Larangan Menutup Mulut dengan Sesuatu dalam Shalat

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, ia mengatakan, “Bahwasanya Rasulullah saw. melarang sadl dalam shalat dan melarang menutup mulutnya,” (Hasan, HR Abu Dawud [643], al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah [519], Ibnu Hibban [2353], al-Hakim [I/253] dan al-Baihaqi [II/242], at-Tirmidzi [378] dan Ahmad [II/295 dan 314]).

Kandungan Bab: 

  1. Para ulama berselisih pendapat tentang makna as-sadl sebagai berikut:
    1. As-Sadl adalah isbal, demikianlah yang dikatakan oleh al-Khaththabi. 
    2. Berkemul dengan sehelai kain dan memasukkan kedua tangan di dalamnya, lalu ia ruku’ dan sujud dalam keadaan demikian. Begitulah yang disebutkan oleh penulis kitab an-Nihaayah. 
    3. Meletakkan bagian tengah kain di atas kepala lalu menjulurkan kedua ujungnya ke kanan dan ke kiri tanpa meletakkannya di atas pundak. Inilah pendapat sejumlah ulama di antaranya al-Baihaqi, al-Harawi dalam kitab al-Ghariib, Abu Ishaq dalam kitab al-Muhadzdzab, asy-Syasyi, az-Zaila’i, Ibnu Qudamah dan pendapat yang dipilih oleh as-Suyuthi. 
    4. Imam asy-Syaukani menukil dalam kitab Nailul Authaar (II/68), dari al-‘Iraqi, bahwa kemungkinan yang dimaksud as-sadl di sini adalah menguraikan rambut ke dahi.

      Kemudian beliau berkata, “Boleh saja memaknai kata as-sadl dalam hadits ini kepada seluruh makna tersebut. Apabila as-sadl termasuk lafazh musytarak (banyak makna). Memaknai kata musytarak kepada seluruh makna-makna yang ada merupakan madzhab yang kuat (dalam ilmu ushul fiqih -pent.).”

      Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah dalam Syarhut Tirmidzi (II/217) mengatakan, “Zhahirnya yang benar adalah perkataan asy-Syaukani tadi.”

  2. Dilarang as-sadl dalam shalat berdasarkan zhahir hadits di atas, terlebih lagi tidak ada dalil yang memalingkannya kepada hukum makruh, sebab sebagian ahli ilmu memandang larangan di atas sebagai larangan dari sisi etika. 
  3. Orang-orang Yahudi suka melakukan as-sadl. Oleh sebab itu seharusnya kita menyelisihi mereka. 
  4. Tidak boleh shalat dengan mulut tertutup, kecuali bila menguap, ia harus menutup mulutnya dengan tangan ketika menguap berdasarkan hadits shahih, kami akan menyebutkannya pada bab berikut. 
  5. Menutup hidung juga dilarang, karena tidak dapat dibayangkan menutup hidung dalam shalat tanpa menutup mulut. Karena mulut berada di bawah hidung. Oleh sebab itu menutup hidung juga dilarang. Tidaklah tepat anggapan sebagian orang bahwa yang dilarang hanyalah menutup mulut, wallaahu a’lam.

Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar’iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi’i, 2006), hlm. 1/569-570.