Larangan Memberikan Kesaksian Palsu

Allah SWT berfirman, “Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan yang dusta,” (Al-Hajj: 30).

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman, “Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya,” (Al-Furqaan: 72).

Dari Anas bin Malik r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. pernah ditanya tentang dosa-dosa besar?” Beliau bersabda, “Syirik kepada Allah, durhaka pada kedua orang tua, membunuh jiwa (tanpa hak) dan kesaksian palsu,” (HR Bukhari [2653] dan Muslim [88]). Dari Abu Bakrah r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, “Maukah kamu aku beritahu tentang dosa besar yang paling besar?” (Diucapkan sampai tiga kali). Mereka berkata, “Tentu saja wahai Rasulullah!” Rasul bersabda, “Syirik kepada Allah, durhaka pada kedua orang tua”, semula beliau bersandar lalu duduk bangkit sembari berkata, “Ingatlah, kesaksian palsu!” beliau terus mengulang-ulanginya sehingga kami berkata, “Semoga beliau diam” (HR Bukhari [2654] dan Muslim [87]).

Dalam bab ini telah diriwayatkan sejumlah hadits yang akan kami sebutkan dalam kitab al-Aiman (Sumpah-sumpah) Bab Kerasnya Pengharaman Sumpah Palsu.

Kandungan Bab:

  1. Kerasnya pengharaman kesaksian palsu, Allah swt menyertakan penyebutannya bersama dosa syirik kepada Allah, karena ia dapat membinasan dan termasuk dosa besar yang paling besar. 
  2. Pengharaman seluruh perkara yang termasuk kategori kesaksian palsu, yaitu menyebutkan sesuatu berbeda dengan sifat yang sebenarnya atau menangani sesuatu yang bukan merupakan keahliannya.

Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar’iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi’i, 2006), hlm. 2/424-426.