Di masa lalu, tetangga bagaikan keluarga terdekat. Saling sapa, saling bantu, saling menjaga. Namun di zaman sekarang, tidak sedikit orang yang bahkan tidak mengenal siapa tetangganya sendiri, meskipun rumah bersebelahan bertahun-tahun. Individualisme, kesibukan dunia, dan kecanggihan teknologi perlahan mengikis adab bertetangga yang dahulu sangat dijaga dalam Islam.
Padahal, dalam Islam, hak tetangga adalah hak yang besar, bahkan disandingkan dengan hak orang tua dan kaum kerabat.
1. Kedudukan Tetangga dalam Islam Sangat Agung
Islam memuliakan tetangga, baik tetangga Muslim maupun non-Muslim. Allah Ta’ala berfirman: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh…” (QS. An-Nisa: 36)
Rasulullah ﷺ bersabda: “Jibril terus-menerus mewasiatkan kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga, sampai aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapatkan hak waris.” (HR. Bukhari no. 6014 dan Muslim no. 2625)
Hadis ini menunjukkan betapa besar hak tetangga dalam Islam, sampai-sampai Rasulullah hampir mengira tetangga akan mendapat warisan.
2. Adab Bertetangga yang Hampir Hilang di Zaman Ini
a. Memberi Rasa Aman kepada Tetangga
Rasulullah ﷺ bersabda: “Demi Allah, tidak beriman! Demi Allah, tidak beriman! Demi Allah, tidak beriman!”
Para sahabat bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. Bukhari no. 6016)
Kini, banyak gangguan yang sering diremehkan:
- Suara bising berlebihan
- Parkir sembarangan di depan rumah tetangga
- Sampah dibuang sembarangan
Padahal, mengganggu tetangga adalah tanda lemahnya iman.
b. Saling Menolong, Bukan Saling Acuh
Dulu, jika satu rumah tertimpa musibah, seluruh tetangga ikut membantu. Namun kini, banyak yang lebih peduli dengan dunia digital daripada kondisi sekitar.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah beriman seseorang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman)
Islam mengajarkan kepedulian sosial yang tinggi, bukan sikap egois dan acuh.
c. Menjaga Lisan dan Sikap terhadap Tetangga
Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bentuk memuliakan tetangga di antaranya:
- Tidak membicarakan aib mereka
- Tidak memfitnah
- Tidak menyebar kebencian
- Tidak mudah tersulut emosi
Di zaman media sosial, dosa lisan semakin mudah terjadi, bahkan dengan satu unggahan.
d. Berbuat Baik Walau Dibalas Buruk
Tidak semua tetangga bersikap baik. Ada yang menyebalkan, menyakiti, bahkan memusuhi. Namun Islam tetap memerintahkan untuk bersabar.
Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang tetangganya yang sering menyakitinya. Nabi bersabda: “Bersabarlah.” (HR. Abu Dawud)
Berbuat baik kepada tetangga yang buruk akhlaknya adalah kemuliaan iman yang tinggi.
e. Saling Memberi Hadiah dan Perhatian
Rasulullah ﷺ bersabda: “Wahai Aisyah, jika engkau ingin memberi hadiah, maka dahulukanlah tetangga yang paling dekat pintunya.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)
Memberi makanan, berbagi hasil masakan, atau sekadar memberi buah tangan kecil dapat melunakkan hati dan mempererat ukhuwah.
3. Dampak Hilangnya Adab Bertetangga
Jika adab bertetangga hilang, maka yang muncul adalah:
- Permusuhan antarwarga
- Lingkungan yang tidak aman
- Rusaknya ukhuwah
- Hilangnya rasa kepedulian sosial
- Mudah terjadi konflik kecil yang membesar
Padahal, Islam ingin membentuk masyarakat yang penuh kasih sayang, bukan saling mencurigai.
4. Cara Menghidupkan Kembali Adab Bertetangga
Beberapa langkah sederhana yang bisa kita mulai:
- Membiasakan salam ketika bertemu
- Tidak mengganggu dengan suara dan perbuatan
- Peduli saat tetangga sakit atau tertimpa musibah
- Saling berbagi meski sederhana
- Menahan diri dari gertakan, amarah, dan prasangka buruk
- Perubahan besar selalu dimulai dari amal kecil yang istiqamah.
Penutup
Adab bertetangga bukan sekadar sopan santun sosial, tapi bagian dari keimanan. Di saat zaman semakin individualis, seorang Muslim justru harus tampil sebagai sosok yang menyejukkan lingkungannya.
Jangan sampai kita rajin beribadah, tetapi tetangga tidak merasa aman dengan kehadiran kita.
Sumber:
Al-Adab Al-Mufrad – Imam Al-Bukhari
Syu’abul Iman – Al-Baihaqi
Riyadhus Shalihin – Imam An-Nawawi
Fathul Bari – Ibnu Hajar Al-Asqalani (Syarah hadis bertetangga)