Surah al-Anfaal 3

Ayat 30, yaitu firman Allah ta’ala

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (al-Anfaal: 30)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa sejumlah orang Quraisy dan para pemuka tiap suku berkumpul hendak memasuki Daarun Nadwah, tapi Iblis menghadang mereka dalam penampilan seorang tua terhormat. Tatkala mereka melihatnya, mereka bertanya, “Siapa Anda?” Ia menjawab, “Saya seorang sesepuh dari Nejed. Saya mendengar urusan yang membuat kalian mengadakan pertemuan ini sehingga saya ingin ikut hadir. Kalian tidak akan rugi mendengar nasihat dan pendapat saya.” Mereka menjawab, “Baiklah, silakan masuk.” Lalu ia pun masuk bersama mereka. Kemudian ia mengatakan, “Pikirkanlah cara menghadapi orang ini!”

Seseorang berkata, “Belenggu dia dengan tali lalu tunggu saja maut menjemputnya hingga ia mampus seperti para penyair sebelumnya–Zuhair dan an-Nabighah–sebab dia tidak lebih seperti mereka.” Musuh Allah (Iblis) yang menjelma sebagai sesepuh dari Nejed itu berkata, “Tidak, sungguh ini bukan pendapat yang tepat. Dia bisa saja mengirim berita kepada sahabat-sahabatnya sehingga mereka bergerak merebutnya dari tangan kalian, lalu mereka melindunginya dari gangguan kalian. Kalau sudah begitu, aku khawatir mereka akan mengusir kalian dari negeri kalian. Carilah pendapat lain.!”

Seseorang berkata, “Usir saja dia dari negeri kalian agar kalian dapat hidup tenang. Sebab, kalau dia sudah keluar, apa yang ia perbuat tidak akan merugikan kalian.” Sesepuh Nejed itu berkata, “Tidak, sungguh ini bukan pendapat yang bagus. Tidakkah kalian lihat betapa pandainya ia menarik hati orang dengan perkatannya?! Demi Allah, seandainya kalian melakukan pilihan ini, lalu ia membujuk orang-orang Arab, pasti mereka bersatu di bawah komandonya, lalu ia akan membantai para pemimpin kalian.” Kata orang-orang itu, “Dia benar! Pikirkan cara lain!”

Abu Jahal berkata, “Demi Allah, aku akan kemukakan kepada kalian pendapat yang tidak terpikirkan oleh kalian. Aku tidak melihat pendapat lain.” Mereka bertanya, “Apa pendapatmu?” Ia menerangkan, “Kalian ambil seorang pemuda yang kuat dari tiap suku, lalu masing-masing diberi pedang yang tajam, lalu mereka menikamnya secara bersama-sama. Kalau kalian membunuhnya, darahnya akan terbagi kepada seluruh suku. Kukira satu marga dari Bani Hasyim itu tidak akan sanggup memerangi seluruh Quraisy. Dan kalau mereka menyadari hal itu, pasti mereka mau menerima tebusan. Dengan demikian, kita bisa tenang dan terbebas dari gangguannya.”

Akhirnya mereka bubar setelah sepakat untuk melaksanakan rencana ini. Lalu Jibril mendatangi Nabi saw. dan menyuruhnya untuk tidak tidur di pembaringannya yang biasa ia tempati. Dia memberi tahu beliau tentang makar kaum Quraisy. Rasulullah pun tidak tidur di rumahnya pada malam itu. Dan pada waktu itulah Allah memerintahkan beliau untuk keluar (dari Mekah), dan setelah beliau tiba di Madinah Dia menurunkan firman-Nya, “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu …” (152)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari jalur Ubaid bin Umari dari al-Muththalib bin Abi Wadaa’ah bahwa suatu ketika Abu Thalib bertanya kepada Nabi saw., “Apa yang dirundingkan kaummu?” Beliau menjawab, “Mereka hendak memenjarakan aku, atau membunuhku, atau mengusirku.” Tanya Abu Thalib lagi, “Siapa yang memberitahukan demikian kepadamu? Beliau menjawab, “Tuhanku.” Kata Abu Thalib, “Sebaik-baik Tuhan adalah Tuhanmu, maka jagalah baik-baik.” Rasulullah menyahut, “Aku menjaga-Nya? Dialah yang justru menjagaku!” Maka turunlah ayat di atas.

Ibnu Katsir berkata, “Disebutkannya nama Abu Thalib dalam riwayat ini adalah ghariib, bahkan mungkar, sebab kisah ini terjadi pada malam hijrah, yang terjadi tiga tahun setelah kematian Abu Thalib.” (153)

Ayat 31, yaitu firman Allah t’ala,

“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau kami menhendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini, (Al Qur’an) ini tidak lain hanyalah dongeng-dongengan orang-orang purbakala”. (al-Anfaal: 31)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa Sa’id ibnuz-Zubair berkata, “Pada Perang Badar, Nabi saw. membunuh Uqbah bin Abi Mu’ith, Thu’aimah bin Adi, dan an-Nadhr ibnul-Harits dalam keadaan terbelenggu. Al-Miqdadlah yang menawan an-Nadhr. Maka ketika beliau memerintahkan agar an-Nadhr dibunuh, dia mengadu, ‘Wahai Rasulullah, dia adalah tawanan saya!’ Rasulullah bersabda, ‘Dahulu dia pernah mengatakan sesuatu (yang keji) tentang Kitabullah.’ Mengenai dirinyalah diturunkan ayat, ‘”Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami,…” (154)

Ayat 32, yaitu firman Allah ta’ala,

“Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata : “Ya Allah, jika betul (Al Qur’an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih”. (al-Anfaal: 32)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Sa’id ibnuz-Zubair tentang firman-Nya,

“Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata : “Ya Allah, jika betul (Al Qur’an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau,...”

Ia berkata, “Ia turun tentang an-Nadhr ibnul-Harits.” (155)

Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas, ia berkata, “Abu Jahl bin Hisyam mengatakan, ‘…Ya Allah, jika (Al-Qur’an) ini benar (wahyu) dari Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.’ maka turunlah ayat 33, ‘Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka…'” (156)

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Dahulu orang-orang musyrik berthawaf di Ka’bah dan berucap, “Ya Allah, ampunilah kami!’ Maka Allah menurunkan firman-Nya, ‘Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka…'” (157)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Yazid bin Rumaan dan Muhammad bin Qais bahwa orang-orang Quraisy berkata satu sama lain, “Muhammad adalah orang yang dimuliakan Allah di antara kita.”

“Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata : “Ya Allah, jika betul (Al Qur’an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih”. (al-Anfaal: 32)

Akan tetapi pada sore harinya mereka menyesali apa yang telah mereka katakan tadi, dan mereka berdoa, “Ya Allah, ampunilah kami!” Maka Allah menurunkan ayat 33, “… Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” hingga firman-Nya ayat 34, “…Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (158)

Ibnu Jarir juga meriwayatkan dari Ibnu Abza bahwa Rasulullah masih berada di Mekah ketika Allah menurunkan ayat 33, “‘Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka…'” Setelah beliau hijrah ke Madinah, Allah menurunkan firman-Nya, “… Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” Sisa kaum muslimin yang masih berada di Mekah senantiasa beristighfar, dan setelah mereka berhijrah Allah menurunkan firman-Nya di ayat 34, “Dan mengapa Allah tidak menghukum mereka…” Lalu Dia memerintahkan penaklukan Mekah, dan itulah azab yang dijanjikan-Nya kepada mereka. (159)

Ayat 35, yaitu firman Allah ta’ala,

“Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.” (al-Anfaal: 35)

Sebab Turunnya Ayat

Al-Wahidi meriwayatkan bahwa Ibnu Umar berkata, “Dahulu mereka berthawaf di Ka’bah samil bertepuk tangan dan bersiul, maka turunlah ayat ini.” (160)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Sa’id, ia berkata, “Quraisy dahulu membarengi Nabi saw. ketika thawaf, dengan tujuan mengejek beliau dan bersiul serta bertepuk tangan. Maka turunlah ayat ini.” (161)

Ayat 36, yaitu firman Allah ta’ala,

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan,” (al-Anfaal: 36)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Ishaq mengatakan, “Aku pernah diberi tahu oleh az-Zuhri, Muhammad bin Yahya bin Hibban, ‘Ashim bin Umar bin Qatadah, dan al-Hushain bin Abdurrahman bin ‘Amr bin Sa’ad bahwa ketika Quraisy kalah pada Perang Badar dan mereka pulang ke Mekah… Abdullah bin Abi Rabii’ah, ‘Ikrimah bin Abi Jahl, dan Shafwaan bin Abi Umayyah, bersama-sama sejumlah orang Quraisy yang lain yang ayah atau anak mereka tewas, menemui Abu Sufyan dan orang-orang Quraiys yang punya barang dagangan dalam kafilah (162) itu. Kata mereka, ‘Hari orang-orang Quraiys, Muhammad telah membantai orang-orang terbaik di antara kalian. Maka, bantulah kami dengan harta ini untuk memeranginya. Mudah-mudahan kita bisa membalas dendam kepadanya.’ Mereka pun sepakat–sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Maka Allah menurunkan firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka…,’ hingga firman-Nya, ‘…orang-orang kafir itu akan dikumpulkan.””

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari al-Hakam bin Utaibah, ia mengatakan, “Ayat ini turun tentang Abu Sufyan yang mendermakan empat puluh uqiyah emas kepada kaum musyrikin.”

Sedangkan Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abza dan Sa’id ibnuz-Zubair bahwa ayat ini turun tentang Abu Sufyan. Pada Perang Uhud dia mengupah dua ribu orang Habbasyah untuk membantunya memerangi Rasulullah. (163)

152. Disebutkan oleh al-Qurthubi (4/2922). Katanya, “Kisah ini masyhur dalam as-Siraah dan lain-lain.” Ibnu Katsir (2/402) mengatakan bahwa Ahmad berkata, “Abdurrazzaq menceritakan kepada kami… dari Ibnu Abbas tentang firman-Nya “wa idz yamkuru bika”, ia berkata, ‘Pada suatu malam orang-orang Quraiys mengadakan musyawarah. Salah seorang dari mereka berkata, ‘Esok pagi, ikat saja dia dengan tali!”

Yang ia maksud adalah Nabi saw.. Ada pula yang berkata, ‘Bunuh saja!’ Juga ada yang berpendapat, ‘Usir saja! Lalu Allah memberitahukan hal itu kepada Nabi saw.. Maka Ali r.a… (ia menyebutkan kisah di atas).” Ini disebutkan dalam Musnad Ahmad (1/348).

153. Lihat: Tafsir Ibnu Katsir (4/401). Ia menyatakan, “Ayat ini Surah Madaniyyah…” Selanjutnya ia menyebutkan kisah sebelumnya yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas.

154. Kata al-Qurthubi (4/2923), “Ayat ini turun tentang an-Nadhr ibnul-Harits. Suatu ketika ia pergi berdagang ke kota Hirah, dan dia membeli cerita-cerita tentang Kalilah dan Dimnah, serta kisah-kisah Kisra dan Kaisar. Dan pada waktu Rasulullah menceritakan beria kaum terdahulu, an-Nadhr pun berkomentar, ‘Kalau aku mau, aku pun bisa mengatakan hal seperti itu.”‘

Ibnu Katsir (2/403) menulis bahwa orang yang menawannya pada Perang Badar adalah al-Miqdad ibnul-Aswad. Rasulullah lalu mendoakannya, “Ya Allah, karuniailah al-Miqdad kekayaan dari karunia-Mu.” Kata al-Miqdad, “Inilah yang aku inginkan.” Hadits ini mursal, diriwayatkan oleh Abu Dawud (37) dalam al-Maraasil.

155. Di atas telah disebutkan hal ini diriwayatkan dari al-Qurthubi. Lihat Ibnu Jarir (9/152) dari Mujahid.

156. Hadits shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (4648) dalam at-Tafsiir.

157. Disebutkan oleh Ibnu Katsir (2/404) dan Ibnu Jarir (9/235).

158. Lihat Ibnu Katsir di atas.

159. Lihat Ibnu Jarir (9/237).

160. Lihat al-Wahidi, hlm. 195.

161. Disebutkan oleh Ibnu Katsir (2/407) dan lihat Ibnu Jarir (9/241). Kata al-Qurthubi (4/2926), “Quraisy dahulu berthawaf di Ka’bah dengan telanjang seraya bertepuk dan bersiul, dan demikian itu adalah ibadah, menurut prasangka mereka. Al-mukaa’ artinya siulan, sedang at-tashdiyah artinya tepuk tangan.”

162. Yakni kafilah dagang yang dipimpin Abu Sufyan, yang semula menjadi target kaum muslimin, hingga akhirnya pecah Perang Badar. (Penj.).

163. Lihat Ibnu Jarir (9/159) dan Ibnu Katsir (4/407).

Sumber: Diadaptasi dari Jalaluddin As-Suyuthi, Lubaabun Nuquul fii Asbaabin Nuzuul, atau Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an, terj. Tim Abdul Hayyie (Gema Insani), hlm. 258-264.