Membentuk Keluarga Bahagia

Kebahagiaan adalah sesuatu yang berharga, setiap manusia berusaha untuk mencapainya walaupun dengan cara yang berbeda-beda. Sebagian mereka menganggap bahwa kebahagiaan dapat diperoleh dengan mengumpulkan banyak harta. Sebagian yang lain beranggapan bahwa kebahagiaan terdapat pada tingginya kedudukan atau jabatan dan anggapan-anggapan lainnya.

Sesungguhnya salah satu kebahagiaan manusia yang paling utama adalah memiliki keluarga yang bertakwa kepada Allah ta’alaa. Karena ketakwaan hamba kepada Allah adalah kunci kebahagiaan dunia dan akhirat. Berikut adalah beberapa tips untuk membentuk keluarga yang bahagia;

1. Memilih istri yang bertakwa, dan shalihah. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

Seorang wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu beruntung.”

Dalam hadits yang lain beliau berkata,

Harta yang paling utama adalah lisan yang selalu berdzikir, hati yang selalu bersyukur, dan istri beriman yang membantu suaminya dalam keimanan.” istri shalehah adalah salah satu sebab kebahagiaan. sebagaimana istri yang buruk adalah salah satu sebab kesengsaraan. hal ini telah dikhabarkan dalam sebuah hadits Shahih,

Maka di antara kebahagiaan, adalah istri shalehah yang jika kamu memandangnya kamu merasa senang. jika kamu tidak ada, ia menjaga dirinya dan hartamu. Dan di antara kesengsaraan adalah, istri yang jika kamu melihatnya, kamu merasa kesal padanya. Lisannya menyakitimu, dan jika kamu tidak ada, ia tidak menjaga dirinya dan hartamu.”

Jika seorang wali ingin menjadikan keluarga anaknya menjadi keluarga yang bahagia, ia harus memilih pria yang sesuai untuk anak perempuannya. Hal ini adalah kewajiban bagi setiap wali. Sebagaimana sebuah hadits dari Abu Hurairah Radliyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Jika telah datang kepada kalian siapa (lelaki) yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan anak perempuan kalian), jika tidak maka niscaya akan terjadi musibah dan kerusakan di bumi.”

2. Jika tidak mendapatkan istri yang shalehah, maka wajib bagi seorang suami untuk membimbing istrinya dalam memperbaiki diri. Caranya sebagai berikut:

– Membantunya dalam perkara akidah, memupuk keimanan dalam hatinya, dan menautkan hatinya kepada Allah. Baik dengan ayat-ayat Allah yang terdapat di al-Qur’an maupun yang terdapat di alam. Juga dengan menyebutkan nikmat-nikmat Allah yang tak terhingga. Nikmat yang ia rasakan siang dan malam.

– Memperbaiki ibadahnya dengan menjelaskan hukum-hukum syari’at yang terdapat pada setiap ibadah, seperti wudhu, shalat, puasa, dan ibadah-ibadah lainnya.

– Berusaha meningkatkan keimanannya. Dengan mengajaknya untuk menunaikan qiyamul lail bersama, memperbanyak tilawah al-Qur’an, menjaga dzikir sesuai dengan waktunya, membaca buku-buku yang bermanfaat. Juga mengajaknya untuk banyak bersedekah, bersemangat dalam mendampinginya saat beramal shaleh, menjauhkannya dari perkara yang buruk, serta menjadi teladan yang baik baginya dalam kebaikan.

3. Menjadikan rumah sebagai tempat untuk mengingat Allah. Karena rumah yang didalamnya selalu disebutkan nama Allah dengan rumah yang tidak pernah digunakan untuk berdzikir kepada Allah, ibarat orang yang hidup dengan orang yang mati, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Maka tunaikanlah ibadah-ibadah sunnah, dan yang tidak kalah penting memprioritaskan dzikir-dzikir yang disunnahkan berkenaan dengan rumah, seperti doa ketika hendak masuk atau keluar rumah, bersiwak, membaca surat al-Baqarah di dalam rumah untuk mengusir setan, dan yang lainnya.

4. Antusias dalam mendidik anggota keluarga, seperti mengadakan pelajaran harian untuk mereka dengan menggunakan kitab-kitab yang sudah masyhur dikalangan kita seperti Riyadus-Shalihin milik Imam Nawawi, Tafsir as-Sa’di, dan kitab-kitab bermanfaat lainnya.

5. Membuat perpustakaan buku-buku islam di dalam rumah. Terdiri dari kitab-kitab tafsir, hadits, aqidah, fiqh, adab dan tazkiyatun nafs, dan sirah.

6. Di antara sarana lainnya untuk membentuk keluarga yang bahagia adalah mengundang orang-orang shaleh, dan penuntut ilmu agar mereka mengunjungi rumah kita. karena hal ini memiliki faidah yang besar. Mencarikan komunitas atau teman-teman wanita yang baik bagi istri, baik dari kalangan dai’ah atau pun penuntut ilmu. Agar istri terbiasa bermajlis bersama mereka dan mengambil banyak manfaat bersama mereka.

7. Tidak menunjukkan perselisihan di hadapan anak-anak.

8. Mementingkan pendidikan anak. Memperingatkan mereka agar tidak berinteraksi dengan hal-hal buruk, menjauhkan istri dan anak-anak dari sarana-sarana yang dapat mendatangkan keburukan di dalam rumah. Seperti siaran televisi yang tidak mendidik, menumbuhkan keburukan, mengajarkan anak untuk membangkang pada orang tua, dan tidak beradab kepada orang tua, berani terhadap Allah dan hukum-hukum agama. Menjauhkan mereka dari hal-hal tersebut sama saja menjauhkan mereka dari kehancuran.

Allahul-Muwaffiq.

Sumber: http//www.alimam.ws/ref/3014