Adab Membaca Al-Qur’an

Adab membaca Al-Qur’an diantaranya sebagai berikut:

  • Jika hendak membaca Al-Qur’an, hendaklah dia membersihkan mulut dengan siwak atau lainnya. Pendapat yang lebih terpilih berkenan dengan siwak ialah menggunakan kayu Arak. Boleh juga dengan kayu-kayu lainnya atau dengan sesuatu yang dapat membersihkan, seperti kain kasar dan lainnya.

Adapun tentang penggunaan jari yang kasar ada tiga pendapat dikalangan pengikut Asy-Syafi’i. Pendapat yang lebih masyhur adalah tidak mendapat sunahnya. Kedua adalah dapat menghasilkan sunnahnya. Dapat sunnahnya jika tidak mendapat lainnya dan tidak boleh jika ada lainnya. Dan hendaklah dia bersihkan mulai dari sebelah kanan mulutnya dan berniat menjalankan sunahnya.

Salah seorang ulama berkata, hendaklah seseorang mengucapkan ketika bersiwak: “Allahumma baarik lii fiihi, ya arhamar rahimin.” Al-Mawardi seorang pengikut Asy-Syafi’i berkata: “diutamakan bersiwak pada bagian luar gigi dan dalamnya.”Siwak itu digosokkan pada ujung-ujung giginya dan bagian bawahgerahamnya serta bagian atasnya dengan lembut. Mereka berkata: “Hendaklah bersiwak menggunakan siwak yang sedang, tidak terlalu kering dan tidak terlalu basah. Jika terlalu kering, maka siwaknya dilembutkan dengan air. Tidaklah mengapa jika menggunakan siwak orang lain dengan izinnya. Manakala kalau mulutnya najis kerana darah atau lainnya, maka tidaklah disukai baginya membaca Al-Qur’an sebelum mencucinya.

Apakah itu haram? Ar-Rauyani, pengikut Asy-Syafi’i, mengambil kata-kata ayahnya: “Terdapat dua pendapat. Pendapat yang lebih kuat (sahih) ialah tidak haram.”

  • Diutamakan bagi orang yang membaca Al-Qur’an dalam keadaan suci. Jika membaca Al-Qur’an dalam keadaan berhadas, maka hukumnya harus berdasar ijma’ul muslimin. Hadits-hadits berkenaan dengan perkara tersebut sudah dimaklumi.

Immamul Haramain berkata: “Tidaklah boleh dikatakan dia melakukan sesuatu yang makruh, tetapi meninggal yang lebih utama.” Jika tidak menemukan air, dia bertayamum. Wanita mustahadhah dalam waktu yang dianggap suci mempunyai hukum yang sama dengan hukum orang yang berhadas.

Sementara orang yang berjunub dan wanita yang haid, maka haram atas keduanya membaca Al-Qur’an, sama saja satu ayat atau kurang dari satu ayat. Bagi keduanya diharuskan membaca Al-Qur’an di dalam hati tanpa mengucapkannya dan boleh memandang ke dalam mushaf.

Ijmak muslim mengharuskan bagi yang berjunub dan yang haid mengucapkan tasbih, tahlil, tahmid, takbir dan membaca shalawat atas Nabi s.a.w serta dzikir-dzikir lainnya. Para sahabat kami berkata, jika orang yang berjunub dan perempuan yang haid berkata: “Khudzil kitaaba biquwwatin” sedang tujuannya adalah selain Al-Qur’an, maka hukumnya boleh. Demikian pula hukumnya upaya yang serupa dengan itu.

Keduanya boleh mengucapkan: “Innaa lillahi wa innaa ilahi raaji’uun”. Ketika mendapat musibah, jika tidak bermaksud membaca Al-Qur’an. Para sahabat kami dari Khurasan berkata, ketika menaiki kendaraan, keduanya boleh mengucapkan:

Terjemahan: “Maha Suci Tuhan yang menundukkan kendaraan ini bagi kami dan tidaklah kami mampu menguasainya sebelum ini.” (QS Az-Zukhruf 43:13)  

Dan ketika berdo’a salah satu dari ayat al-qur’an yang terjemahnya: “Wahai Tuhan Kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari siksa neraka.” (QS Al-Baqarah 2:102)

Hukum tersebut berlaku selagi keduanya tidak bermaksud membaca Al-Qur’an. Imamul Haramain berkata, apabila orang yang berjunub mengucapkan: “Bismillah wal hamdulillah, maka jika dia bermaksud membaca Al-Qur’an, dia durhaka. Jika dia bermaksud berdzikir atau tidak bermaksud membaca apa-apa, dia tidak berdosa.

  • Membaca Al-Qur’an disunahkan di tempat yang bersih dan terpilih. Justru, sejumlah ulama menganjurkan membaca Al-Qur’an di masjid kerana ia meliputi kebersihan dan kemuliaan tempat serta menghasilkan keutamaan lain, yaitu Iktikaf. Maka setiap orang yang duduk di masjid patut beriktikaf, sama saja duduknya lama atau sebentar. Bahkan pada awal masuknya ke masjid sepatutnya dia berniat iktikaf. Adab ini patut diperhatikan dan disebarkan agar dikatahui oleh anak-anak ataupun orang awam kerana ia selalu diabaikan.

Manakala membaca Al-Qur’an di tempat mandi, maka para ulama salaf berlainan pendapat berkenaan dengan makruhnya. Sahabat-sahabat kami berpendapat, tidak dihukumkan makruh. Imam yang mulia Abu Bakar Ibnu Mundzir menukilnya dalam Al-Ayaraaf dari Ibrahim An-Nakha’I dan Malik dan itu jugalah pendapat Atha’.

Beberapa jamaah diantaranya Ali bin Abu Thalib r.a menghukumkannya makruh. Ibnu Abi Dawud meriwayatkan pendapat ini daripadanya. Ibnu Mundzir menceritakan dari sejumlah tabi’in, diantaranya Abu Wail Syaqiq bin Salamah, Asy-Sya’bi, Hasan Al-Bashri, Makhul dan Qabishah bin Dzuaib. Kami meriwayatkannya pula dari Ibrahim An-Nakha’i.

Para sahabat kami meriwayatkannya dari Abu Hanifah r.a Asy-Sya’bi berkata, makruh membaca Al-Qur’an di tiga tempat: Di tempat mandi, tempat buang air dan tempat penggilingan gandum.

Diriwayatkan dari Bau Maisarah, katanya: “Tidaklah disebut nama Allah s.w.t, kecuali di tempat yang baik.”

Sementara membaca Al-Qur’an di jalan, maka pendapat yang terpilih adalah boleh dan tidak makruh, jika pembacanya tidak lalai. Jika lalai, maka dihukumkan makruh sebagaimana Nabi s.a.w tidak menyukai membaca Al-Qur’an oleh orang yang mengantuk kerana takut keliru. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abu darda’ ra bahawa dia membaca Al-Qur’an di jalan.

Diriwayatkan oleh Umar bin Abdul Aziz rahimahullah bahawa dia mengizinkan membaca Al-Qur’an di jalan. Ibnu Abi Dawud berkata, diceritakan kepadaku oleh Abu Ar’Rabi’, katanya: Diberitahukan kepada kami oleh Ibnu Wahab, katanya: “Aku bertanya kepada Malik tentang orang yang sholat di akhir malam, kemudian keluar ke masjid dan masih tertinggal sedikit lagi dari surah yang dibacanya. Malik menjawab, “Aku tidak tahu pembacaan yang berlangsung di jalan. Hal itu makruh dan ini adalah isnad yang sahih dari Malik rahimahullah.

  • Diutamakan bagi pembaca Al-Qur’an di luar sembahyang supaya menghadap kiblat. Hal ini telah banyak disebut dalam beberapa hadits: “Sebaik-baik majlis adalah yang menghadap kiblat.” Hendaklah dia duduk dengan khusyuk dan tenang sambil menundukkan kepalanya dan duduk sendiri dengan adab baik dan tunduk seperti duduknya di hadapan gurunya, inilah yang paling sempurna.

Diharuskan baginya membaca sambil berdiri atau berbaring atau di tempat tidurnya atau dalam keadaan lainnya dan dia mendapat pahala, akan tetapi nilainya kurang dari yang pertama.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman yang artinya:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (keagungan Allah s.w.t) bagi orang-orang yang berakal. (Iaitu) orang-orang yang mengingat Allah s.w.t sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan Bumi…” (QS Ali-Imran 3:190-191)

Diriwayatkan dalam shahih Bukhari dan Muslim dari Aisyah:

“Bahawa Rasulullah s.a.w bersandar di pangkuanku ketika aku sedang haid dan beliau membaca Al-Qur’an.” (Riwayat Bukhari & Muslim)

Dalam suatu riwayat: “Beliau membaca Al-Qur’an sedang kepalanya

berada dipangkuanku.” Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari ra, katanya: “Aku membaca Al-Qur’an dalam sembahyangku dan membacanya di atas tempat tidurku.” Diriwayatkan dari Aisyah r.a, katanya: “Sungguh aku membaca hizibku

ketika aku berbaring di atas tempat tidurku.”

  • Jika hendak mulai membaca Al-Qur’an, maka dia memohon perlindungan dengan mengucapkan: A’uudzu billaahi minasy-syaithaanir rajiim (Aku Berlindung kepada Allah s.w.t dari Syaitan yang terkutuk).

Sebagian ulama salaf berkata: Ta’awwudz itu sepatutnya dibaca sesudah

membaca Al-Qur’an berdasarkan firman Allah s.w.t yang artinya: “Jika kamu membaca Al-Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah s.w.t dari syaitan yang terkutuk.” (QS An-Nahl 16:98)

  • Hendaklah orang yang membaca Al-Qur’an selalu membaca bismillahir Rahmaanir Rahiim pada awal setiap surah selain surah Bara’ah karena sebagian besar ulama mengatakan, ia adalah ayat, sebab ditulis didalam Mushaf. Basmalah ditulis di awal setiap surah, kecuali Bara’ah. Jika tidak membaca basmalah, maka dia meninggalkan sebagian Al-Qur’an menurut sebagian besar ulama.
  • Jika mulai membaca, hendaklah bersikap khusyuk dan merenungkan maknanya ketika membaca. Dalil-dalilnya terlalu banyak untuk dihitung dan sudah masyur serta terlalu jelas untuk disebut. Itulah maksud yang dikehendaki dan dengan demikian itu dada menjadi lapang serta hati menjadi tenang. Allah Azza wa jalla berfirman yang artinya:

“Apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an?” (QS An-Nisa’ 4:82)

Juga dalam ayat yang lain Allah berfirman:

“Ini adalah suatu Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkat supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya…” (QS Shaad 38:29)

Banyak hadits yang diriwayatkan berkenaan dengan perkara tersebut dan pendapat-pendapat ulama salaf tentang hal itu cukup masyur. Sejumlah ulama Salaf ada yang membaca satu ayat sambil merenungkannya dan mengulang-ulanginya sehingga pagi.

  • Hendaklah membaca Al-Qur’an dengan tartil. Para ulama telah sependapat atas anjuran melakukan tartil. Allah berfirman yang artinya: “Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil.” (QS Al-Muzzammil 73:4)
  • Hal yang perlu diperhatikan dan amat ditekankan adalah memuliakan Al-Qur’an dari hal-hal yang kadang-kadang diabaikan oleh sebagian orang yang lalai ketika membaca bersama-sama. Diantaranya menghindari tertawa, berbuat bising dan bercakap-cakap di tengah pembacaan, kecuali perkataan yang perlu diucapkan. Termasuk juga tidak boleh meletakkan Al-Qur’an di lantai tanpa ada alas atau tempat khusus untuk Al-Qur’an ketika hendak membacanya.

 

Sumber: At-Tibyan fii Adabi hamaltil Qur’an karya Imam An-Nawawi