LKPSI: “Jika Kasus Kaburnya Tahanan Tidak Diluruskan, Maka ‘Cadar’ Akan Kena Fitnah”

JAKARTA (SALAM-ONLINE.COM): Kasus kaburnya tahanan terpidana “terorisme” Roki Aprisdianto di rutan Polda Metro Jaya, menurut Direktur Lembaga Kajian Politik dan Syariat Islam Fauzan Al Anshari, itu aneh bin janggal. Apalagi dikatakan Roki kabur dengan mengenakan cadar untuk mengelabui petugas.

Lewat pembesuk bercadar? Seperti diberitakan, Roki kabur mengenakan cadar (tak disebutkan apakah pakai baju busana Muslimah atau tidak) dimana cadarnya diperoleh dari pembesuk wanita yang mengenakan cadar.

Menurut polisi, ada 23 wanita pembesuk yang bercadar pada Selasa (6/11/2012). Tapi menurut Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Suhardi Alius kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, di antara 23 pembesuk wanita yang bercadar itu tidak ada satu pun yang membesuk Roki. (detikcom, 7/11/2012). Jadi?

“Itu akal-akalan polisi saja, coba jelaskan kronologinya dengan detil, bagaimana caranya waktu memakai cadar, kan di situ banyak orang dan diawasi. Apa iya ikhwannya (yang kabur itu) masuk ke dalam baju kurung wanita yang besuk atau dia mengenakan itu di WC atau di tenga-tengah kerumunan pembesuk?” tanya Fauzan.

Menurut Fauzan, ini tidak masuk akal. “Berbeda halnya dengan tahanan yang kabur dari penjara di Ambon dengan mendobrak terali besi WC, itu masuk akal,” imbuhnya.

Karenanya, ujar Fauzan, jika kasus kaburnya tahanan di rutan Polda Metro ini tidak diluruskan, maka ‘Cadar’ akan kena fitnah. Wanita bercadar imejnya akan dibuat negatif.

“Jika kasus ini tidak diluruskan, maka cadar akan kena fitnah, yakni yang bercadar akan dilarang besuk atau wajib dibuka…atau mau cari DPO?” tukas Fauzan.

“Bisa juga 23 pembesuk (yang bercadar) itu dimintai keterangan atau di antara mereka ditangkap polisi karena dianggap membantu pelarian napi. Nah, kita lihat episode berikutnya!” demikian Fauzan mengakhiri keterangannya kepada salam-online.

Jadi, benarkah ada motif dan maksud di balik pemunculan cerita ‘Cadar’ ini? (isa)