Pengamat: Pengaruh Sosial Ibadah Haji Masih Dilupakan

ANTARA – Pengamat sosial dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumatera Utara Ansari Yamamah mengatakan, ibadah haji masih belum mampu membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat karena jarang dianggap mengandung aspek sosial.

“Padahal, ibadah haji lebih banyak mengandung aspek sosial dibandingkan ibadah vertikal semata,” katanya di Medan, Kamis.

Menurut Ansari, cukup banyak fenomena sosial yang sangat mengawatirkan dengan terlupakannya aspek sosial dari ibadah haji tersebut.

Ia mencontohkan dengan masih banyaknya praktik pelanggaran hukum, baik hukum positif mau pun agama meski jumlah umat Islam yang melaksanakan ibadah haji juga semakin banyak.

Hal itu disebabkan umat Islam yang melaksanakan ibadah haji hanya mengedepankan konsep “teological personal individualis” atau ibadah yang dianggap hanya sebagai urusan pribadi dengan Tuhan.

“Akhirnya, menjadi umat yang `egois` karena hanya memikirkan urusannya dengan Tuhan. Sedangkan urusan dengan masyarakat dilupakan,” katanya.

Ia menjelaskan, berbagai rangkaian ritual yang tercatat dalam ibadah haji bukanlah kegiatan biasa tetapi mengandung makna pilosofis yang sosiologis tinggi yang berpengaruh pada kehidupan sehari-hari.

Contohnya, kata dia, ibadah “thawaf” yang bukan sekadar ritual mengelilingi Ka`bah sambil membacakan sejumlah zikir dan doa, melainkan perlambang gerakan dinamis (dinamic movement) manusia dalam orbitnya selaku pemimpin di bumi.

“Intinya, umat Islam disuruh untuk tidak pernah berhenti berpikir dan bergerak untuk kesejahteraan umat,” katanya.

Demikian juga dengan “jumrah” atau melempar baru yang bukan sekadar sebagai proses melempar setan sesuai keyakinan teologis yang diajarkan selama ini.

Dalam kontek sosial, melempar jumrah itu merupakan perintah tidak langsung kepada manusia untuk membuang seluruh sifat menyimpang yang didasari nafsu setan.

“Contohnya, orang yang memiliki kekuasaan dan jabatan tetapi ingin korupsi dan bertindak otoriter, itu perilaku memyimpang,” kata Ansari.

“Jadi, kalau aspek sosial itu dilupakan, orang masih mau korupsi meski sudah naik haji,” katanya menambahkan. (Arbi)