Mush’ab bin Umair (Duta Islam Pertama), Bag. 2

Di Madinah Mush’ab tinggal sebagai tamu di rumah As’ad bin Zurarah. Ia bersama As’ad mengunjungi kabilah-kabilah, rumah-rumah dan tempat pertemuan, untuk membacakan ayat-ayat Kitab Suci Rabbnya, yang telah dia ketahui, mereka berdua menyampaikan kalimat Allah “bahwa Allah adalah Ilah Yang Maha Esa” secara hati-hati.

Mush’ab pernah menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan diri dan sahabatnya, yang nyaris celaka jika tanpa kecerdasan akal dan kebesaran hiwanya. Suatu hari, ketika ia sedang memberikan petuah kepada orang-orang, tiba-tiba disergap oleh Usaid bin al-Hudhair, pemimpin kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menolong Mush’ab dengan belati yang terhunus.

Dia sangat murka dan sakit hati menyaksikan Mush’ab yang datang untuk menyelewengkan kaumnya dari agama mereka, membujuk mereka agar meninggalkan tuhan-tuhan mereka, dan menceritakan Allah Yang Maha Esa yang belum pernah mereka ketahui sebelum itu.

Saat kaum muslimin yang sedang duduk bersama Mush’ab melihat kedatangan Usaid bin al-Hudhair dengan membawa kemurkaan, mereka pun merasa khawatir. Tetapi Mush’ab tetap tenang, dan menunjukkan kegembiraan. Usaid berdiri di depan Mush’ab dan As’ad bin Zurarah, seraya berkata, “Apa maksud kalian datang ke kampong kami? Apakah kalian hendak membodohi orang-orang yang lemah di antara kami? Tinggalkan segera tempat ini, jika kalian tidak ingin mati!”
Dengan tenang, penuh kelembutan dan sopan santun, Mush’ab berkata, “Mengapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu? Seandainya anda menyukai, anda dapat menerimanya. Sebaliknya, jika tidak, kami akan menghentikan apa yang anda benci.”

Usaid adalah sosok yang cerdas dan berakal, dia melihat bahwa Mush’ab mengajaknya berdialog dan meminta pertimbangan kepada hati nuraninya sendiri. Dia pun melemparkan belatinya ke tanah dan duduk mendengarkan. Ketika Mush’ab membacakan ayat-ayat al-Qur’an dan menguraikan seruan yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hati Usaid mulai terbuka, berdetak beriringan mengikuti naik turunnya suara, serta meresapi keindahannya. Belum selesai Mush’ab menyampaikan uraiannya, Usaid kemudian berkata kepada orang-orang yang bersamanya, “Alangkah indah dan benarnya ucapan itu. Apakah yang harus dilakukan oleh orang yang hendak masuk agama ini?”

Mereka pun menjawabnya dengan tahlil, kemudian Mus’ab berkata kepada Usaid, “Hendaklah ia menyucikan badan dan pakaiannya, serta bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi selain Allah.”

Setelah itu Usaid meninggalkan mereka, kemudian kembali dengan rambut yang masih meneteskan air sisa bersuci. Ia kemudian mengikrarkan dua kalimat syahadat.

Berita keislaman Usaid menyebar dengan cepat, disusul oleh kehadiran Sa’ad bin Mu’adz, dan setelah itu Sa’ad bin Ubadah. Dengan keislaman mereka bertiga, selesailah persoalan dengan berbagai suku di Madinah. Warga Madinah berdatangan dan beriman dengan apa yang disampaikan oleh Mush’ab bin Umair.

Hari berganti, dan tibalah perintah Allah untuk berhijrah ke Madinah. Setelah itu meletuslah perang Badar yang berakhir dengan kekalahan telak yang dialami kaum kafir Quraisy. Perang Uhud pun menjelang, dan kaum muslimin bersiap-siap mengatur barisan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di tengah barisan sambil membawa bendera perang. Beliau pun memanggil Mush’ab untuk membawa panji perang kaum muslimin.

Perang pun berkecamuk awalnya pasukan muslimin unggul, namun pasukan pemanah melanggar perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, meninggalkan posisinya di puncak bukit sehingga pasukan kaum muslimin dikagetkan oleh serangan balik pasukan berkuda Quraisy dari balik bukit. Ketika musuh melihat barisan kaum muslimin porak poranda, mereka pun mengalihkan serangan kea rah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membunuh beliau. Mush’ab menyadari ancaman yang mengintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia pun mengangkat panji perang setinggi-tingginya dan bertakbir sekeras-kerasnya. Memfokuskan tenaganya untuk menarik perhatian musuh, sehingga mereka lupa dari tujuan mereka membunuh Rasulullah.

Walaupun seorang diri, Mush’ab bertempur dengan gagah berani, musuh kian bertambah banyak, mereka hendak menyebrang dengan menginjak-nginjak tubuhnya untuk mencapai posisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibnu Sa’ad menuturkan, “Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al-Abdari menceritakan kepada kami dari ayahnya, dia berkata, ‘Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera muslimin di Perang Uhud. Tatkala berisan kaum muslimin kocar-kacir, Mush’ab tetap bertahan pada posisinya. Ibnu Qami’ah datang berkuda, lalu menebas lengan kanannya hingga putus. Mush’ab mengucapkan, ‘Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang utusan, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa utusan.’ Kini ia memegang bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula.

Mush’ab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan, ia mendekap bendera ke dada sambil mengucapkan, ‘Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang utusan, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa utusan.’ Musuh menyerangnya kembali dengan tombak, dan menusukannya hingga patah, Mush’ab akhirnya gugur, dan bendera perang itu pun jatuh.’”

Setelah perang usai, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat yang masih tersisa meninjau medan pertempuran. Ketika sampai di tempat terbaringnya jasad Mush’ab, air mata beliau mengucur deras. Khabbab bin al-Arrats menuturkan, “Kami hijrah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengharap ridha Allah, maka Allah memberikan balasan kepada kami. Di antara kami ada yang meninggal dan belum mendapatkan balasan (dunia) sedikit pun. Kami tidak mendapatkan sesuatu untuk mengkafaninya (Mush’ab bin Umair) kecuali sepotong kain. Jika kami menutup kepalanya, kedua kakinya tersingkap. Dan jika kami menutup kakinya, kepalanya tersingkap. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Tutuplah kepalanya dengan kain (mantel) dan tutuplah kakinya dengan idzkir (rumput berbau harum yang biasa digunakan dalam prosesi penguburan).”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di depan jasad Mush’ab bin Umair dengan pendangan mata yang penuh dengan kasih sayang. Beliau membacakan ayat di hadapannya,

Dan di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah.” (Al-Ahzab: 23).

Kemudian dengan penuh rasa iba, beliau memandangi kain yang digunakan untuk menutupi jasad Mush’ab, seraya bersabda, “Ketika di Mekkah dulu, tidak ada seorang pun yang aku lihat lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripada dirimu. Namun sekarang, engkau (gugur) dengan rambutmu yang kusut masai dan hanya dibalut sehelai kain.”
Setelah itu pandangan beliau tertuju ke medan pertempuran dimana jasad-jasad syuhada rekan-rekan Mushab yang tergeletak di atasnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, Rasulullah akan menjadi saksi pada hari Kiamat nanti bahwa kalian semua adalah syuhada di sisi Allah.”

Sumber: Khalid. Khalid Muhammad, Biografi 60 Sahabat Nabi “Rijaalun Haular-Rasuul”, Terj. Agus Suwandi. Jakarta: Ummul Qura, 2012.