Iran Akan Dukung Rezim Assad tanpa Batas

TEHERAN (salam-online.com): Sebagai sesama penganut Syiah, Iran menyatakan akan mendukung rezim Bashar Assad, apapun yang terjadi. Negeri para Mullah ini mengisyaratkan menolak penuh pembicaraan soal pengunduran diri Assad dari kekuasaan.

TV Press melansir pernyataan Wakil Presiden Iran, Muhammad Reza Rahimi, bahwa dukungan Teheran kepada Suriah tidak bisa diubah. Pernyataan ini menyangkal isyarat kemungkinan Teheran akan melunakkan dukungannya kepada Assad, seperti diberitakan sebelumya oleh Reuters.

Rahimi menegaskan, rakyat Iran memiliki sikap tak berubah terhadap Suriah dan akan selalu mendukung mereka.

Sementara itu, Sekjen Dewan Keamanan Nasional Iran, Said Jalili mengatakan, Teheran siap mendukung Damaskus lebih dari dukungan sebelumnya dalam menghadapi tekanan asing.

Dalam pernyataan resmi Menlu Iran, Ali Akbar Shalili beberapa saat lalu, Teheran siap menjadi tuan rumah pembicaraan negosiasi antara pemerintah Suriah dengan kelompok oposisi sampai ada titik perubahan di level politik.

Sebelumnya, sebuah koran Libanon mengungkap, Hizbollah Libanon menyampaikan kepada Bashar Assad bahwa semua kemungkinan ada dalam kendalinya jika situasi mendesak dan rezim Suriah membutuhkan dukungan dari para sekutunya. Bahkan Hizbollah juga sudah menawarkan diri untuk menerima Assad.

Harian Al-Jomhuriyah mengutip dari sumber-sumber politik penting bahwa pemimpin Hizbollah, Hasan Nashrollah telah mengontak Bashar Assad setelah terbunuhnya empat elit militernya untuk menyampaikan bela sungkawa. Tokoh Syiah itu juga menanyakan kesehatan saudaranya, Mahir Assad. Keduanya juga membahas kondisi pribadi Bashar Assad dan tingkat spiritnya. Nashrollah menyampaikan bahwa Hizbollah akan mendukung Assad jika situasi dibutuhkan.

Sumber-sumber yang sama menjelaskan, bantuan yang ditawarkan oleh Nashrollah ada dua jenis: pertama, menyuplai personel pasukan khusus di Hizbollah sewaktu-waktu jika dibutuhkan bahkan akan dikirim ke front terbuka dengan para pembelot. Kedua, menerima Assad di tempat tinggal Nashrollah secara pribadi atau di dalam kedutaan besar Iran di Beirut.

Namun Assad sendiri lebih memilih menunggu suasana karena meyakini akan bisa mengendalikan situasi dan mengatasi krisis dengan bantuan sejumlah pakar politik dan militer Rusia.

Sumber di atas mengisyaratkan, Hizbollah sebelumnya bersama Daud Rajihah, Menhan Suriah yang terbunuh dan Kementerian Pertahanan, sudah membuat rencana militer untuk intervensi mendukung rezim Assad jika ada serangan dari luar (intervensi asing). Rencana ini berisi pemasangan radar-radar, baterai rudal, dan penambahan personel ke pasukan Suriah dengan 2000 personel Hizbollah.

Namun tawaran rencana ini tidak diterima oleh Khamenei sebagai pemegang keputusan menyikapi masalah Suriah, terutama terkait nasib dua kelompok Syiah Alawiyah dan Ismailiyah di Suriah.

Sumber di atas juga menegaskan, Hizbollah kini menjadi bimbang dalam politik yang harus dianut di masa mendatang. Sebab mereka mengakui jasa rezim Suriah kepadanya, namun di sisi lain harus memberikan loyalitas ideologi kepada Iran secara mutlak.

Masih menurut sumber yang sama, Hizbollah hanya memiliki satu pilihan yakni mengumumkan bahwa Negara Libanon adalah rujukan baginya dan bagi senjata serta wilayah yang dikuasainya, juga mengakui hak rakyat dalam menentukan nasibnya. (spiritislam.net)