Abu Dzar Al-Ghifari

Beliau adalah Abu Dzarr Jundub bin Junadah bin Sakan Al-Ghifari radhiyallhu ‘anhu. Beliau termasuk seorang sahabat yang pertama kali masuk Islam dan sahabat Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam yang paling baik. Beliau adalah seorang pemuka dalam hal zuhud, kejujuran, ilmu dan amal, berani mengatakan kebenaran, tidak takut celaan para pencela dalam berdakwah di Jalan Allah Ta’ala.

Suatu hari ketika Abu Dzar di kampungnya, beliau mendengar berita tentang seorang nabi yang baru muncul di Mekah. Maka disuruhlah saudaranya Unais untuk memeriksa kebenaran berita itu.

Abu Dzar berkata, “Pergilah engkau ke Mekah, selidiki sampai di mana kebenaran berita mengenai seseorang yang mengatakan bahwa dirinya seorang nabi dan dia mengatakan mendapat wahyu dari langit. Simaklah segala ucapannya dengan teliti, kemudian laporkan kepadaku.”

Unais pun pergi ke Mekah dan bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam. Dia mendengarkan ucapan-ucapan beliau, kemudian kembali ke desanya menemui Abu Dzar yang menunggu-nunggu dengan penuh harap. Abu Dzar pun langsung menanyakan berita tentang Nabi yang baru itu dengan penuh rasa ingin tahu.

Unais berkata, “Demi Allah! Aku telah melihat orang itu. Dia mengajak orang supaya berakhlak mulia dan kata-katanya jelas bukan syair.”

Abu Dzar bertanya, “Bagaimana pendapat orang banyak mengenai pribadinya?”

“Mereka mengatakan tukang sihir, dukun, dan penyair,” jawab Unais.

Abu Dzar berkata, “Demi Allah, laporanmu tidak memuaskanku karena tidak memenuhi apa yang aku inginkan. Maukah engkau menjaga keluargaku, biar aku pergi ke sana meneliti kegiatannya?”

Unais menjawab, “Boleh, tetapi berhati-hatilah engkau menjaga diri terhadap tindakan penduduk Mekah.”

Abu Dzar pun menyiapkan perbekalan untuk dibawanya. Keesokan harinya ia berangkat ke Mekah hendak menemui nabi dan mencari berita tentang pribadi beliau.

Setibanya di Mekah, Abu Dzar menyamar sebagai musafir untuk menghindari tindakan penduduk Mekah. Dia pernah mendengar berita tentang kemarahan kaum Qurays karena tuhan mereka disepelekan. Mereka menyiksa setiap orang yang mengatakan menjadi pengikut Nabi Muhammad. Karena itu, Abu Dzar enggan bertanya-tanya kepada siapapun juga tentang nabi yang baru diutus itu. Sebab, dia tidak tahu apakah orang yang akan ditanya itu pembela Muhammad atau musuhnya.

Setelah malam hari, Abu Dzar tidur di dekat Ka’bah. Ali bin Abi Thalib melintas di dekatnya. Ali dapat mengetahui bahwa Abu Dzar adalah orang asing. Ali pun berkata, “Wahai orang asing, ikutilah bersamaku.”

Abu Dzar pun pergi bersama Ali dan bermalam di rumahnya. Pagi-pagi sekali Abu Dzar kembali ke Ka’bah sambil membawa kantong perbekalannya tanpa banyak bertanya kepada Ali mengenai urusan masing-masing. Hari kedua pun dilalui Abu Dzar seperti hari pertama. Dia belum juga mengenal yang mana nabi yang dicarinya itu. Ketika tiba petang hari dan dia bersiap tidur di Ka’bah, melintaslah Ali di dekatnya. Ali bertanya, “Apakah engkau juga belum mengetahui tempatmu menginap?”

Ali pun kembali mengajak Abu Dzar untuk bermalam di rumahnya. Di malam kedua itu mereka masih tetap saling diam, masing-masing tidak bertanya satu sama lain. Di malam ketiga barulah Ali berkata kepada tamunya, “Mudah-mudahan engkau tidak keberatan mengabarkan kepadaku maksud (tujuan) kedatanganmu ke Mekah.”

Maka Abu Dzar menjawab, “Jika engkau berjanji membantuku, aku akan jelaskan kepadamu tujuanku datang ke sini.” Ali pun menyatakan kesediaannya dan berjanji akan membantunya.

ِAbu Dzar berkata, “Aku datang ke sini dari jauh, sengaja hendak bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam yang baru diutus dan ingin mendengar apa yang dikatakannya.”

Wajah Ali pun terpancar tanda kegembiraan. Ia berkata, “Demi Allah, memang sesungguhnya dia adalah Rasulullah.” Selanjutkan Ali menceritakan kepada Abu Dzar bukti-bukti kerasulan Muhammad dan dakwah yang dibawa beliau.

Kata Ali selanjutnya, “Besok pagi kita pergi dengan diam-diam. Jika aku melihat sesuatu yang membahayakanmu, aku akan berhenti ke tembok dan pura-pura memperbaiki sandalku. Bila aku meneruskan jalanku, ikutilah aku hingga tiba di suatu tempat. Apabila aku memasukinya, masuk jugalah engkau.”

Abu Dzar tidak dapat memejamkan mata selama semalaman, karena sangat rindu hendak bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dan mendengarkan yang diwahyukan kepadanya. Pagi harinya Ali bersama tamunya pergi ke kediaman Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam yang mulia. Abu Dzar mengikuti Ali dari belakang tanpa menoleh sedikitpun.

Setibanya di kediaman Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam Abu Dzar pun mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum Ya Rasulullah.”

Dan Rasulullah pun menjawab, “Wa’alaikassalamullahi warahamatuhu wabarakatuhu.”

Dalam sejarah Islam tercatat bahwa Abu Dzar adalah orang pertama yang pertama kali mengucapkan salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dengan salam penghormatan secara Islam. Sesudah itu salam tersebut tersebar luas dan merata di kalangan umat Islam.

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam pun mengajak Abu Dzar masuk Islam. Beliau juga membacakan ayat-ayat Al Quran kepadanya. Dan Abu Dzar mengucapkan kalimat syahadat di hadapan beliau. Dia masuk Islam sebelum agama baru yang dianutnya itu sampai ke negerinya. Dia orang keempat atau kelima yang masuk Islam.

Rasulullah pun bertanya, “Sejak kapan engkau di sini?” Abu Dzar menjawab, “Sudah 30 hari.” “Siapa yang memberi makan kepadamu?” tanya beliau lagi. “Aku tidak makan dan minum kecuali air zamzam, ” jawabnya. Maka, Rasulullah pun bersabda yang artinya, “Sesungguhnya air zamzam itu membawa berkah dan makanan bagi orang-orang yang lapar, (serta obat bagi penyakit).” (HR. Muslim).

Abu Dzar kembali mengisahkan, “Aku tinggal di Mekah bersama Rasulullah dan beliau mengajarkan Islam dan membacakan ayat-ayat Al-Quran kepadaku.” Kemudian beliau menasehatiku, “Jangan diceritakan kepada siapapun dari penduduk Mekah bahwa engkau sudah masuk Islam. Aku khawatir kalau mereka akan membunuhmu.”

“Demi Allah yang jiwaku yang ada di tangan-Nya, aku tidak akan meninggalkan Mekah sebelum aku mendatangi masjid dan meneriakkan kalimat yang haq di tengah-tengah kaum Qurays,” jawabku.

Rasulullah diam saja mendengar jawabanku. Kemudian aku mendatangi masjid saat orang Qurays sedang duduk bercakap-cakap. Aku datang ke tengah-tengah mereka, lalu aku berseru dengan keras, “Wahai kaum Qurays! Aku bersaksi bahwa sesungguhnya  tidak ada Ilah yang berhak diibadahi  dengan benar selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah.”

Spontan mereka berkata, “Tangkap dia telah meninggalkan agama nenek moyangnya.”

Akupun dikeroyok dan hendak dibunuh oleh mereka. Tapi, untunglah Abbas bin Abdul Muthallib paman Nabi datang melindungiku. Abbas berkata, “Celaka kalian! Mengapa kalian hendak membunuh orang ghifar? Padahal Ghifar adalah tempat kafilah kalian melintasnya.” Maka merekapun berhenti menggeroyokku.

Sesudah itu, aku pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam . Setelah beliau melihatku babak belur, beliau berkata, “Bukankah aku sudah melarangmu mengatakan kepada mereka bahwa engkau telah masuk Islam?”

“Aku penasaran sebelum tekad ini aku lakukan,” jawabku.

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam berkata kepadaku, “Sekarang sebaiknya engkau kembali ke kaummu. Beritakan kepada mereka tentang apa yang engkau saksikan dan engkau dengar. Ajaklah kaummu kepada agama Allah, semoga ajakanmu bermanfaat bagi mereka. Apabile engkau mendengar berita bahwa aku telah berdakwah secara terang-terangan atau terbuka, datanglah kembali kepadaku.”

Aku pun pulang ke kampungku.

Sesampainya di kampung, saudaraku Unais bertanya, “Apa yang telah engkau lakukan?”

“Aku sudah masuk Islam dan mengakui kebenaran agama itu,” jawabku.

Tidak berapa lama kemudian, Allah melapangkan dada Unais. Dan ia mengatakan kepadaku, “Tidak ada alasan bagiku membenci agamamu. Karena itu aku masuk Islam dan mengakui pula kebenarannya.”

Kemudian kami mendatangi ibu kami, lalu kami mengajaknya untuk masuk Islam. Ibuku berkata, “Aku sungguh tertarik pada agama kalian.” Lalu ibuku pun masuk Islam.

Maka sejak saat itu keluarga mukmin ini berdakwah di kampung Ghifar tanpa merasa lelah dan jemu. Dan banyak penduduk Ghifar yang masuk Islam.

Ketika suku Ghifar dan suku Aslam datang Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda kepada mereka, “Semoga Allah mengampuni mereka (ghifar) dan Aslam sallamahullah (semoga Allah mendamaikan mereka (Aslam)).”

Abu Dzar tetap tinggal di kampungnya sampai berlalu perang Badar, Uhud,dan Khandaq. Setelah itu, ia pindah untuk mengabdikan dirinya bersama Rasulullah saw dan beliau pun berkenan menerima Abu Dzar, serta mengizinkan tinggal di samping beliau. Abu Dzar sangat senang dapat berdekatan dengan Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dan merasa bahagia dapat berkhidmat kepada beliau.

Sejak Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam wafat, Abu Dzar tidak betah tinggal di Madinah. Kota itu terasa kosong bagi dirinya sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam . Abu Dzar pun pergi ke Syam dan menetap di sana selema pemerintahan Abu Bakar Ash Shidiq dan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhuma.

Pada zaman pemerintahn Utsman, Abu Dzar tinggal di Damaskus. Akan tetapi khalifah Utsman memerintahkannya untuk pindah ke Rabadzah, sebuah perkampungan kecil di dekat kota Madinah. Abu Dzar pun tinggal di kampung itu yang jauh dari masyarakat ramai. Dia lebih mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia, menjauhkan diri dari kecenderungan hidup mewah dengan harta dunia, dan mempertahankan hidup sederhana seperti yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dan dua shahabat beliau, yaitu Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma.

Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Umar dan Utsman radhiyallahu anhuma beliau diberi mandat untuk berfatwa. Beliau ikut menaklukan Baitul Maqdis bersama Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.

Hadits beliau yang terdapat dalam kitab-kitab hadits sebanyak 251 hadits.

Beliau wafat pada tahun 32 hijriyah di Rabadzah dan jenazahnya dishalatkan oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu.

Sumber: Wasiat Nabi kepada Abu Dzar, Yazid Abdul Qadir Jawwas, Pustaka At-Taqwa.  

Baca Juga