dari keluarganya sebagaimana ia menjauh dari orang lain.

Namun sebelum kita menilai keadaan ini atau mengambil keputusan yang mungkin akan kita sesali, hendaknya kita bersikap adil dengan mengevaluasi diri sebagaimana kita mengevaluasi kesalahan orang lain. Tidak mungkin seseorang memberikan penilaian yang benar hanya berdasarkan cerita dari satu pihak. Bisa jadi saudaramu memang telah berbuat salah dan menzalimimu, tetapi bisa juga kamu memiliki bagian kesalahan dalam memahami sebagian keadaan atau dalam cara berinteraksi dengannya. Bahkan, bisa jadi kedua hal tersebut terjadi secara bersamaan.

Pertama, kami menasihatimu agar selalu menghadirkan keadilan dalam hatimu. Allah Ta‘ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri.”

Allah juga berfirman: “Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”

Kedua, jangan menjadikan perasaan semata sebagai tolok ukur dalam menilai keadaan. Wajar jika seseorang merasa marah atau tidak suka ketika mendapatkan perlakuan yang menyakitkan. Namun, perasaan tidak selalu menjadi bukti bahwa seluruh kesimpulan yang kita ambil sudah benar.

Cobalah bertanya kepada dirimu dengan tenang:

  • Mungkinkah aku salah memahami sebagian kejadian?
  • Mungkinkah aku menganggap suatu perbuatan dilakukan dengan sengaja, padahal ada penafsiran lain?
  • Apakah aku lebih sering mengingat kejadian buruk daripada kejadian baik?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan berarti menafikan adanya kezaliman jika memang benar terjadi. Namun, hal itu dapat membantumu melihat persoalan dengan lebih seimbang dan adil.

Ketiga, bedakan antara kezaliman yang nyata dan perbedaan karakter. Tidak semua hal yang membuat seseorang merasa terganggu merupakan sebuah kezaliman. Bisa jadi setiap orang memiliki karakter berbeda dalam berbicara, mengungkapkan perasaan, memberikan kritik, ataupun dalam tingkat sensitivitasnya.

Namun di sisi lain, jangan pula menyebut suatu kezaliman sebagai sekadar “perbedaan karakter” jika memang terdapat pelanggaran hak atau tindakan menyakiti yang dilakukan berulang kali. Hikmahnya adalah mampu membedakan keduanya.

Keempat, introspeksilah sebelum menyalahkan orang lain. Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah amal kalian sebelum amal kalian ditimbang.”

Tanyakan kepada dirimu dengan jujur:

  • Apakah terkadang aku memancing emosinya?
  • Apakah aku membalas kesalahannya dengan kesalahan yang lebih besar?
  • Apakah aku selalu memahami perkataannya dengan prasangka yang paling buruk?
  • Apakah aku memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi terhadapnya, sehingga ketika tidak sesuai harapan, hal itu berubah menjadi kemarahan dan kebencian?

Mengakui kesalahan diri bukanlah kelemahan. Justru itu merupakan tanda kekuatan iman dan kedewasaan.

Kelima, jangan biarkan kebencian menetap di dalam hatimu. Sebuah masalah yang menyakitkan bisa berkembang menjadi pikiran yang terus-menerus tertuju kepada orang yang menyakiti kita. Akhirnya, orang tersebut menjadi pusat perhatian dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini justru lebih banyak melelahkan diri sendiri daripada menghukum orang lain.

Allah Ta‘ala berfirman: “Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya dari Allah.”

Memaafkan bukan berarti mengingkari kezaliman atau merelakannya. Namun, memaafkan berarti tidak membiarkan hati terus menjadi tawanan dari kezaliman tersebut.

Keenam, perlakukan saudaramu dengan adil, bukan berdasarkan reaksi emosional. Jika saudaramu melakukan kesalahan, jangan sampai hal itu mendorongmu untuk menzaliminya, menggunjingnya, atau mengurangi hak-haknya. Di antara haknya yang paling penting adalah hak sebagai kerabat untuk tetap disambung silaturahminya.

Jika ia melakukan kebaikan dalam suatu keadaan, akuilah kebaikan tersebut. Seorang mukmin tetap berlaku adil, bahkan kepada orang yang tidak ia sukai.

Nabi ﷺ bersabda: “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”

Di antara bentuk kekuatan jiwa adalah kemampuan seseorang mengendalikan perilakunya sehingga tindakannya tidak dikendalikan oleh kemarahan.

Ketujuh, perbaikilah sebagian pemikiran yang justru memperbesar penderitaanmu. Seseorang mungkin berkata dalam dirinya:

  • “Aku tidak seharusnya mengalami hal seperti ini.”
  • “Aku tidak akan bisa tenang selama dia masih ada.”
  • “Aku harus menghukumnya atau memutus hubungan dengannya.”

Pikiran-pikiran seperti ini justru dapat memperbesar rasa sakit.

Sebaliknya, tanamkan pemikiran yang lebih seimbang: “Aku tidak menyukai kezaliman ini dan tidak meridainya. Namun, ini adalah bagian dari ujian kehidupan. Aku akan menghadapinya dengan cara yang diridai Allah.”

Katakan pula kepada dirimu: “Dia memiliki hak sebagai kerabat, dan aku juga memiliki hak untuk membuat batasan agar gangguan tidak terus berlanjut, tanpa harus memutus silaturahmi atau menzaliminya.”

Allah Ta‘ala berfirman: “Bersabarlah, dan kesabaranmu itu tidaklah terlaksana kecuali dengan pertolongan Allah.”

Kedelapan, buatlah batasan tanpa memutus silaturahmi. Tidak dituntut agar hubungan kalian selalu sempurna, dan kamu juga tidak harus menanggung setiap bentuk gangguan. Namun, memutus hubungan secara total juga bukan solusi.

Jadikan hubungan kalian berada dalam batas-batas yang dibenarkan syariat: mengucapkan salam, berbicara dengan baik, saling membantu ketika diperlukan, mengurangi interaksi yang berpotensi menimbulkan pertengkaran, dan meninggalkan perdebatan yang tidak bermanfaat.

Hal ini lebih dekat kepada sikap bijaksana, menjaga hak silaturahmi sekaligus melindungi diri dari kelelahan yang semakin berat.

Kesembilan, lihatlah saudaramu dengan pandangan kasih sayang, bukan dengan pandangan yang selalu membenarkan kesalahannya. Bisa jadi di balik perilaku buruk seseorang terdapat kebodohan, kelemahan, kondisi tertentu, atau pengalaman hidup yang berat.

Memahami sebab bukan berarti membenarkan kesalahan. Namun, memahami hal tersebut dapat membantu mengurangi kemarahan dan membuat hati lebih dekat kepada sikap memaafkan dan memperbaiki keadaan.

Kesepuluh, jadikan tujuan utamamu adalah mencari keridaan Allah, bukan memenangkan ego diri.

Tanyakan kepada dirimu: “Apa yang Allah ridai dariku dalam keadaan seperti ini? Apakah aku harus memperbesar perselisihan, ataukah aku harus bersabar, berlaku adil, dan berbuat baik?”

Allah Ta‘ala berfirman: “Orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Nabi ﷺ juga bersabda: “Orang yang menyambung silaturahmi bukanlah orang yang sekadar membalas kebaikan, tetapi orang yang apabila hubungan kekerabatannya diputus, ia tetap menyambungnya.”

Menyambung silaturahmi bukan berarti menerima kezaliman atau diam terhadapnya. Namun, jangan sampai kezaliman orang lain membuat kita meninggalkan perintah Allah untuk menjaga hubungan kekerabatan.

Pada akhirnya, kami menasihatimu untuk mengganti pertanyaan: “Seberapa banyak kesalahan yang telah dilakukan saudaraku?”

dengan pertanyaan: “Apa yang dapat aku lakukan agar sikapku di hadapan Allah menjadi lebih benar, hatiku lebih tenang, dan hubungan kami menjadi tidak terlalu tegang?”

Inilah pertanyaan yang jawabannya berada dalam kendalimu. Adapun mengubah saudaramu, itu bukanlah sesuatu yang berada di tanganmu. Itu berada di tangan Allah سبحانه وتعالى.

Maka, berdoalah kepada-Nya agar memperbaiki hatimu dan hatinya, menyatukan kalian, menganugerahkan akhlak yang baik kepada kalian, dan menjadikan apa yang kamu alami sebagai sebab terangkatnya derajatmu serta terhapusnya dosa-dosamu.

Semoga Allah memperbaiki hubungan di antara kalian, menganugerahkan ketenangan dan kasih sayang, serta menyatukan hati kalian di atas ketaatan kepada-Nya.

Wallahu a‘lam.

Sumber: DIterjemahkan dari https://islamqa.info/ar/answers/465438/