Wallaahu ghaalibun ‘alaa amrini (Allah Berkuasa atas Urusan-Nya)

Kalimat Wallahu ghaalibin ‘ala amirihi (والله غالب على أمره) yang artinya Allah berkuasa atas urusanNya terdapat dalam surah Yusuf ayat ke-21

عَسَىٰ أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا ۚ وَكَذَٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ وَلِنُعَلِّمَهُ مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ ۚ وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَىٰ أَمْرِهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada isterinya: “Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak.” Dan demikian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir), dan agar Kami ajarkan kepadanya ta’bir mimpi. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.” (Qs. Yusuf: 21)

Pelajaran dan Makna:

Kalimat Wallahu ghaalibin ‘ala amirihi (والله غالب على أمره) yang artinya Allah berkuasa atas urusanNya mengandung pelajaran bahwa Allah merencanakan suatu kejadian dan tidak ada satupun yang mampu menghalanginya. Di dalam hadits disebutkan,

اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

“Ya Allah tidak ada yang dapat mencegah apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang mampu memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan bagi pemiliknya di depan siksa-Mu”  (HR. al-Bukhari)

Dalam kisah Yusuf, Allah berkuasa terhadap urusan-Nya dan ini terlihat di dalam beberapa peristiwa di bawah ini;

(1) Nabi Ya’kub melarang Yusuf untuk menceritakan mimpinya kepada saudara-saudaranya, tetapi Allah berkuasa atas urusan-Nya, Yusuf menceritakannya kepada mereka, maka terjadilah apa yang terjadi.

(2) Saudara-saudaranya hendak membunuh Yusuf, tetapi Allah berkuasa atas urusan-Nya, salah satu di antara mereka pada detik-detik terakhir, mengusulkan agar Yusuf dimasukkan ke dalam sumur saja, dan pendapat inilah yang akhirnya dijadikan keputusan mereka.

(3) Saudara-saudaranya membawa baju yang berlumuran darah sebagai bukti agar bapak mereka mempercayainya, tetapi Allah berkuasa atas urusan-Nya, ternyata mereka lupa menyobek baju tersebut, sehingga kelihatan sekali kebohongan mereka,

(4) Saudara-saudarnya menginginkan agar Yusuf lenyap dari pandangan mereka selamanya atau minimal menjadi budak dan hidupnya susah, tetapi Allah berkuasa atas urusan-Nya, justru para musafir datang membawa mereka ke Mesir, dan hidupnya menjadi nikmat dan mapan karena tinggal di istana pembesar Mesir,

(5) Nabi Ya’kub menginginkan Yusuf kembali pulang setelah bermain dengan saudara-saudarnya, tetapi Allah berkuasa atas urusan-Nya, Yusuf tidak kembali, kecuali hanya bajunya yang berlumuran darah.

(6) Pembesar Mesir menginginkan agar istrinya merawat Yusuf dengan baik dan menjaganya, tetapi Allah berkuasa atas urusan-Nya, istrinya justru mendzaliminya dan menfitnahnya.

(7) Zulaikha menginginkan  agar Yusuf mau mengikuti kemauannya untuk berbuat keji, tetapi Allah berkuasa atas urusan-Nya, Yusuf menolaknya dan tersobeklah bajunya dari belakang.

(8) Zulaikha mencoba menfitnah dan membalikkan fakta agar dirinya dibela oleh suaminya dan Yusuf sebagai orang yang tertuduh, tetapi Allah berkuasa atas urusan-Nya, justru sobekan baju belakang membuat suaminya membela Yusuf dan menyalahkan istrinya.

(9) Yusuf di dalam penjara ingin segera keluar dan meminta bantuan kepada temannya yang selamat, tetapi Allah berkuasa atas urusan-Nya, temannya justru malah lupa dengan pesan Yusuf, sehingga Yusuf tetap berada di dalam penjara beberapa tahun lagi.

(10) Raja ingin agar mimpinya bisa ditakwilkan oleh para pakar mimpi di dalam kerajaannya, tetapi Allah berkuasa atas urusan-Nya, mereka semua angkat tangan dan menyerah tidak bisa mentakwil mimpi raja yang aneh tersebut. Akhirnya, temannya teringat dengan keahlian Yusuf di dalam mentakwilkan mimpi.

(11) Raja meninginkan Kerajaan Mesir tidak ditimpa musim paceklik, tetapi Allah berkuasa atas urusan-Nya, Kerajaan Mesir ikut tertimpa musim paceklik yang berkepanjangan.

(12) Saudara-saudaranya menginginkan agar Benyamin yang bersama mereka, bisa kembali lagi ke kampung halamannya, tetapi Allah berkuasa atas urusan-Nya, Benyamin tidak bisa pulang karena kasus pencurian.

Pada ayat di atas terdapat beberapa makna yang bisa kita ambil,

Makna Pertama bahwa semua urusan itu diatur di langit bukan di bumi, dan yang mengatur hanya Allah saja, bukan yang lain. Hal ini dikuatkan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala,

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

 “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (Qs. al-A’raf: 54)

Makna kedua bahwa Allah memenangkan Yusuf. Dhamir (huwa) di situ menunjuk kepada Yusuf, bukan kepada Allah. Allah memenangkan Yusuf atas saudara-saudaranya.

Diringkas dari Buku Fashabrun Jamiil (Kesabaran yang Indah),  Dr. Ahmad Zain An-Najah, M.A.