Republik Syiah Indonesia

ERAMUSLIM – “Sesungguhnya para Imam memiliki kedudukan terpuji, derajat yang tinggi dan kekuasaan terhadap alam semesta, di mana seluruh bagian alam ini tunduk terhadap kekuasaan dan pengawasan mereka.” (Ayatullah al-Khomeini di dalam kitabnya Al-Hukumah al- Islamiyah)

Dalam artikel berjudul “Gerakan Syiah di Indonesia”, Mei 2011, petinggi NU, Kiai As’ad Ali membeberkan sebuah fakta menarik. Menurutnya, dewasa ini Syiah Indonesia sedang berupaya membuat lembaga yang disebut Marja al-Taqlid, sebuah institusi kepemimpinan agama yang sangat terpusat, diisi oleh ulama-ulama Syiah terkemuka dan memiliki otoritas penuh untuk pembentukan pemerintah dan konstitusi Syiah. Di beberapa negara yang masuk dalam kaukus Persia, lembaga itu telah berdiri kokoh dan memainkan peran yang efektif dengan kepemimpinan yang sangat kuat. Di Irak misalnya, lembaga Marja Al Taqlid dipimpin oleh Ayatollah Agung Ali al-Sistani.

Lembaga Marja Al Taqlid, selain berfungsi menyusun dan mempersiapkan pembentukan pemerintahan beserta konstitusinya, juga berfungsi menyusun prioritas-prioritas pemerintah, termasuk pembentukan sayap militer yang disebut amktab atau lajnah asykariyah. Selama Marja al Taqlid ini belum terbentuk, maka pembentukan maktab askariyah pun pastilah belum sistematis dan terstruktur.

Kita ketahui bersama Imamah, bagi Syiah, adalah hal yang sangat penting dan luar biasa. Penting bukan saja bagi kekuatan politik, tapi imamah adalah keniscayaan bagi Syiah. Menghilangkan konsep Imamah, sama saja mengamputasi teologi syiah.

Kata Imam memang dimuat dalam narasi Al Qur’an. Setidaknya kata Imam maupun a’immah dijelaskan dalam surah Al Baqarah:124, Al Anbiya: 73, At taubah: 12 dan Al Qashash: 41. Namun menurut Prof. Ali Ahmad Halus, dalam bukunya Ensiklopedi Sunnah Syiah, menyatakan tidak satupun redaksi ayat Al Qur’an yang mengetengahkan kata imamah, lebih-lebih Imamah dalam konsep Syiah dimana keduabelas Imam adalah manusia-manusia ma’sum. Hal ini semakin menegaskan bahwa konsep imamah memang genuine dimiliki Syiah yang sangat berbeda dengan konsep Khilafah milik umat Islam.

Kesiapan kelompok Syiah di Indonesia untuk menyambut imamah tampaknya menemui kebenaran. Desember lalu seperti ramai diberitakan media, sedikitnya 8.000 umat Syiah di Jakarta menghadiri peringatan Hari Asyura di Puri Garini, Halim Perdana Kusumah, Jakarta Timur, dengan tema “Dengan Gerap Langkah Imam Husein Kita Perkuat Persatuan Bangsa dan Umat.

Tidak hanya di Jakarta, peringatan hari Asy Syura juga merata dilaksanakan di tiap-tiap daerah. Di Kalimantan Timur, misalnya, hari Asy Syura berlangsung di Gedung Pramuka Jalan M. Yamin Belakang Mall Lembuswana Samarinda Kaltim dan menghadirkan sejumlah da’i diantataranya Ahmad Baragbah (Pekalongan Jateng) dan Moh. Zen Alatas sebagai pembaca Maktam.

Kabarnya, peringatan Asyura ini dilaksanakan oleh Yayasan Almuntazar Duabelas bekerjasama dengan sejumlah yayasan-yayasan di Kalimantan Timur seperti Yayasan Al-Qo’im Kaltim, Yayazan Az-Zahra Balikpapan, Yayasan Ghipari Tenggarong, YAPIB Penajam Paser Utara, dan Yayasan Gerbang Ilmu Sangata.

Sementara itu di Sumatera Selatan, peringatan Asyura dilaksanakan Gedung Wanita Sriwijaya Jalan Rajawali Palembang. Dan syiar Syiah di Indonesia terus membentang dari Medan, Padang, Bengkulu, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya dan kota-kota besar lainnya.

Terlepas dari klaim para penggiat Syiah bahwa mereka berhasil mendatangkan ribuan massa menyambut hari Asysyura. Namun keberadaan Syiah di Indonesia memang bukan isapan jempol semata.

Sejak pecahnya Revolusi Syiah di Iran, telah terjadi ekspansi besar-besaran kelompok Syiah ke Indonesia. Sebab banyak orang tertipu, bahwa Iran telah berhasil menjalankan Revolusi Islam hingga menempatkan nama Iran sebagai role model Republik Islam di dunia. Padahal sejatinya, Revolusi yang terjadi di Iran, tidak lebih dari Revolusi Syiah.

Dalam buku berbahasa Arab berjudul “Al-Masyru’ Al Irani Ash-Shafawi”, kita bisa memetik pelajaran bagaimana strategi kaum Syi’ah dalam melakukan ekspansi Revolusi Syiah untuk diletuskan ke berbagai Negara Muslim. Setidaknya ada lima tahapan yang akan dimainkan Syiah hingga betul-betul menguasai suatu negara.

Fase pertama adalah fase perintisan dan perawatan akar. Jika kita bicara dalam ranah Indonesia, hal ini sudah mereka lakukan dengan ekspansi Syiah ke kampus-kampus periode 80-an dimana UI dan Unpad menjadi basisnya.

Kedua adalah fase penjajakan. Dalam konteks ini gerombolan Syiah Bekerja dengan cara tetap berkamuflase pada koridor hukum Negara yang berlaku sekedar formalitas dan tidak berani melanggarnya, lalu berusaha masuk ke fasilitas keamanan dan institusi pemerintah secara perlahan tapi pasti, hingga berupaya mendapatkan surat kewarganegaraan untuk para imigran Syi’ah.

Namun dalam konteks Indonesia, kita ketahui sudah banyak para ulama Iran datang ke Indonesia. Mereka biasanya bicara di kampus-kampus seperti ICAS dan UIN Jakarta. Bahkan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta telah berdiri Iranian Corner.

Ketiga, fase start up, yakni merekatkan hubungan antara Pemerintah dengan para imigran agen Syi’ah, memperdalam penetrasi ke pusat-pusat pemerintah, mendorong untuk merelokasi dana-dana Sunni ke Iran untuk mewujudkan mitra kerja, setelah mampu menguasai mereka menekan ekonominya.

Seperti dilansir islamtimes.org, Pejabat Senior Kedutaan Besar Indonesia di Tehran, Iran dan Indonesia berencana untuk mendirikan bank gabungan swasta untuk memfasilitasi perdagangan bilateral.

Dalam forum ekonomi Indonesia di Kamar Dagang Iran, Industri dan Pertambangan (ICCIM ), Kuasa Usaha Kedutaan Besar Indonesia di Tehran Aji Setiawan, mengatakan bahwa Pembentukan bank swasta di kedua negara akan membantu menghilangkan hambatan perdagangan. Aji Setiawan juga mengundang sektor swasta Iran untuk hadir di Indonesia Trade Expo 26, yang diselenggarakan pada tanggal 19-23 Oktober 2011.

Dalam acara yang sama, Sekretaris Jenderal ICCIM, Hamid Mossaddeqi, menambahkan bahwa perdagangan antara Iran dan Indonesia mencapai USD 1,290 miliar tahun lalu. Angka tersebut meliputi $ 590 juta dari ekspor dan USD 639.juta pada impor.

Keempat, masa pembuahan, yakni mengakses ruang-ruang pemerintah yang sensitif, membeli banyak tanah dan properti, menyulut emosi rakyat Sunni terhadap pemerintah karena semakin bertambahnya hegemoni kaum asing Syi’ah. Metode ini mereka mainkan dalam kasus Sampang kemarin, hingga membentuk opini mereka benar-benar adalah korban.

Kita juga jangan lupa bahwa saat ini beberapa nama Tokoh Syiah sudah masuk ke lini pemerintahan. Prof. Baharun, pengamat gerakan Syiah, mengatakan tidak sedikit para tokoh Syiah yang kini telah menjadi anggota dewan.

Dan kelima adalah pematangan. Inilah puncak dari segala puncak. semua kejadian yang sampai pada klimaksnya, maka terjadi kekacauan besar dalam negeri, dan Negara kehilangan faktor-faktor stabilitasnya (keamanan dan ekonomi), sehingga dengan kekacauan ini mereka bisa masuk dan mengusulkan pembentukan dewan perwakilan rakyat baru, yang bisa mereka setir, mereka mengajukan jasa sukarela untuk membantu pemerintah dalam rangka menstabilkan kondisi dalam negeri, dengan menguasai sendi-sendi penting kepemerintahan, hingga mereka bisa merealisasikan target “Ekspor Revolusi Iran” dengan desain yang rapi. Dan jika cara itu tidak tercapai mereka gunakan cara lain yang telah terdesain sebelumnya yaitu memprovokasi rakyat untuk melakukan revolusi, setelah itu mereka mencuri kekuasaan dari tangan pemerintah.

Dan melihat keempat faktor diatas yang telah ‘berhasil’ dijalankan, bukan tidak mungkin bahwa Syiah hanya menunggu fase kelima untuk diletupkan. Dan menilik pernyataan Kyai As’ad bahwa kelompok Syiah di Indonesia sudah mengembangkan sayap militer, bukan tidak mungkin pula, kedepan dengan Revolusi, Indonesia akan menyusul Iran, untuk menjadi Republik Syiah Indonesia. Sekali lagi, Republik Syiah bukan Islam. Allahua’lam. (Arbi)