Surah an-Nisaa’ 148, 153, 163, 166, dan 176

Ayat 148, yaitu firman Allah ta’ala,

“Allah tidak menyukai ucapan buruk , (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya . Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (an-Nisaa’: 148)

Sebab Turunnya Ayat

Hannad ibnus Siri dalam kitab az-Zuhd meriwayaykan bahwa Mujahid berkata, “Firman Allah, ‘Allah tidak menyukai perkataan buruk, (yang diucapkan) secara terus terang kecuali oleh orang yang dizalimi,’ turun pada seorang lelaki yang bertamu di rumah seseorang di Madinah. Namun, sang tuan rumah tidak menjamunya dengan baik. Lalu dia keluar dari rumahnya dan memberi tahu orang-orang tentang perlakuan tuan rumah yang buruk terhadapnya. Lalu dia dibolehkan melakukan hal itu (memberi tahu kelakuan tuan rumah).”

Ayat 153, yaitu firman Allah ta’ala,

“Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata : “Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata”. Maka mereka disambar petir karena kezalimannya, dan mereka menyembah anak sapi , sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami ma’afkan (mereka) dari yang demikian. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata.” (an-Nisaa’: 153)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa Muhamman bin Ka’b al-Qurzhi berkata, “Beberapa orang Yahudi mendatangi Rasulullah saw. lalu berkata, ‘Sesungguhnya Musa diutus kepada kami dengan membawa lembaran-lembaran dari Allah. Maka datangkanlah lembaran seperti itu agar kami mempercayaimu.’ Maka Allah menurunkan firman-Nya,

“Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata : “Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata”. Maka mereka disambar petir karena kezalimannya, dan mereka menyembah anak sapi , sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami ma’afkan (mereka) dari yang demikian. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata. Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina untuk (menerima) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka. Dan kami perintahkan kepada mereka : “Masuklah pintu gerbang itu sambil bersujud “, dan Kami perintahkan (pula) kepada mereka : “Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu “, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh. Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan) , disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan : “Hati kami tertutup.” Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka. Dan karena kekafiran mereka (terhadap ‘Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina),” (an-Nisaa’: 153-156)

Lalu seorang Yahudi berlutut dan berkata, ‘Allah tidak menurunkan apa-apa kepadamu, tidak pula kepada Musa, Isa, dan siapapun.’

Lalu Allah menurunkan firman-Nya,

“Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia”. Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya) ?” Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya)”, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quraan kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya .” (al-An’aam: 91)

Ayat 163, yaitu firman Allah ta’ala,

“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, ‘Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.” (an-Nisaa’: 163)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas berkata, “Adi bin Zaid berkata, ‘Kami tidak tahu bahwa Allah menurunkan wahyu kepada manusia setelah Musa.’ Maka Allah menurunkan ayat ini.”

Ayat 166, yaitu firman Allah ta’ala,

“(Mereka tidak mau mengakui yang diturunkan kepadamu itu), tetapi Allah mengakui Al Qur’an yang diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya. dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi (pula). Cukuplah Allah yang mengakuinya.” (an-Nisaa’: 166)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas berkata, “Sekelompok orang Yahudi mendatangi Rasulullah saw.. Lalu Rasulullah saw. bersabda,

‘Demi Allah, saya yakin bahwa kalian semua mengetahui bahwa saya adalah Rasul Allah.

Mereka pun menyahut, ‘Kami tidak mengetahui hal itu.’ Maka Allah menurunkan firman-Nya,

“(Mereka tidak mau mengakui yang diturunkan kepadamu itu),” (an-Nisaa’: 166)

Ayat 176, yaitu firman Allah ta’ala,

“Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah) . Katakanlah : “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu) : jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (an-Nisaa’: 176)

Sebab Turunnya Ayat

An-Nasa’i meriwayatkan dari jalur Abuz Zubair bahwa Jabir berkata, “Ketika saya sakit, Rasulullah saw. menjenguk saya. Lalu saya katakan kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, saya ingin mewasiatkan untuk saudara-saudara perempuanku sepertiga harta saya.’ Beliau bersabda, ‘Bagus.’ Lalu saya katakan lagi, “Bagaimana kalau saya mewasiatkan setengah dari harta saya?’ Beliau menjawab, ‘Bagus.’ Kemudian beliau keluar dan beberapa saat kemudian beliau masuk lagi lalu bersabda,

‘Saya tidak melihat engkau akan meninggal dunia pada sakitmu ini. Sesungguhnya Allah telah menurunkan wahyu kepadaku dan menjelaskan bahwa untuk seluruh saudara perempuanmu adalah dua pertiga dari hartamu.’

Dan Jabir berkata, ‘”Turun pada saya ayat, ‘”Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah) . Katakanlah : “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu) …'” (an-Nisaa’: 176)

Al-Hafizh Ibnu Hajjar menjelaskan, “Ini adalah kisah lain dari Jabir, selain kisahnya pada awal surah.”

Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Umar bahwa dia bertanya kepada Nabi saw. tentang bagaimana warisan untuk kalalah. Lalu Allah menurunkan firman-Nya, “”Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah) . Katakanlah : “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu)…” hingga akhir ayat 176 surah an-Nisaa’.”

Catatan: Jika Anda renungi sebab-sebab turun ayat surah ini, Anda akan tahu bantahan terhadap orang yang mengatakan bahwa ayat ini adalah ayat Makkiyyah.

Sumber: Diadaptasi dari Jalaluddin As-Suyuthi, Lubaabun Nuquul fii Asbaabin Nuzuul, atau Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an, terj. Tim Abdul Hayyie (Gema Insani), hlm. 206-211.

Baca Juga