Setiap orang tua tentu berharap memiliki anak yang baik, penurut, dan membanggakan. Namun dalam perjalanan mendidik, tidak sedikit yang merasa kecewa ketika anak menunjukkan perilaku yang tidak sesuai harapan. Di sinilah Islam mengajak kita untuk kembali pada satu konsep mendasar yang sering terlupakan, yaitu fitrah.
Dalam Prophetic Parenting, Dr. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid menekankan bahwa memahami fitrah anak adalah kunci utama keberhasilan pendidikan. Tanpa pemahaman ini, orang tua mudah bersikap berlebihan, tergesa-gesa, bahkan keliru dalam mengambil keputusan.
Setiap Anak Lahir dalam Keadaan Fitrah
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, lalu orang tuanyalah yang menjadikannya menyimpang atau tetap berada di atas kebaikan. Hadits ini mengandung pesan yang sangat dalam: anak membawa potensi kebaikan sejak lahir, bukan keburukan.
Fitrah ini mencakup kecenderungan untuk mengenal Allah, mencintai kebenaran, dan menyukai kebaikan. Namun fitrah tersebut bersifat rapuh dan membutuhkan penjagaan. Ia bisa tumbuh subur atau justru rusak, tergantung lingkungan yang mengelilinginya.
Karena itu, Islam tidak pernah menyalahkan anak secara mutlak. Tanggung jawab terbesar justru berada pada orang dewasa di sekitarnya.
Anak Bukan Kertas Kosong, Tapi Juga Bukan Orang Dewasa Mini
Kesalahan umum dalam mendidik anak adalah memandang anak sebagai:
- kertas kosong yang bisa diisi sesuka hati, atau
- orang dewasa kecil yang dituntut berpikir dan bersikap matang
Islam menolak kedua pandangan ini.
Anak memiliki potensi bawaan, tetapi juga memiliki keterbatasan sesuai tahap usianya. Rasulullah ﷺ sangat memahami hal ini. Beliau tidak membebani anak dengan tuntutan di luar kemampuannya, namun juga tidak membiarkan fitrah mereka terabaikan.
Pendidikan yang benar adalah pendidikan yang selaras dengan tahap perkembangan anak, bukan sekadar memenuhi ambisi orang tua.
Kesalahan Anak Adalah Bagian dari Proses Belajar
Dalam Prophetic Parenting dijelaskan bahwa kesalahan anak bukan tanda kegagalan pendidikan, melainkan bagian dari proses tumbuh dan belajar. Anak belajar mengenal batas, benar dan salah, melalui pengalaman.
Rasulullah ﷺ tidak memperlakukan kesalahan anak sebagai aib. Beliau tidak mempermalukan, tidak membentak, dan tidak merusak harga diri anak. Sebaliknya, beliau membimbing dengan sabar dan bijaksana.
Sikap inilah yang membuat anak merasa aman untuk belajar dan berkembang.
Lingkungan adalah Penentu Arah Fitrah
Fitrah anak ibarat benih. Benih yang baik pun bisa mati jika ditanam di tanah yang rusak. Lingkungan rumah, pergaulan, dan kebiasaan sehari-hari sangat menentukan arah perkembangan anak.
Anak yang tumbuh di lingkungan penuh cinta, adab, dan iman akan lebih mudah mempertahankan fitrahnya. Sebaliknya, anak yang tumbuh di lingkungan penuh kemarahan, kebohongan, dan kelalaian akan mengalami penyimpangan fitrah, meskipun ia terlahir baik.
Karena itu, Islam sangat menekankan perbaikan lingkungan, bukan hanya perbaikan anak.
Orang Tua sebagai Penjaga Fitrah
Dalam Islam, orang tua bukan pemilik anak, melainkan penjaga amanah. Anak bukan milik mutlak orang tua, tetapi titipan Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Dr. Suwaid menjelaskan bahwa tugas utama orang tua bukan mencetak anak sesuai keinginannya, tetapi menjaga dan mengarahkan fitrah anak agar tetap lurus.
Ini membutuhkan kesabaran, ilmu, dan kesadaran bahwa setiap anak unik. Metode yang berhasil pada satu anak belum tentu cocok bagi anak lainnya.
Bahaya Merusak Fitrah Anak
Tanpa disadari, fitrah anak sering rusak oleh:
- Tuntutan berlebihan
- Perbandingan dengan anak lain
- Kata-kata kasar dan merendahkan
- Pendidikan yang hanya mengejar prestasi
Islam memandang semua ini sebagai bentuk ketidakadilan terhadap anak. Rasulullah ﷺ mengingatkan agar orang tua berlaku adil, lembut, dan bijaksana dalam mendidik.
Merusak fitrah berarti merusak masa depan anak, bahkan masa depan umat.
Menumbuhkan Fitrah dengan Kasih Sayang dan Keteladanan
Fitrah tidak tumbuh dengan paksaan, tetapi dengan kasih sayang dan keteladanan. Anak yang melihat kebaikan setiap hari akan cenderung mencintai kebaikan itu.
Rasulullah ﷺ tidak banyak berteori, tetapi beliau menghadirkan Islam dalam keseharian. Inilah pendidikan yang hidup, bukan sekadar konsep.
Pelajaran Penting bagi Orang Tua
Dari pembahasan ini, kita bisa mengambil beberapa pelajaran:
- Anak terlahir membawa potensi kebaikan
- Kesalahan anak adalah bagian dari proses belajar
- Lingkungan sangat menentukan arah fitrah
- Orang tua adalah penjaga, bukan penguasa
- Pendidikan harus sesuai tahap perkembangan anak
Inilah inti dari pendidikan profetik yang diajarkan Rasulullah ﷺ.
Penutup: Menjaga Amanah Terbesar
Anak adalah amanah terbesar dalam hidup orang tua. Menjaga fitrah anak berarti menjaga masa depan dunia dan akhiratnya. Pendidikan yang benar bukan yang mematikan potensi, tetapi yang menghidupkan fitrah.
Rasulullah ﷺ telah memberi teladan yang sempurna. Tinggal bagaimana kita mau meneladaninya dalam kehidupan sehari-hari.
Sumber: Dr. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, Prophetic Parenting: Cara Nabi Mendidik Anak