Di antara penyakit paling berbahaya yang menimpa banyak kaum Muslimin hari ini bukanlah kemiskinan harta, bukan pula minimnya sarana, tetapi rendahnya himmah (semangat dan tekad jiwa). Banyak yang beriman, namun lemah dalam amal. Banyak yang tahu kebenaran, tetapi malas menempuh jalannya. Banyak yang berharap surga, namun langkahnya lamban dan penuh penundaan.
Islam tidak mendidik umatnya menjadi pribadi yang setengah-setengah. Islam membentuk manusia yang bercita tinggi, berjiwa besar, dan berorientasi akhirat. Inilah yang oleh para ulama disebut sebagai al-himmah al-‘aliyah — semangat tinggi yang mengangkat derajat seorang hamba di dunia dan akhirat.
Dr. Muhammad Ibrahim Al-Hamad dalam kitabnya Al-Himmah Al-‘Aliyah: Mu‘awwiqātuha wa Muqawwimātuha menjelaskan bahwa himmah bukan sekadar motivasi sesaat, tetapi kekuatan batin yang menentukan arah hidup seorang Muslim.
Apa Itu Himmah?
Secara bahasa, himmah bermakna keinginan kuat yang mendorong seseorang untuk mencapai tujuan. Namun dalam makna syar’i, himmah bukan sekadar ambisi, melainkan tekad hati yang terikat dengan nilai kebenaran dan keridhaan Allah.
Para ulama mendefinisikan himmah sebagai: “Gerakan hati menuju tujuan yang dicintainya.”
Jika tujuan itu rendah, maka rendah pula himmahnya. Namun jika tujuan itu tinggi—surga, ridha Allah, dan kemuliaan agama—maka tinggi pula himmahnya.
Karena itu, ukuran himmah seseorang dapat dilihat dari apa yang ia kejar dalam hidupnya:
- Apakah hanya kenyamanan dunia?
- Ataukah keselamatan dan kemuliaan akhirat?
Himmah ‘Aliyah dalam Pandangan Islam
Islam datang untuk mengangkat manusia dari tujuan-tujuan rendah menuju tujuan yang mulia. Allah ﷻ berfirman:
“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang-orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin: 26)
Ayat ini tidak berbicara tentang perlombaan dunia, tetapi perlombaan menuju ampunan, surga, dan derajat tinggi di sisi Allah.
Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Jika kalian meminta kepada Allah, mintalah surga Firdaus, karena ia adalah surga yang paling tinggi.” (HR. Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa Islam tidak mengajarkan cita-cita setengah-setengah. Bahkan dalam berdoa pun, seorang Muslim diarahkan untuk memiliki himmah tertinggi.
Perbedaan Himmah ‘Aliyah dan Ambisi Duniawi
Penting untuk membedakan antara himmah ‘aliyah dan ambisi dunia. Keduanya terlihat mirip, namun hakikatnya sangat berbeda.
Himmah ‘Aliyah:
- Tujuannya akhirat
- Dunia dijadikan sarana, bukan tujuan
- Melahirkan keikhlasan dan ketundukan
- Semakin dekat kepada Allah, semakin tinggi semangatnya
Ambisi Duniawi:
- Tujuannya kedudukan, harta, atau pujian
- Mudah putus asa jika gagal
- Melahirkan kesombongan dan iri hati
- Semangat naik turun sesuai keuntungan dunia
Seseorang bisa tampak sangat sibuk dan bersemangat, tetapi sebenarnya himmahnya rendah karena hanya berputar pada dunia.
Mengapa Himmah Menentukan Nilai Amal?
Dr. Al-Hamad menegaskan bahwa amal seseorang dinilai bukan hanya dari bentuknya, tetapi dari semangat dan tujuan di baliknya. Dua orang bisa melakukan amal yang sama, namun nilainya di sisi Allah sangat berbeda karena perbedaan himmah.
Seseorang yang berhimmah tinggi:
- Tidak puas dengan amal minimal
- Selalu ingin memperbaiki kualitas ibadah
- Merasa waktunya terlalu berharga untuk disia-siakan
- Tidak cepat puas dengan pencapaian
Sebaliknya, orang yang berhimmah rendah:
- Cukup dengan kewajiban paling minimal
- Mudah futur dan malas
- Banyak menunda amal
- Merasa “sudah cukup baik”
Padahal, amal yang sedikit namun lahir dari himmah tinggi lebih dicintai Allah daripada amal banyak yang lahir dari kelalaian.
Teladan Himmah ‘Aliyah dari Generasi Terbaik
Para sahabat Nabi ﷺ adalah contoh nyata manusia dengan himmah tertinggi. Mereka hidup sederhana, tetapi cita-citanya menembus langit.
- Abu Bakar Ash-Shiddiq berlomba dalam infak hingga mengosongkan hartanya.
- Umar bin Khattab menangis karena takut tidak maksimal dalam amanah.
- Ibnu Mas‘ud berkata: “Aku membenci melihat seseorang menganggur, tidak dalam urusan dunia dan tidak pula akhirat.” Himmah mereka bukan karena dunia, tetapi karena kesadaran akan besarnya tanggung jawab di hadapan Allah.
Refleksi untuk Kita Hari Ini
Pertanyaan penting yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri:
- Untuk apa sebenarnya aku hidup?
- Apa target akhir hidupku?
- Jika ajal datang hari ini, sudah sejauh mana aku melangkah?
Himmah tidak akan lahir pada hati yang lalai. Ia tumbuh pada jiwa yang sadar bahwa hidup ini singkat dan akhirat sangat dekat.
Penutup
Himmah ‘Aliyah adalah ruh dari kehidupan seorang Muslim. Tanpanya, iman menjadi lemah, amal menjadi kering, dan hidup kehilangan arah. Dengan himmah yang tinggi, keterbatasan menjadi kecil, rintangan terasa ringan, dan jalan menuju Allah terasa bermakna.
Pada seri berikutnya, kita akan membahas lebih dalam:
Mengapa himmah memiliki kedudukan sangat penting dalam membentuk pribadi mukmin dan arah hidupnya.
Sumber:
Al-Himmah Al-‘Aliyah: Mu‘awwiqātuha wa Muqawwimātuha, Muhammad Ibrahim Al-Hamad
Siyar A‘lam An-Nubala – Adz-Dzahabi