Penyakit-Penyakit Dalam Berbicara

Penyakit Pertama: Berbicara Apa Yang Tidak Penting.

Ketahuilah bahwa barang siapa mengetahui betapa berharganya waktu dan bahwa ia adalah modal utamanya, niscaya dia tidak akan membuangnya tanpa manfaat. Pengetahuan ini mengharuskan menjaga lisan dari kata-kata yang tidak berguna,karena barangsiapa tidak mengingat Allah dan sibuk dengan apa yang tidak berguna, dia seperti orang yang mampu mengambil mutiara tetapi dia tidak mengambilnya, dia malah mengambil tanah kering yang tidak berguna, ini adalah kerugian sepanjang umur.

Dalam hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam beliau bersabda:

مِنْ حُسْنِ إسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

“Termasuk kebaikan islam seseorang adalah bahwa dia meninggalkan apa yang tidak penting baginya.” (H.R Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Lukman Al-Hakim pernah di tanya, “Sejauh apa hikmahmu?” Dia menjawab, “Aku tidak bertanya tentang apa yang aku sudah dicukupkan darinya, dan aku tidak berbicara sesuatu yang tidak penting bagiku.”

Penyakit Kedua: Berbicara Dalam Kebathilan

Yakni membicarakn kemaksiatan, seperti membicarakan majelis khamer dan pertemuan orang-orang fasik. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan satu kata yang membuatnya terperosok masuk ke dalam neraka lebih jauh daripada timur dengan barat.” (H.R Bukhari-Muslim)

Tidak jauh berbeda dengannya adalah bantah-bantahan dan berdebat, banyak membantah orang untuk menjelaskan kekeliruannya dan mengakui kesalahannya, dan mendorong untuk melakukan hal ini adalah merasa lebih tinggi.

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

أَبْغَضُ الرِّجَالِ إِلَى اللهِ الأَلَدُّ الْخَصْمُ

“Laki-laki yang paling dibenci Allah adalah orang yang ngotot dan suka membantah.” (H.R Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)

Pertikaian yang kami maksud adalah pertikaian dengan kebatilan tanpa ilmu, adapun orang mempunyai hak melakukan itu, maka yang lebih baik adalah berpaling dengan meninggalkannya sebisa mungkin, karena ia membuat dada sempit, memicu amarah, mewariskan hasad, dan menyeret-nyeret kehormatan.

Penyakit Ketiga: Memaksakan Diri Dalam Berbicara

Yakni memfasih-fasihkan dan memaksakan diri membuat sajak. Rasulullah bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku di hari kiamat adalah orang yang paling buruk akhlaknya diantara kalian, orang yang banyak berbicara, orang bicara kasar dengan membka mulut lebar-lebar, dan orang-orang yang mengejek orang lain.” (H.R Tirmidzi)

Tidak termasuk kedalam sajak yang di benci dan diuat-buat adalah kata-kata khatib, mengingatkan tanpa berlebihan-lebihan dan aneh-aneh, karena tujuan tujuan dari hal itu adalah menggerakkan dan menggugah hati, kekuatan, kata-kata dan lain-lain.

Penyakit Keempat: Suka Berkata Keji, Mencaci, Jorok dan Yang Semisalnya.

Hal ini sudah pasti tercela dan dilarang, sumbernya adalah keburukan dan kebusukan. Dalam hadits disebutkan yag artinya:

“Jauhilah kata-kata keji karena sesungguhnya Allah tidak menyukai kata-kata keji dan sengaja mengucapkan kata keji.” (H.R Ahmad)

Dalam hadits lain, yang artinya:

“Surga haram atas setiap orang yang gemar berkata keji atau buruk.” (H.R Ibnu Abi Dunya)

Dalam hadits lain juga disebutkan:

“Orang Mukmin bukanlah yang pencela, pelaknat, berkata-kata keji dan berkata jorok.” (H.R Ahmad dan Tirmidzi)

Dan termasuk diantara penyakit lisan adalah nyanyian dan pembicaraan tentangnya telah berlalu.

Penyakit Kelima: Suka Senda Gurau

Sedikit dari senda gurau tidak mengapa jika memang benar atau tidak berbohong. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam terkadang bergurau tetapi beliau tidak berkata kecuali yang benar.

Nabi pernah berkata kepada seorang laki-laki:

يَا ذَالأُذُنَيْن

“Wahai pemilik sepasang telinga.” (H.R Ahmad)

Nabi juga pernah bersabda kepada nenek tua yang artinya,

“Wanita tua tidak masuk surga.” Kemudia beliau membaca ayat “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari surga) dengan langsung, dan kami jadikan mereka gadis-gadis perawan.”(Waqi’ah: 35-36). (H.R Bukhari-Muslim)

Penyakit Keenam: Menghina dan Mengejek

Maksudnya adalah merendahkan dan meremehkan, membuka aib dan kekurangan sehingga mengundang tertawa. Hal itu bisa dengan menirukan kata2 atau perbuatan, dan bisa jugaa dengan isyarat tangan atau mata, semua itu dilarang dalam syariat, larangannya hadir dalam alqur’an dan sunnah.

Penyakit Ketujuh: Membuka Rahasia, Mengingkari Janji dan Dusta Dalam Kata-Kata dan Sumpah

Semua hal itu dilarang kecuali dusta yang di bolehkan terhadap istri, saat perang, karena hal itu mubah. Kaidahnya adalah bahwa semua tujuan yang terpuji, yang tidak mungkin di raih kecuali dengan dusta, maka ia boleh bila tujuan tersebut boleh juga, atau bila tujuan tersebut adalah wajib, maka ia juga wajib berdusta, namun sebisa mungkin dusta wajib itu di jauhi.

Penyakit Kedelapan: Ghibah

Al-Qur’an hadir mengharamkannya, pelakunya disamakan dengan memakan bangkai saudaranya.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda yang artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman dengan lidahnya, namun iman belum masuk ke dalam hatinya, janganlah mengghibah kaum muslimin, jangan mencari-cari aib mereka, karena sesungguhnya barangsiapa yang mencari-cari aib mereka, maka Allah akan mencari aibnya, dan barang siapa yang Allah cari aibnya, maka Allah mempermalukannya sekalipun di dalam rumahnya.” (H.R Ahmad dan Abu Dawud)

Dalam hadits lain Nabi bersabda artinya,

“Jauhilah ghibah, karena ia lebih berat daripada zina. Seorang laki-laki mungkin berzina dan minum khamr kemudian ia bertaubat dan Allah menerima taubatnya, sedangkan sesungguhnya pelaku ghibah Allah tidak akan mengampuninnya sebelum korbannya memaafkannya.” (H.R Ibnu Abid Dunya, Ibnu Hibban, dan Ibnu Mardawaih)

 

Sumber: Mukhtashar Minhajul Qashidin oleh Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, penerbit: Pustaka Darul Haq, Jakarta.