Tidak Ada Puasa Ramadhan Bagi Muslim Uighur

muslimdaily.net – Dalam penindasan terbaru terhadap Muslim di China dalam bulan suci Ramadhan, para pejabat Muslim dan siswa di wilayah barat laut Xinjiang telah dilarang berpuasa selama bulan Ramadhan ini.

“Komite daerah telah mengeluarkan kebijakan komprehensif untuk menjaga stabilitas sosial selama periode Ramadhan,” demikian pernyataan dari kota Zonglang di distrik Kashgar, Xinjiang, sebagaimana dikutip oleh Agence France-Presse (AFP) pada Rabu, 1 Agustus dan dilansir ulang oleh onislam.net.

“Hal ini (puasa) dilarang bagi kader Partai Komunis, pejabat sipil (termasuk mereka yang sudah pensiun) dan siswa untuk berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan Ramadhan.”

Pernyataan itu, diposting di situs web pemerintah Xinjiang, mendesak para pemimpin partai untuk membawa “hadiah” berupa makanan untuk para pemimpin desa setempat guna memastikan bahwa mereka makan selama bulan Ramadhan. Perintah serupa pada pembatasan umat Islam untuk berpartisipasi dalam kegiatan Ramadhan juga diposting di website lain milik pemerintah daerah. Sebuah pernyataan yang dimuat di situs biro pendidikan daerah Wensu meminta sekolah untuk memastikan bahwa siswa tidak masuk masjid selama bulan Ramadhan. Ramadan, bulan paling suci dalam kalender Islam, dimulai di Xinjiang pada 20 Juli. Perintah untuk mengekang kegiatan keagamaan yang dikirim di seluruh wilayah pada waktu yang berbeda, beberapa sebelum awal Ramadhan dan beberapa setelah awal Ramadhan.

Penindasan baru ini dikhawatirkan akan mendorong kerusuhan baru di provinsi yang penduduknya mayoritas Muslim itu.

“Dengan melarang puasa pada bulan Ramadhan, China sedang menggunakan metode administratif untuk memaksa orang Uighur untuk makan dalam upaya untuk membatalkan puasa,” kata Dilshat Rexit, juru bicara Kongres Uighur Dunia, dalam sebuah pernyataan.

Dia memperingatkan bahwa pembatasan akan memaksa “orang-orang Uighur untuk menolak (kekuasaan China) lebih jauh.”

Pada bulan Juli tahun 2009 lalu terjadi kerusuhan di Xinjiang, daerah dengan mayoritas suku Uighur yang beragama Islam. Hal ini dipicu sentimen SARA dan tindakan diskriminasi pemerintahan China di daerah yang juga sering disebut Turki Timur tersebut.

Lebih dari 190 orang muslim Uighur meninggal dalam tindak kekerasan ini. China kemudian mengeksekusi 22 muslim Uighur yang dijadikan kambing hitam atas kerusuhan yang terjadi.

Provinsi Xinjiang dengan penduduknya yang mayoritas muslim dengan 8 juta penduduk terus menjadi korban tindakan diskriminasi dari pemerintah China. Muslim Xinjiang merasa terpojok di tanah kelahirannya sendiri dengan datangnya etnis Han, etnis mayoritas di China yang mengancam indentitas dan budaya mereka.

Beijing menganggap bahwa daerah Xinjiang ini memiliki aset yang sangat bernilai karena letak strategisnya di Asia Tengah dan kekayaan minyaknya.