Hikmah Dari Peristiwa Gajah

Sejarah singkat mengenai peristiwa ini yang terjadi pada masa kakek Nabi Muhammad, Abdul Muthallib bin Hasyim. Ketika Raja Abrahah, penguasa Yaman yang beragama Nashrani. Merasa iri dengan banyaknya manusia yang beribadah di Ka’bah setiap tahunnya. Kemudian ia membangun gereja yang megah dan dinamakan dengan al-Qulais. Tujuannya agar manusia beribadah di gereja tersebut dan tidak lagi berhaji ke Mekkah.

Kejadian ini di dengar oleh seorang laki-laki dari Bani Kinanah, ia melakukan perjalanan ke gereja tersebut dan memasukinya pada suatu malam, kemudian melumuri dinding-dindingnya dengan kotoran. Mendengar hal itu, Abrahah marah besar dan memutuskan untuk menghancurkan Ka’bah. Dengan membawa 60.000 pasukan dan beberapa ekor gajah tidak ada satu pun kekuatan yang berani menghadangnya dan dengan mudah mereka menguasai daerah yang mereka lewati, hingga tiba disuatu tempat bernama al-Maghmas.

Di tempat ini, mereka mengumpulkan harta milik orang-orang Quraisy termasuk 200 ekor unta milik Abdul Muthallib. Lantas Abdul Muthallib datang menemui Abrahah, ia berniat untuk mengambil kembali unta-unta miliknya. Disinilah terjadi dialog yang sangat mashyur, bahwa Abdul Muthallib berkata, “Aku adalah pemilik unta-unta itu. Adapun Ka’bah, maka Pemiliknyalah yang akan menjaganya.” Lantas Abrahah mempersiapkan pasukannya untuk melanjutkan perjalanan menuju Mekkah. Hingga sampai di daerah bernama Mahmud, di sinilah terjadi fenomena aneh, ketika gajah-gajah tersebut diarahkan menuju Mekkah, mereka duduk (tidak mau jalan). Namun ketika di arahkan ke arah selain Mekkah, gajah-gajah tersebut mau berjalan. Tidak lama kemudian datanglah pasukan burung Ababil. Dan Allah mengabadikan kejadian tersebut dalam surat Al-Fiil.

Hikmah

1. Peristiwa ini secara tidak langsung mengangkat kedudukan orang-orang Quraisy di tengah-tengah kabilah Arab lainnya.

Perlindungan Allah terhadap Ka’bah menjadikan mereka sebagai kabilah yang terlindungi. Lain halnya dengan kabilah diluar Mekkah, mereka dengan mudah dikuasai oleh pasukan Abrahah yang melintas menuju Mekkah. Lantas Allah mengutus Nabi dari suku Quraisy, dan dengan perjuangan panjang beliau, kabilah Quraisy menjadi pengikutnya yang diikuti oleh kabilah-kabilah Arab lainnya. Dengan demikian kabilah Quraisy ibarat kepala, dan kabilah-kabilah Arab lainnya adalah anggota tubuhnya.

Hal ini diperkuat dengan pernyataan kabilah-kabilah Arab saat pertempuran antara Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kafir Quraisy. Mereka berkata, “Jika Muhammad berhasil mengalahkan Quraisy, maka kami akan masuk ke dalam agama Muhammad dan jika kepemimpinan tetap dipegang oleh Quraisy, maka kita tidak kehilangan hubungan dengan mereka.”

Ibnu Hisyam dalam kitab Sirahnya berkata, “Setelah Allah menghalangi pasukan Habasyah dari menyentuh Ka’bah dan menimpakan kepada mereka malapetaka, maka orang-orang Arab menyanjung orang-orang Quraisy, dan mereka berkata, “Quraisy adalah keluarga Allah, Allah telah berperang untuk mereka, dan melindungi mereka dari musuh-musuh mereka.”

2. Laki-laki yang melumuri dinding al-Qulais dengan kotoran, ia menempuh perjalanan jauh itu untuk menolong aqidahnya, menjaga kehormatan Ka’bah. sebuah fenomena yang semestinya mengingatkan kita, tentang hak Islam atas kita. Bahwa kita mesti berjalan, berjuang, dan berkorban demi dakwah kepada Allah ta’alaa.

3. Kondisi bangsa Arab saat itu, menunjukkan mereka terkelompok dan terbagi-bagi. Di antara mereka ada yang tunduk kepada kaisar Irak, Persia. Di antara mereka ada yang tunduk kepada Romawi. Dan di antara mereka ada yang tunduk kepada imperium Yaman. Sisanya adalah kabilah-kabilah yang selalu melakukan perang saudara. Sehingga tatkala pasukan yang berasal dari luar datang dan melintasi mereka. Mereka tidak mampu melakukan perlawanan dan mudah untuk dikuasai.
Pada masa itu, orang Arab tidak dianggap dalam percaturan dunia. Fanatisme kesukuan terhadap kabilah masing-masing adalah jati diri sesungguhnya bangsa Arab. Namun itu semua berubah sejak mereka bergabung di bawah bendera Islam. Mereka memegang peranan internasional, mereka memiliki kekuatan yang sangat diperhitungkan. Ini semua mereka peroleh karena keimanan mereka kepada Allah dan membela Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

4. Sikap Abdul Muthallib, padahal ia adalah seorang Musyrik. Memberikan pelajaran bagi seorang Muslim tentang pentingnya bergantung kepada Allah. Bertawakkal kepada-Nya. Dan yakin akan datangnya pertolongan dari Allah. Alangkah perlunya umat Islam saat ini pada sikap tegar yang demikian. Dalam kondisi mereka selalu bergantung pada sebab. Banyak di antara mereka larut dalam mencari sebab-sebab kemenangan. Padahal seharusnya mereka menanamkan keyakinan yang kuat kepada Allah akan datangnya pertolongan.

5. Menjadi peringatan bagi setiap pribadi yang tergoda untuk melakukan perlawanan terhadap Baitullah. Allah sendiri yang akan menjaga Rumah-Nya. Allah melindunginya walaupun pada saat itu masih dikelilingi oleh kemusyrikan. Maka bagaimana dengan sekarang, saat Rumah Allah itu dikelilingi oleh orang-orang mukmin yang berthawaf, i’tikaf, ruku, dan bersujud.

Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata, “Adapun Ka’bah, maka Allah telah memuliakan, mengagungkan, serta menjadikannya sebagai tempat yang suci. Dengan demikian, Allah tidak memberikan kesempatan pada seorang pun untuk merendahkannya, baik sebelum Islam maupun setelah Islam.”

6. Memberikan kemantapan Iman bagi setiap mukmin yang berjuang untuk melawan makar musuh Allah. Karena jika Allah menjaga dan menyelamatkan Rumah-Nya, maka pastilah Dia akan menjaga dan menyelamatkan orang yang berjuang untuk agama-Nya, membela Rasul-Nya, dan hamba-hamba-Nya yang beriman, karena martabat seorang mukmin lebih besar dari martabat Ka’bah.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa suatu saat dia memandang Ka’bah sambil berkata, “Alangkah agungnya kehormatanmu dan alangkah agungnya kesucianmu, tetapi kehormatan dan harga diri seorang muslim lebih besar di sisi Allah daripada engkau.”

Allahu a’lam

Sumber: Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim az-Zaid, “Fiqh Sirah Nabawiyyah”, Jakarta: Darus Sunnah Press, 2016