Muslimah Prancis Terancam Dipenjara Karena Menolak Melepas Cadar

ERAMUSLIM – Hind Ahmas, seorang muslimah Prancis, menyatakan tidak akan mematuhi perintah pengadilan yang menjatuhkan sanksi hukuman kerja “pelayanan masyarakat” selama 15 hari padanya.

Ahmas, 32, berurusan dengan pengadilan karena tertangkap basah mengenakan cadar di tempat umum, dan ia menolak untuk melepasnya. Tindakan itu merupakan pelanggaran hukum di Prancis setelah negara itu memberlakukan aturan larangan mengenakan cadar di tempat-tempat publik.

Saat mendengarkan pembacaan hukuman di sebuah pengadilan di kota Paris, Ahmas juga menolak melepas cadarnya di depan hakim. Kuasa hukum Ahmas, Gilles Devers menyatakan akan mengajukan banding, dan menyebut aturan larangan jilbab dan cadar yang diberlakukan Prancis sebagai aturan yang ilegal.

Namun hakim menegaskan bahwa Devers tidak bisa mengajukan banding, karena sanksinya bukan denda, tapi kerja sosial. Ahmas pernah dikenakan denda sebesar 120 euro pada bulan September kemarin, juga karena mengenakan cadar di tempat umum, saat ia sedang berjalan-jalan di kawasan Meaux, sebelah timur Paris.

Karena menolak sanksi kerja sosial, Ahmad terancam hukum dua tahun penjara dan denda yang lebih besar sekira 30.000 euro, serta diwajibkan mengikuti kursus tentang budaya Prancis.

Ahmas dan kelompok penekan yang dibentuknya “Don’t Touch my Constitution” mendesak pemerintah Prancis untuk menghormati hak-hak muslimah. Ia menyatakan akan membawa kasus larangan jilbab dan cadar di Prancis ke Pengadilan HAM Eropa agar aturan tersebut ditinjau kembali.

Dalam persidangan Ahmas, juga hadir Kenza Drider, muslimah yang juga mengenakan cadar. Ia adalah muslimah Prancis yang akan mencalonkan diri sebagai kandidat pemilihan presiden di Prancis, dan menginginkan agar larangan jilbab dan cadar di Prancis dicabut. (Arbi)