Inovasi Abaya “Mengusik” Perempuan Saudi

Penampilan dan gaya pakaian biasanya tak bisa dipisahkan dengan naluri kaum hawa. Tapi di Saudi, penampilan pakaian bisa menjadi kontroversi. Inilah yang terjadi baru-baru ini. Gaya penampilan jubah atau Abaya bordir menimbulkan kontroversi di kalangan wanita Saudi. Beberapa dari mereka didukung untuk menampakkan kecantikan dan keanggunannya, sementara wanita lainnya mengajak memboikot Abaya bordir, karena telah menyalahi aturan syari’at dan adat istiadat.

Kontroversi berkobar di halaman-halaman forum onlinetentang penggunaan Abaya berenda “dekoratif,” yang sebagian besar ditemukan di pasar dan telah melahirkan kekaguman baru sebagian perempuan Saudi.

Sebagaian wanita menganggap bahwa Abaya adalah kebebasan pribadi dan mereka sepakat bahwa bentuk, model dan hiasan yang ditambahkan akan memberikan keindahan dan keanggunan bentuk gadis itu, sebagaimana mereka menegaskan bahwa gaya,cara,dan keanggunan seorang gadis dalam mengenakan Abaya itu ditentukan oleh persepsi masyarakat tentang dirinya.

Sementara wanita lain mengangap penggunaan hal seperti itu telah menyalahi hukum Islam, adat dan tradisi masyarakat setempat.

Sebuah forum mengatakan, fungsi utama Abaya adalah untuk “menutup dan tidak menampakkan keindahan seorang wanita agar terpelihara, jauh dari mata laki-laki asing, sehingga harus hitam tidak mengandung jenis hiasan atau perhiasan yang menarik perhatian”.

“Gaya Abaya seharusnya untuk menutupi, tidak membuka, dan tidak ada untuk hiasan agar tampak indah,” ujar seorang wanita. Namun sebagaian mengaku “menolak jika istrinya atau saudara perempuannya atau ibunya mengenakan Abaya berenda.”

Kontroversi masalah menggunaan Abaya modis, seperti sebuah abaya brenda, yang dipenuhi hiasan warna-wani rupanya menjadi masalah tersendiri di Saudi. Masalah ini meningkat seiring dengan hadirnya abaya berenda produksi asing, utamanya dari Turki yang tersebar di Saudi.

“Agama Islam menolak jenis gaun ini. Dan itulah cara Barat menyerang Negara Islam dan memikat perempuan untuk melepaskan gaunnya yang syar’i,” ujar Zahra, seorang gadis Saudi.

Di sebuah “forum sosial” lain, Suhair mengatakan menolak memakai Abaya yang menyerupai kostum malam, dan beberapa merek internasional dari Roma. Dia menambahkan bahwa “hendaknya malu bagi siapa saja yang memiliki rasa yang di dalam hatinya masih ada iman, berjalan di atas hawa nafsu, berinovasi dan menciptakan model jubah yang jauh dari kesopanan.

“Kami ingin gaun hitam tanpa hiasan, kami ingin tenang dengan jiwa yang semangat. Dan panggilan kepada wanita Saudi untuk melawan warna dan pola-pola dekoratif dan model-model yang berlebihan dan penyalahgunaan jilbab, karena musuh-musuh Islam di Saudi melakukan konspirasi terhadap jilbab, dan bertanya-tanya “Apakah mungkin seorang gadis akan membeli perhiasan dengan perhiasan yang lain?, Dan apakah masih di syari’atkan hijab meskipun perhiasan mereka tersembunyi?”.

Dikutip koran Ukaz, pandangan beragama tentang abaya brenda modis warna-warni juga terjadi Adalah Ummu Sa’ad, ia mengatakan bahwa “Abaya yang berbordir, tidak menarik perhatiannya sama sekali karena tidak diterima di masyarakat dan pemandangan seperti ini terlihat berbeda tergantung pada lingkungan.”

Sementara Amirah menekankan bahwa “Abaya berenda itu menarik perhatiannya, terutama di bagian pinggiran tangan dan ia membeli semua yang baru untuk menunjukkan keanggunan dan kenyamanan diri.”

Dia menunjukkan lagi bahwa mode baru dalam gaun sesuai dengan zaman modern tidak lagi hitam, tapi penuh warna dan bordir dan permintaan pelanggan sangat tinggi, sehingga mereka menjadi mampu mengekspresikan pribadi mereka. Selain itu,ia bisa melengkapi keanggunannya dengan aksesoris, tas dan sepatu yang sesuai dengan bentuk jubah dekoratif.

Dan gadis yang lain melihat bahwa “Abaya yang dihias, berbordir cantik, terlihat mewah” tetapi mereka keberatan terhadap berbagai jenis warna yang banyak, serta dianggap mencolok dan tidak syar’i, dan tidak cocok untuk masyarakat Islam Arab, dan menunjuk ke harga tinggi dari gaun yang harganya lebih banyak daripada harga gaun malam.

Salah satu gadis mengatakan bahwa Abaya yang dihiasi dengan warna-warni sangat indah dan cocok untuk pernikahan dan acara-acara umum seperti kunjungan keluarga dan teman-teman, “tapi itu tidak cocok digunakan di forum-forum resmi apalagi ke pasar misalnya,” tambahnya.

“Tidak ada tekanan pada sisi hiasan dan warna-warni, dan banyak keluarga yang tidak melihat itu, ataupun merasa malu. Akan tetapi, beberapa gadis memakainya di pasar dengan orangtua mereka, dan kategori yang paling umum digunakan untuk merek kelas remaja dan mahasiswa ini.”

Beda lagi dengan Lulwa. Ia menganggap bahwa “bahwa Abaya berbordir bukan bagian dari jilbab” karena tujuan jilbab tidak menarik perhatian, sementara gaun modern yang menarik perhatian sangat dekoratif, terutama jika berwarna-warni dan mencolok.”

Abdulsalam Almasyula, seorang salesman di sebuah toko di mall juga pendapat, bahwa “Abaya berornamen telah mengambil aluh Abaya-abaya tradisional dalam hal permintaan klien”, dan kebanyakan dari mereka meminta bordir di bagian depan,belakang atau samping.

Bagi Muhammad Ahmad, seorang penjual Abaya di sebuah toko di Jedda mengatakan, “Abaya dibagi menjadi beberapa jenis termasuk pada kepala,bahu, hiasan dan pria, tetapi kebanyakan para gadis yang cenderung untuk membeli jubah berbordir,” ujarnya.

Piala Dunia
Tapi sebenarnya ini bukanlah hal baru. Inovasi Abaya seperti itu pernah dicoba di tahun 2010. Saat ramai Piala Dunia di Afrika Selatan.

Kala itu, banyak perancang Saudi telah berinovasi mendesain Abaya untuk menyambut Piala Dunia 2010, di antaranya inovasi mendesain Abaya bordir warna-warni dengan logo tim sepak bola internasional.

“Merancang abaya-abaya Piala Dunia ini adalah langkah yang sangat normal dan diterima. Kebanyakan mahasiswa saya di universitas telah meminta saya untuk secara khusus merancangnya. Saya memutuskan untuk merancang abaya menyusul sejumlah permintaan dari mahasiswa saya, anak-anak dan orangtua mereka,” ujar Rania Khogaer, seorang perancang Saudi dan dosen desain di Universitas King Abdulaziz, di sebuah koran tahun 2010 lalu.

“Abaya Piala Dunia saya bukan tak Islami. Abaya-abaya saya bersifat tradisional dengan kebanyakan berwarna hitam, menutupi seluruh tubuh kecuali wajah, tangan, dan kaki. Saya hanya menambahkan logo dan bendera tim Piala Dunia,” tambahnya.

Tentu bukan tanpa pertentangan. Seperti halnya inovasi Abaya bordir warna-warni dari Turki baru-baru ini.

Tuhami Al Arabi, perancang lain yang terkenal dengan rancangan modernnya, menolak untuk merancang abaya semacam itu. “Saya rasa abaya-abaya itu tidak akan diterima oleh masyarakat Saudi. Abaya dirancang untuk menutupi tubuh, bukan menandai tren tertentu,” ujarnya.

Mohammed Mansour, seorang tenaga penjual di sebuah toko abaya di Souk Al Hijaz menolak untuk menjual abaya semacam itu. “Saya tidak akan pernah menjual abaya Piala Dunia di toko saya. Saya rasa abaya-abaya itu tidak pantas untuk keluarga kelas menengah Saudi,” ujar Mansour.

Umumnya kaum perempuan Saudi menggunakan baju khas mereka, baju Abaya polos berwarna hitam. Inovasi Abaya berhias, berbordir warna-warni, rupanya menjadi kontroversi tersendiri. (Fani/hdt)