Pembelahan Dada Rasulullah

Pada riwayat Abu Nu’aim dari Ibnu Katsir terdapat rincian sebagai berikut, “Pengasuh saya adalah wanita dari Bani Sa’ad bin Bakrah, suatu saat saya dan anaknya pergi bersama domba-domba kami, sementara kami belum membawa bekal makanan, maka aku berkata, ‘Wahai saudaraku, pergilah minta bekal dari ibunda kita. Saudaraku itu pergi dan aku menunggu di sekitar domba-domba kami, kemudian datanglah dua makhluk terbang seakan-akan dua ekor burung elang, salah satu di antara keduanya berkata kepada temannya, ‘Apakah orang ini yang dimaksud?’ Dia berkata, ‘Iya.’ Kemudian keduanya mendatangi saya, mereka memegang saya, merebahkan saya dan membedah dadaku, kemudian mengeluarkan jantungku dan mengeluarkan dua gumpalan darah berwarna hitam. Salah satu di antara keduanya berkata, ‘Berikan saya air salju.’ Lalu mereka mencuci bagian dalam dadaku, kemudian dia berkata lagi, ‘Berikan saya air embun.’ Kemudian mereka berdua mencuci jantungku. Dan berkata lagi, ‘Datangkan kemari sakinah (ketentraman).’ Dia akhirnya menanam ketentraman itu dalam jantungku, kemudian ia berkata, ‘Jahit!’ Dia menjahit dadaku dan memberikan stempel kenabian di atas dadaku.

Halimah merasa cemas telah terjadi sesuatu dengan Muhammad, maka dengan segera ia membawanya ke Mekah. Halimah berkata, “Saya telah menunaikan amanah dan tugas saya.” Halimah menceritakan kepada ibunda beliau tentang apa yang telah terjadi. Lantas Aminah bermaksud menenangkan Halimah kemudian berkata, “Ketika aku mengandungnya, aku melihat cahaya yang keluar dari diriku, menerangi istana-istana yang ada di Syam.”

Pendapat yang kuat adalah kejadian pembelahan dada beliau terjadi pada saat usia beliau empat tahun.

Pertama, kejadian yang disaksikan oleh mata kepala orang lain secara jelas adalah sebagai tanda bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah dipersiapkan dalam urusan yang agung bagi umat manusia. Semua itu sebagai bentuk pengagungan dan persiapa untuk memikul beban amanah.

Kedua, kejadian inii menunjukkan kema’shuman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak beliau kecil. Ibnu Hajar Rahimahullah berkata, “Ini terjadi pada masa kecil, hingga dia tumbuh dalam kondisi yang sempurna karena terlindung dari godaan setan.”

Ketiga, dalam kisah pembedahan ini terdapat pelajaran tentang keterbatasan akal, tentang bagaimana akal kita berinteraksi dengan nash-nash yang ada, bahwa masalah apa saja yang berlandaskan dengan al-Qur’an dan hadits, maka kewajiban kita adalah menerima dan tidak perlu membuka peluang diskusi untuk mengarahkan ke pemahaman yang jauh dari hakikatnya.

Ibnu Hajar Rahimahullah berkata, “Setiap yang berbicara tentang pembedahan dada dan proses pengeluaran jantung dan lain-lainnya dari masalah yang tidak biasa terjadi pada manusia, maka tugas seorang muslim adalah menerima dan tidak perlu mencari-cari alasan untuk mengarikannya di luar hakikatnya, karena berbicara atas nama kekuasaan Allah, tidak ada yang mustahil.”

Ibnul Qayyim dalam Bait Nuniyah-nya berkata, “Celaka bagimu wahai sang akal, demi Allah, kamu telah mengotori badanmu, celakalah bagi yang terburu-buru mengutamakannya atas atsar, khabar, dan al-Qur’an.”

Akal, dalam urusan ibadah dan masalah syar’i selalu tidak biasa bekerja sendirian, tetapi dia mesti bekerja di bawah naungan nash. Ibnu Taimiyyah berkata, “Jalan menuju keselamatan adalah mengikuti riwayat dan nukilan, karena tidak hanya sebatas akal, tetapi sebagaimana bola mata tidak bisa melihat, kecuali dengan cahaya, begitu pula dengan akal, tidak bisa sang akal mendapat hidayah, kecuali setelah dibantu dengan cahaya Risalah.”

Sumber: Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim az-Zaid, “Fiqh Sirah Nabawiyyah”, Jakarta: Darus Sunnah Press, 2016