Dalam perjalanan dakwah Islam, para sahabat tidak hanya dikenal karena keberanian dan keteguhan, tetapi juga karena kejernihan hati serta kepekaan mereka terhadap kebenaran. Salah satu kisah yang menggetarkan jiwa adalah kisah Umar bin Khattab sebelum beliau masuk Islam — sebuah kisah yang menunjukkan betapa hidayah Allah dapat menembus hati yang paling keras sekalipun.
Kisah ini menggambarkan bahwa perubahan seseorang tidak terjadi tanpa sebab; ia datang melalui rangkaian peristiwa yang Allah susun secara halus dan penuh hikmah. Salah satu titik balik terbesar dalam hidup Umar adalah ketika beliau mendengar surat Thaha dibacakan dari rumah adiknya, Fatimah binti Khattab.
Kisah Lengkap
1. Umar, Singa Quraisy yang Ditakuti
Sebelum memeluk Islam, Umar bin Khattab adalah tokoh Quraisy yang disegani. Wataknya keras, tegas, dan tidak suka melihat perpecahan. Ketika Islam mulai menyebar, Umar melihat agama baru ini sebagai ancaman bagi tatanan Quraisy. Ia menilai dakwah Muhammad ﷺ menyebabkan konflik sosial.
Sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat sirah (Mahmud Al-Mishri, Shuwar min Hayatish Shahabah), Umar pernah memutuskan: “Aku akan membunuh Muhammad dan mengakhiri semua ini.”
Dengan pedang terhunus, ia melangkah menuju Darul Arqam, tempat kaum muslimin berkumpul diam-diam.
2. Berita yang Membuatnya Berhenti Melangkah
Dalam perjalanan, Umar dihadang seorang laki-laki dari suku Quraisy:
“Engkau hendak ke mana, wahai Umar?”
“Aku ingin membunuh Muhammad.”
“Apakah engkau tidak tahu bahwa adikmu sendiri telah masuk Islam?”
Ucapan itu membuat Umar terhenti. Ia terkejut—adiknya sendiri, Fatimah, masuk Islam? Kemarahannya meluap-luap, lalu ia berbalik arah menuju rumah Fatimah.
3. Suara Bacaan Al-Qur’an dari Rumah Fatimah
Saat Umar mendekat, ia mendengar lantunan ayat Al-Qur’an yang indah namun asing baginya. Di dalam rumah, Fatimah dan suaminya, Sa’id bin Zaid, sedang belajar ayat-ayat dari Surat Thaha bersama seorang sahabat bernama Khabbab ibn Al-Arat.
Ketukan keras Umar membuat mereka terkejut. Khabbab segera bersembunyi. Lembaran Al-Qur’an disembunyikan.
Umar masuk dengan amarah: “Apa suara yang tadi kudengar?!”
Sa’id menjawab: “Kami hanya berbicara di antara kami.”
Umar tidak percaya. Ia memukul Sa’id. Fatimah berusaha melindungi suaminya, tetapi Umar ikut melukai adiknya hingga darah mengalir.
Melihat darah itu, Umar tiba-tiba tersentak. Amarahnya mereda perlahan.
4. “Tunjukkan padaku apa yang kalian baca.”
Umar berkata dengan suara lebih tenang: “Berikan padaku tulisan yang kalian baca itu.”
Fatimah menolak: “Engkau najis karena syirik. Mandilah terlebih dahulu.”
Umar setuju. Setelah mandi, ia kembali, lalu Fatimah memberikan lembaran itu.
Di sinilah titik balik itu terjadi.
5. Surat Thaha yang Melunakkan Hati Umar
Dengan tangan yang bergetar, Umar membaca: “Thaha. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar engkau menjadi susah. Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut kepada Allah.” (QS. Thaha: 1–3)
Umar membaca perlahan, setiap ayat seolah menghujam hatinya. Ketegasan ayat bercampur kelembutan rahmat Allah membuat Umar merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Lalu ia sampai pada ayat: “Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada ilah selain Aku. Maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14)
Ayat ini membuat tubuh Umar bergetar hebat. Mahmud Al-Mishri menuliskan bahwa Umar kemudian berkata: “Betapa indah dan mulianya kalimat ini! Tidak mungkin ini perkataan manusia.”
Khabbab kemudian keluar dari persembunyiannya dan berkata: “Wahai Umar, demi Allah, aku berharap engkau dipilih oleh Allah sebagaimana Rasulullah berdoa: Ya Allah, muliakan Islam dengan Umar bin Khattab atau dengan Amr bin Hisyam.”
Umar menatap Khabbab dan berkata: “Tunjukkan padaku di mana Muhammad berada.”
6. Umar Mengucapkan Syahadat
Dengan pedang yang kini tidak lagi menakutkan, Umar menuju Darul Arqam. Ketika tiba, para sahabat ketakutan, mengira Umar datang untuk membunuh Nabi.
Namun Rasulullah ﷺ berkata: “Biarkan ia masuk.” Umar masuk, menatap Rasulullah ﷺ, lalu berkata: “Aku bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah.”
Teriakan takbir mengguncang rumah Darul Arqam.
Islam telah memenangkan salah satu sosok terkuat Quraisy.
Hikmah Besar dari Kisah Ini
- Hidayah adalah milik Allah sepenuhnya. Tidak ada hati yang terlalu keras untuk dilunakkan Allah, dan tidak ada manusia yang terlalu jauh untuk kembali.
- Kekerasan hati bisa luluh dengan cahaya Al-Qur’an. Ketegasan dan kelembutan bahasa Al-Qur’an adalah senjata hidayah terbesar.
- Para sahabat berjuang dengan ilmu. Mereka belajar, membaca, dan saling mengajar bahkan ketika diancam nyawa.
- Perubahan besar butuh sebuah “momen”. Surat Thaha menjadi momen itu untuk Umar. Setiap orang memiliki titik baliknya masing-masing.
Sumber: Mahmud Al-Mishri (Abu ‘Amr), “Shahabiyah wa Shahabah: Suwar min Hayatihim”, Dar Al-Mishriyah.