Kesehatan Ala Rasulullah ﷺ (Seri 2): Sunnah Minum dan Kebersihan yang Menjaga Tubuh

Minum air putih 180222234259 991

Setelah membahas pola makan Rasulullah ﷺ pada seri pertama, kali ini kita beralih pada dua hal yang tak kalah penting untuk kesehatan: cara minum dan kebersihan (thaharah). Dalam Islam, minum bukan sekadar menghilangkan haus, dan bersih bukan sekadar rapi di mata manusia. Semua itu adalah bagian dari ibadah dan sangat berdampak pada kesehatan tubuh.

1. Sunnah Minum Rasulullah ﷺ yang Menyehatkan
Rasulullah ﷺ mengajarkan beberapa adab minum yang ternyata juga bermanfaat bagi kesehatan.

a. Minum dengan Duduk
Di antara adab minum yang diajarkan adalah minum dalam keadaan duduk. Ulama menjelaskan, posisi ini lebih menenangkan dan lebih baik bagi organ pencernaan.
Walaupun ada beberapa riwayat tentang beliau minum sambil berdiri dalam kondisi tertentu, kebiasaan umumnya adalah minum sambil duduk.

b. Minum dengan Tiga Nafas (Tidak Sekali Teguk)
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu: “Rasulullah ﷺ biasa bernafas tiga kali ketika minum.” (HR. Muslim, no. 2028)
Maksudnya, beliau minum dalam tiga kali tegukan, dan setiap kali hendak minum kembali, beliau menarik mulut dari bejana. Ini membuat minum terasa lebih pelan, tidak tergesa-gesa, dan lebih nyaman bagi lambung.
Secara medis, minum perlahan membantu:

  • Mengurangi kembung
  • Menghindari tersedak
  • Membantu penyerapan lebih baik

c. Tidak Meniup Minuman
Rasulullah ﷺ melarang meniup minuman. Di antara hikmahnya: menjaga kebersihan dan menghindari penularan penyakit dari mulut ke dalam air.

d. Memulai dengan Basmalah dan Mengakhiri dengan Hamdalah
Sebelum minum, dianjurkan membaca bismillah, dan setelah selesai bersyukur dengan alhamdulillah. Ini bukan hanya adab, tetapi juga mengingatkan bahwa kesehatan dan rasa segar setelah minum adalah nikmat dari Allah.

2. Kebersihan: Kunci Kesehatan dan Keimanan
Rasulullah ﷺ sangat menekankan pentingnya kebersihan. Bahkan dalam hadis disebutkan: “Kebersihan itu adalah sebagian dari iman.” (HR. Muslim, no. 223)

Kebersihan dalam Islam mencakup:

a. Kebersihan Badan

  • Wudhu beberapa kali dalam sehari: membasuh wajah, tangan, kepala, dan kaki. Ini bukan hanya syarat sah shalat, tetapi juga menyegarkan tubuh dan mengurangi kotoran.
  • Mandi: baik mandi wajib (janabah) maupun mandi sunnah seperti mandi Jumat.
    Kebiasaan ini membantu:
    • Membersihkan kulit dari kotoran dan keringat
    • Mengurangi bakteri dan potensi infeksi
    • Menjaga kesegaran tubuh

b. Sunnah Fitrah
Rasulullah ﷺ mengajarkan beberapa amalan fitrah, seperti:

  • Memotong kuku
  • Mencukur bulu ketiak
  • Mencukur bulu kemaluan
  • Memendekkan kumis

Selain bernilai ibadah, ini semua sangat mendukung kesehatan dan kebersihan tubuh, terutama di area yang mudah menjadi tempat berkumpulnya kotoran dan bakteri.

c. Menjaga Kebersihan Mulut dengan Siwak
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka bersiwak setiap kali hendak shalat.” (HR. Al-Bukhari, no. 887; Muslim, no. 252)

Siwak bermanfaat untuk:

  • Menjaga kebersihan gigi
  • Mengurangi bau mulut
  • Menjaga kesehatan gusi

Di zaman sekarang, kita bisa mengamalkan maknanya dengan menjaga kebersihan gigi, rajin menggosok gigi, dan merawat kesehatan mulut.

3. Kebersihan Lingkungan
Islam juga mendorong kita menjaga kebersihan lingkungan: tidak membuang sampah sembarangan, tidak mengotori jalan, dan menjauhkan hal-hal yang membahayakan orang lain.
Semua ini, jika dijalankan, akan melahirkan masyarakat yang sehat: minim penyakit, udara yang lebih bersih, dan lingkungan yang nyaman.

Penutup Seri 2
Sunnah minum yang sederhana dan kebiasaan menjaga kebersihan yang diajarkan Rasulullah ﷺ ternyata sangat relevan dengan standar kesehatan modern. Semakin kita menghidupkan sunnah, semakin besar peluang kita meraih tubuh yang sehat dan hidup yang penuh keberkahan.
Nantikan Seri 3:
Kesehatan Ala Rasulullah ﷺ (Seri 3): Pola Tidur dan Aktivitas Fisik Nabi yang Penuh Berkah

Sumber: Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Zadul Ma‘ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad (pembahasan thaharah dan adab Nabi).