Para ulama salaf sangat berhati-hati dengan ucapan mereka. Mereka memahami bahwa mayoritas dosa manusia datang dari lisannya. Karena itu, mereka sangat menjaga kata-kata, bahkan banyak dari mereka lebih memilih diam daripada berbicara tanpa manfaat.
Dalam Hilyat Al-Awliya’, disebutkan bahwa Wahb bin Al-Ward berkata: “Barangsiapa memperbanyak diamnya, maka selamatlah agama dan dunianya.”
Di sisi lain, orang yang banyak bicara biasanya terjatuh ke dalam dosa yang tidak ia sadari: ghibah, namimah, meremehkan orang, atau ucapan sia-sia yang tidak memberi manfaat.
Mengapa Banyak Bicara Berbahaya?
- Karena mudah terjatuh dalam dosa
Lisan adalah anggota tubuh yang tercepat membuat seseorang tergelincir. - Karena banyak bicara mengeraskan hati
Hati tidak sempat merenung dan mudah menjadi lalai. - Karena waktu habis tersita untuk hal tidak bermanfaat
Padahal waktu adalah modal berharga bagi seorang mukmin.
Salaf dan Kebiasaan Diam
Dalam Hilyat Al-Awliya’, disebutkan bahwa Sufyan ats-Tsauri—ulama agung—pernah berkata: “Jika engkau ingin selamat, perbanyaklah diam dan tinggalkan ucapan yang tidak berguna.”
Begitu berhati-hatinya para salaf, hingga mereka menghitung ucapan-ucapan mereka. Mereka hanya berbicara ketika yakin itu bermanfaat bagi agama atau kehidupan seseorang.
Kapan Kita Harus Diam?
- Ketika marah
Karena ucapan saat marah hampir selalu menyesatkan. - Jika ragu apakah suatu ucapan bermanfaat atau tidak
Diam lebih selamat. - Ketika berada di majelis yang banyak ghibah
Diam adalah perisai dari keburukan. - Saat tidak tahu tentang suatu perkara agama
Mengatakan “Aku tidak tahu” adalah adab para ulama.
Kapan Kita Harus Berbicara?
Diam dianjurkan, tapi bukan berarti tidak pernah berbicara. Para salaf tetap berbicara ketika:
- Memberi nasihat
- Menyampaikan ilmu
- Mengajak kepada kebaikan
- Mendamaikan antara manusia
- Mengucapkan dzikir dan doa
Ucapan yang baik adalah sedekah, sementara ucapan buruk adalah fitnah yang bisa merusak hubungan, nama baik, dan amal seseorang.
Tips Praktis dari Salaf untuk Mengendalikan Lisan
- Berpikir sebelum berbicara
“Timbang dulu, baru ucapkan.” - Batasi obrolan sia-sia
Tanyakan: “Apa manfaat dunia atau akhirat dari ini?” - Ganti obrolan kosong dengan dzikir
Misalnya: subhanallah, alhamdulillah, istighfar, shalawat. - Belajar mendengarkan
Diam sering kali lebih baik daripada berbicara. - Hindari debat panjang
Terutama di media sosial. Debat jarang menghasilkan kebaikan, lebih sering melahirkan permusuhan.
Penutup
Para ulama salaf memahami bahwa lisan adalah ujian besar bagi setiap manusia. Karena itu mereka lebih memilih kata-kata yang sedikit tetapi penuh manfaat, daripada banyak bicara tetapi tanpa nilai kebaikan. Diam adalah ibadah ketika kata-kata justru membawa dosa.
Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang mampu menjaga lisan dan menghiasinya dengan ucapan yang baik.
Sumber: Hilyat Al-Awliya’, Abu Nu’aim al-Ashfahani