Ketika orang membayangkan khalifah Bani Umayyah, sering terlintas gambaran istana megah, kekuasaan, dan kemewahan. Namun di tengah sejarah itu, ada satu sosok yang justru dikenal dengan air mata, kesederhanaan, dan rasa takutnya kepada Allah. Dialah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, seorang khalifah yang oleh banyak ulama disebut sebagai “Khalifah Rasyid kelima” karena keadilan dan ketakwaannya.
Latar Belakang dan Nasab
Umar bin Abdul Aziz lahir pada tahun 61 H. Ia adalah cicit dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Nasabnya bertemu dengan Umar bin Khattab melalui ibunya, Ummu ‘Ashim binti ‘Ashim bin Umar bin Al-Khattab. Dari garis ini, kita melihat bahwa Umar bin Abdul Aziz mewarisi bukan hanya darah, tetapi juga warisan spiritual dan keteladanan dari keluarga yang mulia.
Ia tumbuh di lingkungan keluarga penguasa Bani Umayyah, dengan akses kepada kenyamanan dan fasilitas dunia. Namun Allah takdirkan ia didekatkan dengan para ulama dan orang-orang shalih, sehingga hatinya lebih terpaut kepada ilmu dan akhirat daripada dunia.
Pendidikan dan Pergaulan dengan Ulama
Sejak muda, Umar dididik dan dibimbing oleh para ulama besar di Madinah, di antaranya para fuqaha terkenal yang disebut sebagai “Al-Fuqaha As-Sab’ah (tujuh ahli fiqih Madinah)”. Di kota Nabi itu, ia belajar tentang hadis, fiqih, zuhud, dan adab.
Inilah salah satu rahasia mengapa ketika nanti ia memegang kekuasaan, cara berpikirnya lebih mirip ulama daripada politisi. Keputusan-keputusannya penuh dengan rasa takut kepada Allah dan keinginan menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ.
Diangkat Menjadi Khalifah
Sebelum menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz sempat menjabat sebagai gubernur Madinah. Di sana ia sudah terkenal adil, lembut, dan dekat dengan rakyat. Namun perubahan paling besar terjadi ketika ia diangkat menjadi khalifah menggantikan Sulaiman bin Abdul Malik.
Begitu amanah khilafah sampai ke tangannya, wajahnya berubah. Hilanglah kegembiraan dunia, berganti dengan rasa takut dan khawatir akan hisab di hadapan Allah. Diriwayatkan bahwa dalam waktu yang singkat, fisiknya tampak jauh lebih kurus dibanding sebelum menjadi khalifah. Seolah-olah beban umat benar-benar ia pikul di atas pundaknya.
Reformasi Besar: Mengembalikan Hak-Hak yang Dizalimi
Langkah-langkah Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah sangat jelas arahnya: mengembalikan umat kepada keadilan dan sunnah.
Beberapa di antara kebijakannya:
- Mengembalikan harta-harta hasil kezaliman
Tanah-tanah, aset, dan kekayaan yang diambil secara zalim oleh para penguasa sebelumnya dikembalikan ke baitul mal atau kepada pemiliknya yang sah. Ia sendiri mengembalikan harta-harta yang pernah ia peroleh dari fasilitas kekuasaan, sampai keluarganya merasa kehilangan kemewahan yang dulu mereka nikmati. - Memperkuat peran baitul mal dan memperbaiki distribusi harta
Zakat dan pajak dikelola dengan amanah. Para amil dipantau ketat agar tidak berkhianat. Di beberapa wilayah, diceritakan sampai sulit menemukan orang yang mau menerima zakat karena kebutuhan mereka sudah tercukupi. - Menghentikan kezhaliman dan kekerasan politik
Ia memerintahkan agar praktik-praktik kejam yang terjadi di masa-masa sebelumnya dihentikan. Ia melarang mencaci di mimbar, mengurangi tekanan politik, dan memerintah dengan pendekatan ilmu, dialog, dan hujjah, bukan kekerasan. - Menghidupkan Majelis Ilmu dan Sunnah Nabi
Umar sangat mendorong penyebaran ilmu. Ia mendekatkan diri kepada ulama, meminta nasihat mereka, dan menjadikan sunnah Rasulullah ﷺ sebagai rujukan utama kebijakan.
Zuhud dan Takut akan Hisab
Padahal ia adalah khalifah, penguasa yang bisa hidup semaunya. Namun kehidupan pribadinya jauh dari kemewahan. Ia memakai pakaian sederhana, makanan biasa, dan sangat menjaga perbedaan antara harta pribadinya dan harta negara.
Dikisahkan, ketika ia sedang mengurus urusan negara dan ada seseorang masuk untuk menyampaikan kebutuhan pribadi, Umar memadamkan lampu yang minyaknya dibiayai oleh baitul mal, lalu menyalakan lampu lain milik pribadinya. Ketika ditanya, ia menjawab intinya:
“Lampu yang tadi minyaknya milik umat, dan kita tadi sedang mengurus urusan mereka. Sekarang kita urus urusan pribadimu, maka kita gunakan yang menjadi hakku.”
Banyak malam ia habiskan untuk menangis, merenungi amanah besar yang Allah titipkan. Ia merasa takut bila ada satu saja rakyat yang terzhalimi, lalu ia tidak membelanya, Allah akan menuntut dirinya di hari kiamat. Sampai-sampai istrinya mengatakan bahwa ia sering melihat Umar menangis sendiri di sudut kamar, mengingat kematian dan hisab.
Dampak Kepemimpinannya bagi Umat
Masa kekhilafahan Umar bin Abdul Aziz sangat singkat, sekitar 2 tahun lebih sedikit. Namun dalam waktu sesingkat itu, dampaknya terasa luas:
- Keamanan meningkat
- Keadilan lebih merata
- Rakyat merasakan kelegaan setelah masa-masa penindasan
- Ilmu dan sunnah lebih dihargai
- Harta umat dikelola dengan amanah
Di sebagian negeri, disebutkan bahwa nyaris tidak ada lagi yang mau menerima zakat, karena mereka sudah tercukupi dan merasa tidak berhak. Ini menunjukkan betapa seriusnya upaya Umar dalam menyejahterakan rakyat, bukan hanya segelintir elit.
Wafatnya Umar bin Abdul Aziz
Umar bin Abdul Aziz wafat dalam usia yang tidak terlalu tua dan masa pemerintahan yang singkat. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa ia diracun karena ada pihak-pihak yang tidak suka terhadap kebijakan adil dan bersihnya.
Namun ia meninggalkan jejak yang sangat dalam: model pemimpin yang takut kepada Allah, mencintai keadilan, hidup zuhud, dan mengutamakan akhirat daripada singgasana dunia. Banyak ulama setelahnya menjadikannya sebagai contoh ideal pemimpin Muslim.
Pelajaran dari Umar bin Abdul Aziz untuk Kita
Dari kisah beliau, ada beberapa pelajaran penting:
- Kekuasaan adalah amanah, bukan kehormatan semata
Ia memandang jabatan sebagai beban yang akan dipertanggungjawabkan, bukan sebagai kebanggaan yang pantas disombongkan. - Ilmu dan keadilan harus berjalan bersama
Kepemimpinannya kuat karena dibangun di atas pondasi ilmu syar’i dan nasihat para ulama. - Zuhud bukan berarti anti-dunia, tapi tidak diperbudak oleh dunia
Ia punya kesempatan untuk hidup mewah, tetapi memilih kesederhanaan demi keselamatan akhirat. - Perubahan besar bisa terjadi meski waktu singkat, jika ikhlas dan sungguh-sungguh
Hanya sekitar dua tahun lebih, tetapi keadilan dan keberkahan yang lahir dari kepemimpinannya dikenang berabad-abad.
Sumber:
Ali Muhammad ash-Shallabi, Asy-Syaikh Al-Khalifah Ar-Rasyid Umar bin Abdul Aziz: Az-Zahid Al-Mujaddid
Adz-Dzahabi, Siyar A‘lām An-Nubalā’