Geng Neo-Nazi 969 Bantai Muslim Myanmar

BURMA (SALAM-ONLINE): Ketakutan dengan gerombolan kelompok Budha ekstrem yang turun ke jalanan dengan mengacungkan pisau dan kampak menyebakan ribuan Muslim mengungsi dari Utara Myanmar.

“Mereka menyerang setiap Muslim dan berkeliling dengan pisau dan tongkat kayu,” ujar Win Ko, tukang sayur berumur 32 tahun kepada Agence France-Presse (AFP) Kamis (30/5/2013).

Gelombang kerusuhan baru merebak di kota Lhasio sejak Rabu (29/5/2013) setelah tersebar isu seorang Muslim membakar wanita Budha. Sejak itu, ratusan ekstrimis Budha turun ke jalan dengan menggunakan motor membakari rumah Muslim, termasuk masjid-masjid dan membunuhi uslim yang mereka jumpai.

Menurut aktivis hak asasi manusia Myanmar dan peneliti di London School of Economics, Dr Muang Zarni, sebagian besar peristiwa penyerangan Muslim di Myanmar tak bisa dilepaskan dari rekayasa grup 969, yang merupakan kelompok Neo-Nazi yang menggunakan taktik ala Hitler dengan idenya “memurnikan” Myanmar dari etnis Muslim.

Dan geng 969 adalah gerakan yang paling pesat berkembang di Myanmar saat ini.

Saksi mata mengatakan, sebagian dari gerombolan ekstrimis budha tersebut mengenakan pakaian bikhsu budha dengan membawa pisau, kampak dan balok kayu.

Beberapa tetangga budha hanya bisa melihat tetangganya dikejar-kejar dan dipukuli.

“Kami melihat tetangga Muslim kami seorang tua dipukuli ketika mencoba lari keluar dari mobilnya,” katanya.

Namun pejabat resmi hanya mengumumkan satu korban jiwa dan 5 luka-luka dalam perburuan terhadap Muslim ini, meski ratusan toko dan rumah serta masjid habis dibakar.

Khin Kyi telah membawa keluarganya mengungsi ke daerah pemukiman yang didominasi etnis Cina, dimana ekstrimis Budha terus menerus mencari orang Muslim dari rumah ke rumah.

“Kami sangat ketakutan dan belum pernah terjadi seperti ini sebelumnya,” ungkap Khin Kyi seperti dikutip Reuters.

Thein Maing, pengungsi lainnya bersama istri dan 6 anaknya, mengatakan bahwa mereka takut tinggal di rumahnya.

“Kami mengatakan kepada yang datang setelah itu bahwa kami tidak tahu harus ke mana, dan mereka mengirim kami ke biara ini,” katanya.

Seorang aktivis kemanusiaan setempat bernama Kyaw Kyaw Tun mengatakan bahwa kaum Muslimin dibawa ke biara untuk menghindari bentrokan lebih lanjut.

“Kami membawa mereka ke sini dari tempat persembunyian mereka dan mengatakan kepada mereka akan membawa mereka ke tempat yang lebih aman,” ungkapnya tanpa menjelaskan rencana selanjutnya dibawa ke mana.

Menurut Kyaw Kyaw, seorang tentara berdiri menjaga sebuah masjid yang habis terbakar dengan pecahan kaca dan sisa-sisa buku yang terbakar di sekitarnya. Beberapa perabot juga rusak dan terbakar.

“Kami berada di sini untuk menjaga pembakaran lebih lanjut,” katanya.

Juru bicara pejabat setempat, Ye Htut, mengatakan tiga masjid hangus terbakar, termasuk satu masjid terbesari di wilayah Lhasio serta 32 toko dan sebuah gedung bioskop.

Kaum Muslimin Rohingya adalah campuran antara India, Cina dan Bangladesh dengan populasi 4% dari 60 juta penduduk Myanmar. Mereka memasuki Myanmar sebagai buruh perkebunan yang dibawa oleh pemerintah Inggris pada 1948.

Walaupun sejarah telah merekam jejak awal keberadaan Muslim Rohingya-Arakan di Myanmar, namun mereka tidak pernah diterima secara penuh dan dianggap sebagai warga asing.