Di Balik Musibah Ada Hikmah: Kewajiban Seorang Mukmin Saat Ujian Menimpa

Seseorang yang ditimpa musibah hendaknya sabar dan menyakini bahwa apa yang terjadi adalah ketentuan Allah yang tidak bisa ditolak dan dihindari. Ini sesuai dengan firman Allah :

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Tidak ada satu musibahpun menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mafuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Qs. Al-Hadid: 22).

Kalau seseorang sudah mengetahui bahwa semuanya yang terjadi adalah taqdir yang sudah ditentukan Allah, maka dia tidak berduka cita secara berlebihan terhadap yang luput darinya dan tidak boleh putus asa dari kasih sayang Allah, sebagaimana di dalam firman-Nya :

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,” ( Qs. Al-Hadid : 23 )

Dan apa yang ditakdirkan Allah untuk hamba-Nya adalah baik dan terdapat banyak hikmah yang bisa dipetik darinya. Sebagaimana yang tersebut di dalam hadist Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

عَجَباً لأمْرِ المُؤمنِ إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خيرٌ ولَيسَ ذلِكَ لأَحَدٍ إلاَّ للمُؤْمِن : إنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكانَ خَيراً لَهُ ، وإنْ أصَابَتْهُ ضرَاءُ صَبَرَ فَكانَ خَيْراً لَهُ

“Sangat menakjubkan urusan orang beriman, sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Dan tidaklah hal tersebut terjadi kecuali bagi orang beriman. Apabila mendapat kesenangan dia bersyukur, maka bersyukur itu baik baginya. Dan apabila ditimpa kesusahan dia bersabar maka bersabar itu baik baginya.” (HR. Muslim)

Kadang apa yang kita benci, ternyata membawa kebaikan bagi kita dikemudian hari. Sebaliknya kadang yang kita senangi, ternyata membawa bencana bagi kita di kemudian hari. Hal ini sesuai dengan firman Allah :

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah: 216)

Ibnu Abi Dunya Al-Baghdadi ( W.281) di dalam kitab Al-I’tibar wa A’qab as-Surur wa Al-Ahzan ( hlm. 29) menyebutkan bahwa Abdullah bin Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata :

لِكُلِّ فَرْحَةٍ تَرْحَةٌ، وَمَا مُلِئَ بَيْتٌ فَرَحًا إِلَّا مُلِئَ تَرَحًا،

“Pada setiap kegembiraan terdapat kesedihan. Tidaklah sebuah rumah dipenuhi dengan kegembiran melainkan rumah itu dipenuhi juga dengan kesedihan.”

Wallahu A’lam.