Penceramah: Ust. Abdul Latif, Lc.
Ketika manusia diuji dengan kesulitan, ia cenderung lebih mudah menghadirkan hati kepada Allah ﷻ. Doanya menjadi lebih khusyuk, sederhana, namun penuh penghayatan, bahkan disertai air mata. Sebaliknya, saat berada dalam kondisi nyaman dan penuh kenikmatan, hati sering lalai sehingga sulit khusyuk dalam berdoa.
Allah ﷻ mengingatkan bahwa hidup yang terlalu lama dalam kenikmatan tanpa ujian dapat menyebabkan hati menjadi keras, sebagaimana yang terjadi pada umat terdahulu.
Ramadan menjadi sarana latihan untuk melembutkan hati. Dengan menahan lapar dan dahaga, seorang Muslim belajar merasakan kesulitan, sehingga lebih mudah tunduk, khusyuk, dan dekat kepada Allah. Dalam kondisi lapar, ibadah terasa lebih ringan dibandingkan saat kenyang.
Di antara penyebab kerasnya hati:
- Terlalu lama hidup dalam kenyamanan tanpa ujian
- Jauh dari nasihat dan majelis ilmu
Sebaliknya, hati akan menjadi lembut jika sering mendapatkan peringatan, nasihat, serta terbiasa mengingat Allah.
Karena itu, penting untuk mengambil hikmah dari ujian, menjaga kedekatan dengan Allah, serta rutin menghadiri majelis ilmu agar hati tetap hidup dan tidak menjadi keras.