Tuntunan Shalat Gerhana

Dari Abdullah bin Umar, beliau mengatakan:

لمّا كسَفَت الشمس على عهد رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – نودي: الصلاة جامعة

“Ketika terjadi gerhana matahari di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, diserukan: As-shalaatu jaami’ah.” (HR. Bukhari & Muslim)

Makna kalimat ash shalaatu jaami’ah yaitu hadirilah sholat gerhana dengan berjama’ah (Mausu’ah Fiqhiyah Muyassarah (II/173))

Ketika ada gerhana matahari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam buru-buru keluar sambil menyeret selendangnya. Gerhana mulai tampak pada pagi hari kira-kira setinggi dua sampai tiga tombak dari permukaan bumi. Beliau shalat dua rekaat. Pada rekaat pertama beliau membaca Al-Fatihah dan surat yang panjang serta menyaringkan bacaannya. Lalu ruku’ dan memanjangkan ruku’nya, kemudian berdiri dari ruku’ sambil mengucapkan sami’allahu liman hamidah rabbanaa wa lakal hamdu dan membaca Al-Fatihah lagi kemudian surat yang panjang meskipun tidak selama berdiri yang pertama.

Kemudian ruku’ lagi dan memanjangkan ruku’nya sekalipun tidak selama ruku’ yang pertama, kemudian berdiri dari ruku’ lalu sujud dan memanjangkan sujudnya. Rekaat kedua juga sama dengan reka’at yang pertama. Jadi dalam dua reka’at eliau melakukan empat kali ruku’ dan empat kali sujud.

Dalam shalatnya itu beliau melihat surga dan neraka. Beliau melihat bagaimana para penghuni neraka mendapatkan siksaan. Beliau melihat seorang wanita yang dicakari kucing dan di cabik-cabik, karena dulunya di dunia wanita itu mengerangkeng kucing itu tanpa memberinya makan hingga mati kelaparan. Beliau juga melihat Amr bin Malik yang menyeret usunya ke neraka. Dia adalah orang yang pertama kali merubah agama Ibrahim dan mendatangkan berhala ke Mekkah.

Seusai shalat beliau membalikkan badan dan menyampaikan khutbah yang amat mendalam. Beliau memulai dengn memuji Allah dan membaca syahadatain, setelah itu  beliau menyampaikan khutbah sebagai berikut:

“Wahai semua manusia, aku bersumpah kepada Allah di hadapan kalian, andaikan kalian melihat aku melakukan keterbatasan dalam menyampaikan risalah Rabb-ku namun kalian tidak berani menyampaikannya kepadaku. Ada beberapa orang yang berdiri lalu berkata, “Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan risalah Rabb-mu, memberikan nasihat kepada ummat dan engkau telah melaksanakan apa yang di wajibkan kepada engkau.”

Kemudian beliau melanjutkan, “Sesungguhnya ada beberapa orang yang beranggapan bahwa gerhana matahari dan gerhana rembulan serta tidak tampaknya bintang-bintang merupakan tanda kematian pemimpin dunia. Mereka telah berkata dusta. Tapi yang demikian itu merupakan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah yang harus di ambil pelajaran oleh hamba-hamba-Nya agar dapat melihat siapa yang telah menerima taubat mereka.

Demi Allah aku telah melihat semenjak berdiri tadi apa yang akan terjadi dari urusan dunia dan akherat kalian. Demi Allah kiamat tidak akan terjadi kecuali setelah muncul tiga puluh pendusta. Yang terakhir diantara mereka adalah Dajjal yang mata sebelah kirinya buta. Seakan-akan itu adalah mata Abu Yahya yang saat itu menjadi tetua dari kalangan Anshar. Diantara dirinya dan biliknya ada Aisyah. Setiap kali dia keluar maka dia mengaku sebagai Allah. Siapa yng percaya kepadanya, membenarkan dan mengikutinya, maka amal sholihnya yang telah lampau tidak berguna sama sekali. Siapa yang mengingkari dan mendustakannya, maka dia tidak akan di siksa karena keburukan amalnya yang telah lampau. Dia akan menguasai seluruh dunia kecuali tanah suci (Mekah dan Madinah) dan Baitul Maqdis. Dia akan mengepung orang-orang yang ada di Baitul Maqdis dan menimbulkan kegemparan yang hebat. Kemudian Allah membinasakannya beserta pasukannya. Sampai-sampai pondasi dinding atau pangkal pohon pun akan berkata, “Hai orang-orang mukmin, ini ada orang Yahudi, kemarilah bunuhlah dia.” Yang demikian itu tidak akan terjadi sehingga kalian melihat berbagai perkara yang keadaannya muncak pada diri kalian. Diantara kalian saling bertanya-tanya, adakah nabi kalian yang menyebutkan yang demikian ini? Kemudian gunung-gunung lepas dari tempatnya dan setelah itu ada kebinasaan.”

Beliau memerintahkan untuk memperbanyak dzikir kepada Allah, shalat, berdoa dan memohon ampunan, bershadaqah dan beramal sholih lainnya.

 

Sumber: Zadul Ma’ad karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah