Keutamaan Sirah Nabawiyyah

Cucu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, al-Husain bin Ali Radliyallahu ‘anhumaa berkata, “Kami diajarkan sejarah peperangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana kami diajarkan surat dalam al-Qur’an.

Ibnu Hazm Rahimahullah berkata, “Sesungguhnya sirah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi yang merenunginya akan mengantarkan pada kewajiban beriman dan percaya padanya. Bersaksi bahwa dia adalah benar-benar utusan Allah. Bahkan seandainya beliau tidak memiliki mukjizat, kecuali sejarah perjalanan hidupnya, maka hal tersebut sudah cukup baginya.”

Ubaidillah bin Utbah bercerita tentang majlis ilmu Ibnu Abbas Radliyallahu ‘anhumaa tentang sirah dia berkata, “Kami telah menghadiri majlis ibnu Abbas dan dia bercerita kepada kami dalam satu kesempatan tentang satu peperangan Nabi. Ibnu Abbas Radliyallahu ‘anhumaa telah mengkhususkan waktunya dalam sehari untuk bercerita tentang peperangan Nabi.”

Sirah Nabi adalah bagian dari agama ini, memperkenalkan sirah Nabi sama saja dengan memperkenalkan agama ini. Mari kita perhatikan bagaimana khutbah Umar bin al-Khatthab ketika beliau di baiat menjadi khalifah. Beliau berkata, “Sesungguhnya Allah telah menetapkan sebuah jalan kebenaran, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan contoh yang cukup. Setelah itu, tidak ada lagi ruang, kecuali berdoa dan menjadi pengikut setia.”

Setiap kepedulian yang menyangkut sirah Nabi yang semerbak, menunjukkan eksistensi moral yang tinggi, karena sirah Nabi adalah simbol akhlak dan moral. Langkah dan kebijakan Nabi mengandung petunjuk yang mulia, menunjukkan suri tauladan yang tinggi, serta sebagai barometer dalam mengukur amal kebajikan manusia dan langkah-langkahnya.

Sirah perjalanan Nabi adalah aplikasi nyata dari al-Qur’an, karena al-Qur’an adalah prinsip kehidupan yang agung, landasan hidup yang sempurna, sedangkan kehidupan sehari-hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah aplikasi nyata dari prinsip dasar kehidupan yang ada dalam al-Qur’an tersebut.

Oleh karena itu, di antara kelebihan agama ini adalah kehebatan prinsip aturan dalam kehidupan dan kemantapan contoh dalam aplikasi yang diperankan oleh Salafus-Shalih Radliyallahu ‘anhum.

Bagaimanapun hebatnya suatu pedoman jika tidak memiliki acuan yang menjadi percontohan dalam mengamalkanya, maka pedoman tersebut akan terasa hampa, karena teori yang bagus, pembelajaran yang memukau, tetapi tidak bisa membuahkan hasil atau tidak menjadi kenangan yang disebut-sebut sepanjang masa, yang bisa dijadikan percontohan dalam memformat akhlak dan karakter umat manusia. Yang dalam bahasa sederhananya dikenal dengan nama suri tauladan. Maka hal tersebut tidak ada artinya. Itulah yang menjadi proyek percontohan yang mengantar manusia untuk berbuat baik setelah mengetahui ilmunya, kagum dengan kepribadian mereka, para dai, terpesona dengan ketinggian moral dan kebeningan jiwa mereka. Agama islam tidak akan baik, Berjaya, dan menjadi yang terdepan, kecuali dengan menjadikan sirah Nabi sebagai bukti kebenaran dan kesempurnaan islam. Sirah Nabi menunjukkan keteraturan gaya kehidupan Nabi sehari-hari, budi pekerti yang agung, serta amalan yang menunjukkan kehidupan yang damai dan bersahabat.

Sejarah perjalanan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah satu-satunya otobiografi yang telah memenuhi empat kriteria utama yang bisa dijadikan sebagai percontohan dalam kehidupan manusia. Ia bersifat historis, integral, sempurna, dan aplikatif.

Historis karena merupakan perjalanan bersejarah yang disaksikan kebenarannya. Integral karena mencakup segala aspek kehidupan manusia untuk segala jenjang usia serta segala jenis derajat sosial masyarakat. Sempurna karena tidak ada kekurangan di dalamnya. Aplikatif karena bukan hanya sebatas konsep, tetapi sebuah ajaran yang terlontar dari lisan sang penyeru, kemudian diamalkan langsung oleh beliau.

Allahu a’lam.

Sumber: Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim az-Zaid, “Fiqh Sirah Nabawiyyah”, Jakarta: Darus Sunnah Press, 2016

Baca Juga