Sekolah Texas Hentikan Pelajaran Bahasa Arab

Sebuah sekolah distrik di Texas, AS, hari Selasa (8/2) menghentikan program pelajaran bahasa Arab setelah mendapat serangan dari para orangtua murid sehingga menjadi kepala berita di media nasional.

Sekolah Mansfield mengeluarkan sebuah pernyataan yang bertolak belakang dengan laporan media yang menyebut bahwa sekolah itu “mewajibkan kelas pelajaran bahasa Arab.”

Manfield ISD memperlambat implementasi program kelas bahasa Arab mengingat sebagian orangtua menyatakan tidak setuju pelajaran tersebut dimasukkan ke dalam kurikulum. Pihak sekolah juga masih ingin mendapatkan masukan dari orangtua murid lainnya.

Kelas bahasa Arab itu merupakan bagian dari program pemerintah federal senilai USD1,3 juta dan Mansfield menjadi salah satu dari lima distrik yang terpilih dari seluruh negeri sebagai penerima dana anggarannya. Program kelas bahasa Arab rencananya dimulai pada semester ini.

Menurut Willie Wimbrey, wakil kepala sekolah dasar Cross Timbers, sekitar 200 wali murid dalam pertemuan Senin malam lalu memberikan reaksi beragam, mulai dari mendukung hingga marah.

“Ada orang yang (secara berlebihan) takut dengan apapun yang berkaitan dengan Islam,” ujarnya kepada Mansfield News-Mirror.

“Yang lainnya ingin anaknya diajari segala macam. Sebagian lain mengatakan, kami mengajarkan tentang agama Kristen, mengapa juga tidak mengajarkan tentang agama lain? Semua budaya dan agama besar diajarkan di seluruh negara bagian.”

Baron Kane, wali murid yang menentang program bahasa Arab menyangkal, “Sekolah tidak mengajarkan agama Kristen, jadi saya tidak ingin mereka mengajarkan Islam,” katanya kepada CBS News setempat.

Kepada stasiun televisi yang sama, Kheirieh Hannun mengatakan bahwa program bahasa itu dapat memperluas cakrawala siswa dan juga orangtuanya.

“Itu akan membantu menghilangkan stereotipe,” kata wali murid kelahiran Palestina dan dibesarkan di Amerika tersebut.

Seorang wali murid lain, Trisha Savage, setuju. Katanya, “Saya kira ini merupakan kesempatan yang akan membuka pintu-pintu.”

“Kita perlu untuk berpikir secara global dan bertindak lokal,” imbuhnya.

Red: Fani
SUmber: Hidayatullah