Da’i Jadi Artis, Buah Sistem Kapitalis

ALISLAMU.COM – Berkembangnya para da’i di televisi yang menjadi artis mendapat sorotan tajam oleh Ustadz Harry Moekti. Pria yang jutru meninggalkan dunia keartisannya demi syiar Islam tesebut melihat realita ini sebagai buah dari sistem kapitalisme.

“Dalam sistem kapitalisme, muncullah budaya hedonisme, dan perangkap hubbuddunya, yakni harta, tahta, dan wanita. Masyarakat kemudian dibangun rasa permisifisme. Ketika ada ustadz mulai dekat dengan perempuan dianggapnya wajar,“ papar mantan rocker itu kepada Eramuslim.com, Senin 24/10.

Oleh karena itu, para da’i dituntut untuk tidak terjebak dalam perkara ini. Islam harus menjadi bekal utama dalam berdakwah agar kita tidak larut dalam tipu daya dunia. “Kalau para da’i tidak konsekuen dengan Islam yang kaffah dan prinsip Islam yang mereka pegang, maka mereka akan terjebak dalam sistem itu,” tambahnya.

Selain daripada itu, terjadi reduksi makna Islam oleh para da’i. Berlakunya sekularisme di negara ini, lanjut Ustadz Harry Moekti memang meminta prasyarat bagi para da’i untuk tidak membawa konsep Islam kaffah di tiap ceramahnya. Model dakwah populis seperti ini tengah menjamur.

“Sekularisme itu kan fashluddin ‘anil hayah. Jadi banyak da’i diminta untuk jangan bawa-bawa agama, karena kita ini kan bukan negara agama, yang penting kita kan shalat dan akhlaknya baik.” imbuh Ustadz yang selalu setia ditemani istrinya itu.

Padahal sebagai da’i, kita dituntut untuk menjelaskan Islam apa adanya berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah. Da’i harus berani berkata lantang untuk menegakkan Syariat Islam,

“Ketika saya diminta menjadi da’i ditelevisi, sebelumnya saya sempat menjelaskan konsep Islam secara kaffah, tapi mereka malah berkata bahwa hal itu Islami banget. Padahal tujuan dalam berdakwah memang menerapkan Islam secara kaffah.” Imbuhnya.

Dampak daripada itu semua bukanlah perkara sederhana. Islam akhirnya hanya dipandang sebagai sebuah sistem ritual saja dan tidak berlaku pada seluruh sendi kehidupan. Takwa yang sejatinya menjalankan seluruh perintah Allah dibuat tidak terkait sama sekali dengan Syariat Islam.

“Karena takwa ‘yang penting takut sama Allah’, tapi tidak perlu menjalankan Syariat. Makanya saya tidak disitu (televisi),” ungkapnya dengan gelak tawa. (Arbi/erm)