Surah al-Mujaadilah

Ayat 1, yaitu firman Allah ta’ala,

“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat .” (al-Mujaadilah: 1)

Sebab Turunnya Ayat

Imam al-Hakim meriwayatkan riwayat yang dinilainya shahih dari Aisyah yang berkata, “Mahamulia Allah yang pendengaran-Nya meliputi segala sesuatu, sementara saya hanya bisa mendengarkan sebagian dari ucapan Khaulah binti Tsa’labah, adapun yang sebagian lagi tidak dapat saya dengar. Kedatangannya pada saat itu adalah untuk mengadukan perihal suaminya kepada Rasulullah. Khaulah berkata, ‘Wahai Rasulullah, ia telah menghabiskan masa muda saya dan saya telah melahirkan banyak anak untuknya. Akan tetapi, ketika saya telah beranjak tua dan tidak bisa melahirkan lagi maka ia men-zhihar saya. Ya Allah, saya mengadukan kepedihan hati ini kepada engkau.’ Tidak berselang lama, malaikat Jibril telah langsung turun untuk membawa rangkaian ayat ini. Suami Khaulah itu bernama Aus ibnush-Shamith.”

Ayat 8, yaitu firman Allah ta’ala,

“Apakah tidak kamu perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu dan mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul. Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu. Dan mereka mengatakan kepada diri mereka sendiri: “Mengapa Allah tidak menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?” Cukuplah bagi mereka Jahannam yang akan mereka masuki. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (al-Mujaadilah: 8)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Muqatil bin Hayyan yang berkata, “Antara Nabi saw. dan kaum Yahudi terjadi kesepakatan damai. Dalam masa itu, setiap kali ada sahabat Nabi saw. yang lewat maka orang-orang Yahudi terlihat saling berbisik di antara mereka sampai-sampai sahabat tersebut mengira bahwa mereka tengah merencanakan untuk membunuhnya atau melakukan sesuatu yang buruk terhadapnya. Rasulullah lantas melarang orang-orang Yahudi tersebut untuk berbisik-bisik, tetapi mereka tidak mematuhinya. Allah lalu menurunkan ayat, ‘Apakah tidak kamu perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan perbincangan rahasia….'”

Imam Ahmad, al-Bazzar, dan ath-Thabrani dengan sanad yang baik dari Abdullah bin Amru bahwa orang-orang Yahudi berkata kepada Rasulullah, “Salam untukmu.” Mereka lalu berkata di dalam hati, “Kenapa Allah tidak mengazab kita karena ucapan kita tersebut?” Sebagai responnya, turunlah ayat, “Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu…..” Dalam hal ini terdapat riwayat dari Anas dan Aisyah. (500)

Ayat 10, yaitu firman Allah ta’ala,

“Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syaitan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal.” (al-Mujaadilah: 10)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Qatadah yang berkata, “Orang-orang munafik sering terlihat berbisik-bisik di antara mereka. Tindakan tersebut menimbulkan kemarahan dan rasa terganggu pada diri orang-orang mukmin. Allah lalu menurunkan ayat ini.”

Ayat 11, yaitu firman Allah ta’ala,

“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Mujaadilah: 11)

Sebab Turunnya Ayat

Lebih lanjut, diriwayatkan dari Qatadah yang berkata, “Suatu saat, di antara sahabat ada yang ketika melihat seorang sahabat lain datang untuk ikut duduk di dekat mereka, sewaktu menghadiri majelis Rasulullah (di dalam masjid), mereka lantas tidak mau melapangkan tempat duduk. Itulah sebabnya, turun ayat ini.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Muqatil bahwa ayat ini turun pada hari Jumat. Ketika itu, terlihat beberapa sahabat yang dulunya mengikuti Perang Badar datang ke masjid, sementara tempat duduk yang tersedia sempit. Beberapa orang (yang lebih dulu duduk di tempat itu) kemudian terlihat enggan untuk melapangkan tempat bagi mereka sehingga sahabat-sahabat tersebut terpaksa berdiri. Rasulullah lantas meminta beberapa orang yang tengah duduk itu untuk berdiri kemudian menyuruh para sahabat tadi duduk di tempat mereka. Hal ini menimbulkan perasaan tidak senang pada diri orang-orang yang disuruh berdiri tadi. Allah lalu menurunkan ayat ini.

Ayat 12-13, yaitu firman Allah ta’ala,

“Hai orang-orang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu. Yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih bersih; jika kamu tidak memperoleh (yang akan disedekahkan) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum mengadakan pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tiada memperbuatnya dan Allah telah memberi taubat kepadamu maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Mujaadilah: 12-13)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan dari Ibnu Abi Thalhah dari Ibnu Abbas yang berkata, “Pada awalnya, kaum muslimin sangat sering bertanya kepada Rasulullah hingga hal itu dirasakan beliau cukup mengganggu. Allah lalu bermaksud meringankan beban tersebut kepada Nabi-Nya sehingga Allah kemudian menurunkan ayat 12, “Hai orang-orang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu…’ Setelah ayat ini turun, banyak di antara sahabat yang kemudian menahan diri untuk tidak bertanya. Akibatnya, Allah lalu menurunkan ayat selanjutnya, ayat 13, “Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum mengadakan pembicaraan dengan Rasul?…'”

Imam at-Tirmidzi meriwayatkan sebuah riwayat yang dinilainya hasan, demikian juga ulama yang lainnya meriwayatkan dari Ali yang berkata, “Tatkala turun ayat, ‘Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul, hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum (melakukan) pembicaraan itu…,” Rasulullah bertanya kepada saya, “Bagaimana pendapatmu kalau (sedekah tersebut) sebanyak satu dinar?’ Saya menjawab, ‘Mereka (para sahabat) tidak akan sanggup.’ Rasulullah bertanya, ‘Bagaimana kalau satu dinar?’ Saya menjawab, ‘Mereka juga tidak akan sanggup.’ Rasulullah bertanya, ‘Kalau begitu berapa seharusnya?’ Saya menjawab, ‘Satu butir gandum.’ Mendengar jawaban saya tersebut, Rasulullah berkata, ‘Engkau sungguh seorang yang tidak punya apa-apa.’ Setelah itu, turunlah ayat,’ ‘Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum (melakukan) pembicaraan dengan Rasul?’ Karena usulan saya itulah Allah memberikan keringanan bagi umat ini.” Imam at-Tirmidzi berkata, “Riwayat ini berkualitas hasan.” (501)

Ayat 14, yaitu firman Allah ta’ala,

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui.” (al-Mujaadilah: 14)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Suddi yang berkata, “Tentang ayat ini, kami mendengar bahwa ia turun berkenaan dengan Abdullah bin Nabtal.”

Ayat 18, yaitu firman Allah ta’ala,

“(Ingatlah) hari (ketika) mereka semua dibangkitkan Allah) lalu mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan musyrikin) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu; dan mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh suatu (manfaat). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta.” (al-Mujaadilah: 18)

Sebab Turunnya Ayat

Imam Ahmad meriwayatkan suatu riwayat, demikian juga al-Hakim yang menilainya shahih, dari Ibnu Abbas yang berkata, “Suatu ketika, Rasulullah berada di bawah naungan bayang-bayang sebuah kamar. Bayang-bayang itu telah hampir habis ketika Rasulullah berkata, ‘Sesungguhnya akan segera datang menghampiri kalian seorang laki-laki yang melihat ke arah kalian dengan pandangan yang tidak baik. Jika ia datang, maka janganlah ada seorang pun dari kalian yang berbicara dengannya.’

Tak lama berselang, muncullah seroang laki-laki yang berkulit biru dan buta sebelah matanya. rasulullah lantas memanggil laki-laki itu. Ketika telah mendekat, Rasulullah berkata, ‘Atas dasar apa engkau dan teman-temanmu mencaci-maki saya?’ Laki-laki itu menjawab, ‘Izinkan saya membawa teman-teman saya kemari.’ Laki-laki itu lalu pergi untuk memanggil teman-temannya. Ketika telah berada kembali di hadapan Rasulullah, mereka serempak bersumpah bahwa mereka tidak pernah mengatakan hal itu atau melakukannya. Allah lantas menurunkan ayat ini.”

Ayat 22, yaitu firman Allah ta’ala,

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (al-Mujaadilah: 22)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Syaudzab yang berkata, “Ayat ini turun berkenaan dengan Abu Ubaidah bin Jarrah, yaitu ketika ia membunuh ayahnya pada Perang Badar. Ketika itu, turunlah ayat ini.”

Imam ath-Thabrani dan al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak meriwayatkan hal serupa, namun dengan lafazh, “Pada saat berkecamuknya Perang Badar, ayah Abu Ubaidah bin Jarrah acapkali merintangi gerak-gerik anaknya tersebut. Pada awalnya, Abu Ubaidah selalu berusaha menghindar (agar tidak berhadapan dengan sang ayah.) Akan tetapi, ketika ayahnya itu tetap bersikap demikian, Abu Ubaidah pun kemudian menghampirinya lalu membunuhnya. Setelah itu, turunlah ayat ini.”

Ibnul Mundzir meriwayatkan dari Ibnu Juraij yang berkata, “Diinformasikan kepada saya bahwa suatu ketika Abu Quhafah (ayah Abu Bakar) mencaci maki Nabi saw.. Abu Bakar langsung memukul kepalanya hingga terjatuh. Ketika peristiwa itu didengar oleh Nabi saw. beliau lalu berkata, ‘Benarkah engkau berbuat seperti itu, wahai Abu Bakar?’ Abu Bakar lalu menjawab, ‘Demi Allah, sekiranya pada saat itu ada pedang di dekat saya, niscaya akna saya tebas lehernya.’ Tidak lama kemudian turunlah ayat ini.”

500. Hadits yang diriwayatkan Aisyah terdapat dalam Shahih Muslim, kitab as-Salaam, hadits nomor 2165, sedangkan yang diriwayatkan Anas terdapat dalam Sunan at-Tirmidzi, kitab at-Tafsiir, hadits nomor 3301.

501. Sunan at-Tirmidzi, kitab at-Tafsirr, hadits nomor 3300.

Sumber: Diadaptasi dari Jalaluddin As-Suyuthi, Lubaabun Nuquul fii Asbaabin Nuzuul, atau Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an, terj. Tim Abdul Hayyie (Gema Insani), hlm. 551 – 558.

Baca Juga