Amalan pada 10 Awal Bulan Dzulhijjah Dapat Menandingi Pahal Jihad Di Jalan Allah! Bagaimana Bisa?

Saat ini kita ummat Islam telah memasuki awal bulan dzulhijjah, yang mana bulan dzulhijjah termasuk salah satu bulan haram (bulan yang Allah sucikan). Namun tidak banyak ummat Islam yang mengetahui tentang keutamaan bulan dzulhijjah sendiri, terkhusus pada 10 hari pertama bulan ini.

Pada dasarnya kita hanya mengetahui bulan dzulhijjah adalah bulan dimana dilaksanakannya haji ke baitullah, bulan dimana ummat Islam berhari raya haji, bulan dimana ummat Islam melakukan ritual ibadah berupa qurban.
Maka oleh karena itu, pada kesempatan kali ini penulis bermaksud menjelaskan keutaaman bulan dzulhijjah, yang mana amalan pada bulan ini dapat melebihi pahal Jihad di jalan Allah.
Berikut penjelasannya.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan keutamaan 10 hari awal bulan dzuhijjah dengan menjelaskan tafsir surat Al Fajr : 1-2

وَالْفَجْرِ (1) وَلَيالٍ عَشْرٍ (2)
“Demi waktu fajar dan malam yang sepuluh.” (QS: Al-Fajr: 1-2)

“Adapun waktu Fajr yang dimaskud adalah waktu subuh; Ali, Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid dan As-Sadi berkata, dari Masruq, Muhammad bin Ka’ab dan Mujahid: maksud fajr ini adalah hari berqurban secara khusus, dan ia adalah akhir penutup malam yang 10 di bulan dzulhijjah, dan juga dikatan artian dari fajr itu adalah sholat yang dilaksanakan waktu itu, seperti yang dikatakan oleh Ikrimah, dan juga dikatakan maskudnya adalah terkumpulnya seluruh waktu siang, dan ini adalah riwayat dari Ibnu Abbas. Serta maksud dari malam yang sepuluh pada surat Al Fajr adalah 10 malam pertama di bulan dzulhijjah. Seperti halnya yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Az-Zubair, Mujahid dan salah seorang dari kalangan salaf (Sahabat Nabi, Tabi’in dan Tabi’it tabi’in) maupun khalaf (ulama di zaman setelah genarasi sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in).” (Tafsir Ibnu Katsir 8/390)

Adapun amalan yang utama dilakukan pada 10 awal bulan dzulhijjah adalah

1. Dianjurkannya memperbanyak takbir, tahmid, tahlil dan berbagai dzikir yang lain

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ : ” وَاذكُْرُوا الَّلََّ فِِ أَيَّمٍَّ مَعْلُومَاتٍ: أَيَّمَُّ العَشْرِ، وَالَأيَّمَُّ الَمعْدُودَاتُ : أَيَّمَُّ التَّشْرِيقِ ” وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ، وَأَبُو هُرَيْ•رَةَ: «يَرَُْجَانِ إِلََ السُّوقِ فِِ أَيَّمَِّ العَشْرِ يُكَبِِاَّنِ، وَيُكَبُِِّ النَّاسُ بِتَكْبِيِهِْاَِ» وَكَبََّّ مَُحمَّدُ بْنُ عَلِيٍِ خَلْفَ النَّافِلَة
Ibnu Abbas berkata: “Dan berdzikirlah kamu kepada Allah pada hari yang telah ditentukan: 10 hari awal bulan dzuhijjah, dan pada beberapa hari yang berbilang: hari-hari tasyriq, dan adapun dahulu Ibnu Umar dan Abu Hurairah mereka berdua keluar ke pasar di 10 hari pertama bulan dzulhijjah mereka berdua bertakbir, dan semuanya orang yang ada di pasar juga ikut bertakbir dengan takbir mereka berdua. Dan Muhammad bin Ali juga bertakbir di akhir Nafilah.” (HR. Imam Bukhari dalam bab keutamaan hari tasyriq, shahih bukhari 2/381 dan dishahihkan Al-Albani dalam Al-Irwa’: 651)

2. Dianjurkan memperbanyak amal sholeh dan lebih meningkatkannya

Dari Ibnu Abbas – Radhiyallahu ‘anhuma – berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda -: Tidak ada amalan sholeh yang lebih dicintai oleh Allah dari pada amalan sholeh pada 10 hari ini, yaitu 10 awal bulan dzulhijjah, para sahabat berkata: tidak juga jihad di jalan Allah? Rasulullah menjawab: tidak juga jihad di jalan Allah kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya untuk berjihad di jalan Allah lalu tidak ada yang kembali dari keduanya.” (HR. Bukhari dalam shahih bukhari, no.926 dan HR. Tirmidzi, no.757).

Amal sholeh yang dimaksud dalam hadits ini adalah berpuasa, membaca al-Qur’an, bersedekah, memperbanyak shalat sunnah serta yang lainnya.

3. Berpuasa pada hari arafah tanggal 9 dzulhijjah
Dan dari Abu Qatadah – Radhiyallahu ‘anhu – berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda -: “Puasa pada hari ‘arafah akan menghapuskan dosa-dosa selama dua tahun, setahun yang lalu dan setahun berikutnya, dan puasa pada hari asyuro’ akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Ahmad, no.22588 dan dishahihkan Al-Albani dalam Al-Irwa’: 955)