Jangan Menyerupai Kaum Kuffar

Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَكُونُوا كَالَّذِينَ كَفَرُوا وَقَالُوا لإخْوَانِهِمْ إِذَا ضَرَبُوا فِي الأرْضِ أَوْ كَانُوا غُزًّى لَوْ كَانُوا عِنْدَنَا مَا مَاتُوا وَمَا قُتِلُوا لِيَجْعَلَ اللَّهُ ذَلِكَ حَسْرَةً فِي قُلُوبِهِمْ وَاللَّهُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ () وَلَئِنْ قُتِلْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ مُتُّمْ لَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرَحْمَةٌ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ () وَلَئِنْ مُتُّمْ أَوْ قُتِلْتُمْ لإلَى اللَّهِ تُحْشَرُونَ ()

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) yang mengatakan kepada saudara-saudaranya apabila mereka mengadakan perjalanan di bumi atau mereka berperang, ‘Sekiranya mereka tetap bersama kita, tentulah mereka tidak mati dan tidak terbunuh.’ Dengan (perkataan dan keyakinan) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang dalam di dalam hati mereka. Allah yang menghidupkan dan mematikan. Allah melihat apa yang kamu kerjakan (.) Dan sungguh, sekiranya kamu gugur di jalan Allah atau meninggal, tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik (bagimu) dari apa yang mereka kumpulkan (.) Dan sungguh, sekiranya kamu meninggal atau gugur, tentu kepada Allah saja kamu dikumpulkan (.)” (Ali Imran: 156-158)

Pada ayat tersebut Allah melarang orang-orang yang beriman untuk menyerupai kaum kuffar, baik dalam bentuk keyakinan, ibadah, bahkan dalam hal penampilan. Karena hal tersebut dapat menumbuhkan rasa kagum terhadap mereka, sehingga mengikuti jejak mereka. Sehingga Allah Subhanahu wa ta’alaa berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al-Maidah: 51)

Atas dasar ayat tersebut dan sejumlah ayat-ayat yang semisalnya, Allah memperingatkan kita kaum mukminin agar dapat menjaga diri, tidak mengikuti jejak kaum yahudi, nashrani, dan orang-orang kuffar secara keseluruhan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kepada kita,

Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?

Apa yang Rasulullah kabarkan kepada kita, sekarang nyata terjadi di sekitar kita, bagaimana cara pandang kebanyakan kaum muslimin, keyakinan, ibadah, perilaku, bahkan pakaian mereka, banyak sekali yang meninggalkan ajaran islam, mengikuti jejak, keyakinan, pemikiran, perbuatan dari kaum yahudi dan nashrani. Ini semua disebabkan karena kaum muslimin terlalu kagum dengan apa yang mereka dapatkan atau mereka lihat dari kaum yahudi dan nashrani tersebut.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka

Syaikh Shaleh Fauzan menyebutkan beberapa dampak negatif dari mengikuti jejak dan keyakinan kaum kuffar.

Pertama, munculnya sikap wala’ (loyalitas) kepada mereka. Karena menyerupai mereka menunjukkan kecintaan kepada mereka. tidak mungkin seseorang mengikuti orang yang dibencinya. Hal ini sangat membahayakan iman seseorang. Allah Subhanahu wa ta’alaa berfirman,

لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.” (Al-Mujadalah: 22)

Kedua, munculnya rasa kagum terhadap mereka dan rasa benci terhadap Islam. Contoh riil saat ini adalah munculnya kaum liberal, mereka begitu kagumnya dengan peradaban barat sehingga akibatnya, mereka menunjukkan penghinaan terhadap ajaran Islam, lantas menunjukkan kebanggaannya terhadap peradaban barat.

Ketiga, hilangnya jati diri sebagai seorang muslim. Karena muslim jelas-jelas memiliki keyakinan yang berbeda dengan mereka kaum kuffar. Tujaun hidup, cara hidup, hingga orientasinya pun berbeda. Kaum kuffar memiliki orientasi terhadap dunia. Sedangkan seorang muslim orientasinya adalah akhirat. Seorang muslim berorientasi mencari ridha Allah, sedangkan mereka hanya memikirkan bagaimana memuaskan hawa nafsunya. Jika kemudian, jati diri sebagai seorang muslim sudah lebur dengan pribadi kaum kuffar inilah bencana yang sesungguhnya. Sehingga saat ini kita susah membedakan antara keduanya.

Keempat, melemahkan kaum muslimin dan menjadikan kaum muslimin butuh terhadap mereka. Lalu pada akhirnya menghilangkan kebutuhan kita terhadap Allah.

Kelima, membantu mereka mengembangkan bid’ah-bid’ah dan kemusyrikan pada diri kaum muslim. Menjadi kepanjangan tangan dari mereka.

Keenam, rusaknya agama kaum muslimin. Dengan munculnya berbagai macam bid’ah, khurafat, dan adat istiadat kaum kuffar mempengaruhi kehidupan kaum mukminin. Dan ini tentunya sesuatu yang harus kita hindari agar kita menjadi seorang muslim yang utuh, baik secara kepribadian maupun keyakinan. Dengan demikian, kita berusaha berdasarkan ayat ini, janganlah kita mengikuti kaum kuffar.

Wallahu a’lam.