Menghilangkan Bisikan Syetan dalam Shalat

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan ada dua hal yang sangat bepengaruh dalam menghilangkan bisikan syetan dalam Shalat

Pertama, quwwatul muqtada (kuatnya hal-hal yang dituntut)

Kedua, Dha’f asy-syaghil (melemahkan pikiran yang menyibukkan hati)

Pertama, quwwatul muqtada (kuatnya hal-hal yang dituntut)

Aspek ini diartikan sebagai usaha keras seorang hamba agar menyadari apa yang ia ucapkan dan lakukan, serta mendataburi bacaan, dzikir, dan doanya. Ia harus memposisikan diri sebagai orang yang sedang bermunajat kepada Allah seolah-olah ia melihat-Nya. Selama ia berdiri shalat, sesungguhnya ia sedang bermunajat kepada Rabb-nya.

Inilah ihsan, yakni Anda menyembah Allah seolah-olah Anda melihat-Nya dan jika Anda memang tidak mampu melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihat Anda. Setiap kali seorang hamba merasakan kenikmatan shalat, maka kecintaannya kepada shalat akan semakin bertambah. Hal ini bergantung kepada kekuatan iman seseorang, dan pembahasan tentang kekuatan ini begitu luas dan mendalam.

Didalamnya mencakup hati yang bermakrifat kepada Allah, kecintaan yang diimbangi rasa takut kepada-Nya, ikhlas dalam agama untuk-Nya, penuh harap dengan-Nya, mempercayai keberadaan-Nya dan lain sebagainya. Dalam hal ini masing-masing orang berbeda-beda tingkatannya.

Kekuatan iman ini akan tumbuh jika Anda lebih mentadabburi Alquran serta lebih memahami dan mengerti asma dan sifat Allah Ta’ala. Ia juga akan menguat, jika Anda merasa membutuhkan peribadatan kepada Allah dan menyibukkan diri dengan-Nya, yaitu dengan bertambahnya kebutuhan Anda kepada Allah sebagai Al-Ma’bud(Zat Yang Disembah) dan Al-Mughits (Penolong) melebihi kebutuhan Anda kepada makan dan minum.

Kedua, Dha’f Asy-Syaghil (melemahkan pikiran yang menyibukkan hati)

Ibnu Taimiyah berkata, “Untuk menyingkirkan penghalang kekhusyukan dibutuhkan usaha keras untuk mengusir segala yang menyibukkan hati Anda berupa pikiran-pikiran yang tidak penting bagi Anda.

Selanjutkan, Anda harus merenungi factor-faktor yang memalingkan hati dari tujuan shalat. Hal ini bergantung pada masing-masing individu. Banyak sedikit bisikan bergantung pada banyak sedikitnya syubhat, syahwat, segala kesenangan yang membuat hati seseorang tamak kepadanya, dan segala larangan yang membuatnya hati seseorang jauh dari shalat.

Oleh karena itu, seorang hamba sudah selayaknya bersabar, gigih, dan senantiasa membiasakan diri untuk berzikir dan shalat. Ia juga tidak boleh berputus asa dengan berbagai usaha tersebut karena orang yang konsisten dengan zikir dan shalat akan dijauhkan dari godaan syetan.

Dikutip dari buku Jaddid Shalataka Aslud Daai Al Waswas (Jangan Shalat Bersama Syetan), Syaikh Mu’min Al Haddad