Penceramah: Ust. Miftahul Ihsan, Lc
Setiap hari, kita beribadah: shalat lima waktu, berdoa, berdzikir, membaca Al-Qur’an. Namun, pernahkah kita bertanya… apakah ibadah itu masih memiliki ruh? Ataukah ia hanya tinggal gerakan, bacaan, dan rutinitas yang hampa dari makna? Dalam kajian yang menyejukkan hati ini, Ustadz Miftahul Ihsan, Lc. mengajak kita untuk kembali menyalakan nyawa dalam ibadah — agar setiap sujud dan doa benar-benar menghadirkan kedekatan dengan Allah ﷻ.
Beliau menjelaskan bahwa hakikat ibadah bukan sekadar amal lahiriah, tetapi juga keadaan hati yang tunduk, ikhlas, dan sadar akan kebesaran Allah. Banyak orang beribadah setiap hari, namun tidak semua merasakan kenikmatan di dalamnya. Inilah yang disebut “ibadah tanpa ruh”. Melalui penjelasan yang lembut dan penuh hikmah, Ustadz Miftahul Ihsan mengingatkan bahwa ruh ibadah terletak pada niat yang benar, keikhlasan, dan kekhusyukan hati. Tanpa itu, ibadah hanya menjadi gerakan fisik tanpa nilai spiritual.
Dalam ceramah ini, beliau juga mengupas bagaimana ruh ibadah dapat hadir ketika seorang hamba memahami makna dari setiap amal yang ia lakukan. Shalat bukan sekadar berdiri dan rukuk, melainkan dialog pribadi antara hamba dan Rabb-nya. Puasa bukan hanya menahan lapar, tapi menahan diri dari segala yang bisa mengotori jiwa. Zakat bukan hanya memberi harta, tapi memurnikan hati dari cinta dunia. Semua bentuk ibadah, bila disertai kesadaran dan cinta kepada Allah, akan hidup dan memberi ketenangan yang mendalam.
Ustadz Miftahul Ihsan menutup kajian ini dengan ajakan lembut untuk menghidupkan kembali ruh ibadah dalam keseharian. Caranya bukan dengan memperbanyak ritual, tetapi memperdalam rasa kehadiran hati dalam setiap amal. Ibadah bukan beban, melainkan bentuk cinta dan syukur kepada Allah. Ketika hati hidup, maka setiap ibadah menjadi sumber ketenangan, kekuatan, dan kebahagiaan sejati.
Kajian ini sangat cocok bagi siapa pun yang merasa ibadahnya mulai terasa kering dan kehilangan makna. Dengarkan, renungkan, dan biarkan setiap kalimatnya menjadi pengingat lembut bahwa ibadah sejati bukan sekadar dilakukan — tapi dihidupkan dengan ruh dan cinta kepada Allah ﷻ.