Apakah Kita Akan Menjumpai Bulan Ramadhan?

Dalam hitungan hari, Ramadhan sebentar lagi tiba. Hampir semua umat muslim mulai mengirim ucapan selamat pada moment menjelang Ramadhan ini. Mereka mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut bulan ini. Al-Qur’an mulai banyak diterbitkan dan dibagi-bagikan, dan mushala-mushala pun mulai dipersiapkan untuk shalat tarawih. Kulkas pun mulai penuh dengan stock makanan. Bahkan, sebagian orang telah menyusun jadwal berkunjung dan bertemu dengan keluarganya, dan lain sebagainya dari aneka persiapan menyambut bulan Ramadhan.

Tapi, ada pertanyaan penting yang harus kita jawab, “Apakah kita pasti akan menjumpai Ramadhan?!! Dan apakah kita bisa berpuasa di bulan yang berbarakah ini?!!”

Pertanyaannya memang terasa asing bagi sebagian orang, tapi ini realistis dan logis apabila kita mau memperhatikannya!! Mungkin saja, beberapa hari ke depan Allah akan mencabut sepuluh ruh di masyarakat kecil kita. Apakah kita bisa menjamin, bahwa kita tidak akan termasuk di antara mereka?!!

Bisa jadi saya termasuk salah satu di antara mereka, dan bisa jadi salah seorang pembaca artikel saya akan termasuk di antara mereka. Dan bisa jadi, salah seorang di antara orang-orang yang kita cintai atau dari para kerabat kita akan termasuk di antara orang yang Allah Azzawajalla pilih sebelum memasuki bulan ini. Sungguh, amal itu tergantung pada niat masing-masing.

Bila kita yakin bahwa kita akan berjumpa dengan bulan Ramadhan, maka itu termasuk dari panjang angan-angan. Kalaulah salah seorang di antara kita merenungkan bahwa kebanyakan orang yang telah meninggal pada hari ini, mereka juga telah bersiap-siap untuk menyambut bulan Ramadhan atau menyambut hari raya Idul Fithri!! Akan tetapi, karena ajal telah turun maka tidak ada tempat lari darinya. “Apabila ajal kalian telah tiba, maka tidak bisa diakhirkan dan tidak pula bisa dimajukan meski hanya sesaat,” (Al-A’raf: 34).

Di bulan Ramadhan, tatkala matahari telah tenggelam maka kita dapat hidup dalam keadaan bertauhid dan berniat untuk berpuasa Ramadhan, kita pun dapat menghidupkan malamnya karena mendapatkan nikmat yang begitu besar dari Allah Azzawajalla. Karenanya, orang-orang beriman yang jujur hendaknya meminta kepada Tuhan-Nya supaya diberi kesempatan untuk berjumpa dengan bulan Ramadhan. Bila kelak mereka menjumpainya, maka mintalah kepada Tuhan mereka dengan jujur dan ikhlash agar Allah memberberi pertolongan tatkala menjalankan ibadah puasa dan menghidupkan malamnya. Karena, tidak ada seorangpun yang dapat menjalan puasa dan menghidupkan malam harinya kecuali berkat pertolongan Allah Azzawajalla. Orang-orang beriman akan senantiasa mengatakan, “Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan,” (Al-Fatihah: 5).

Syetan-syetan dari golongan Jin akan dibelenggu pada bulan ini untuk menolong orang-orang beriman dalam menjalankan ketaatan kepada Rabb mereka. Akan tetapi, apakah syetan-syetan dari golongan manusia dibelenggu juga?

Bila seseorang tidak memperhatikan syari’at-syari’at Allah dan tidak takut kepada Rabb-nya sebelum ini, serta tidak punya rasa malu sedikitpun, maka apakah harus undang-undang atau pemerintah yang menghentikannya?

Karenanya, hendaknya para pemilik stasiun TV dan semisalnya menghentikan untuk menayangkan tayangan-tayangan cabul, telanjang dan vulgar pada bulan ini khususnya. Meskipun setelahnya juga diharapkan tidak kembali menayangkannya.

Sedangkan bagi para pemilik surat kabar dan majalah-majalah, hendaknya menahan diri untuk tidak menampilkan gambar-gambar porno yang tidak memiliki tujuan lain kecuali membangkitkan gairah seksual.

Adapun bagi para penulis, hendaknya mereka mematuhi legitimasi moral dan tidak terlibat dalam hal-hal yang seharusnya tidak masuk ke dalamnya, minimal pada bulan ini.

Dan bagi para pemilik kafe, hendaknya tidak menyajikan makanan-makanan dan nyanyian-nyanyian, karena itu bertentangan dengan etika berpuasa di bulan Ramadhan.

Bagi orang yang ingin mempromosikan barangnya atau dagangannya dengan meletakkan barangnya di jalan atau di mal dan sarana umum lainnya, hendaknya ia tetap takut kepada Allah. Jangan sampai meletakkan gambar-gambar yang dapat mengganggu ibadah orang yang sedang berpuasa.

Semua para pemilik, baik pemilik hotel, pabrik, klinik, kafe, TV, koran, majalah dan lainnya akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah seputar aktifitas dan acara mereka serta apa-apa yang terjadi di tempat-tempat mereka, khususnya pada bulan Ramadhan dan bulan lainnya pada umumnya.

Bertaqwalah kalian kepada Allah wahai kaum muslimin, dan ketahuilah bahwa nikmat itu akan hilang disebabkan karena maksiat dan dosa.

Adapun jika masih ada yagn tidak memperhatikan hal itu, tidak takut kepada Rabb mereka dan tidak menghormati bulan Ramadhan, maka pemerintah harus mengambil peranan dan memperingatkan mereka yang tidak menghormati bulan Ramadhan dan menghormati umat Islam serta syi’ar-syi’ar mereka. Semoga senantiasa ada orang yang mengingatkan pemerintah jika tidak berpegang kepada Al-Qur’an. Sesungguhnya Allah menunjuki siapa yang Ia kehendaki ke jalan yang lurus.

(Sumber: Artikel ini ditulis oleh Syaikh Nabil al-‘Audhi, anggota Al-Ittihad Al-‘Alami li ‘Ulamail Muslimin. Artikel dikutip dari situs resminya di http://www.iumsonline.org pada Sabtu (30/07) dan diterjemahkan oleh team redaksi www.alislamu.com.)