Cahaya Surga

Ahmad bin Manshur ar-Ramadi berkata, bahwa berkata kepada kami Katsir bin Hisyam yang berkata, berkata kepada kami Hisyam bin Zayyad Abul Miqdam dari Habib bin Syahid dari Atha’ bin Abu Rabah dari Ibnu Abbas Radliyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Allah menciptakan surga berwarna putih dan model pakaian yang paling dicintai Allah adalah yang berwarna putih. Maka hendaklah kalian yang masih hidup mengenakan model pakaian yang berwarna putih dan hendaklah kalian mengkafani jenazah kalian dengan kain yang berwarna putih.” Setelah itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta agar para penggembala kambing dikumpulkan dan ketika mereka telah berkumpul, maka beliau bersabda, ”Siapa di antara kalian yang mempunyai kambing yang berwarna hitam, maka hendaklah ia mengumpulkannya dengan kambing yang berwarna putih.” Seorang wanita datang menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya mempunyai kambing yang berwarna hitam dan aku lihat ia tidak berkembang?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Warnailah putih kambing tersebut.”

Imam Bukhari berkata, bahwa Abdullah bin Muhammad yang berkata, bahwa berkata kepada kami Suwaid bin Sa’id yang berkata bahwa, berkata kepada kami Abdu Rabbihi al-Hanafi dari pamannya Zamil bin Samak bahwa ia mendengar ayahnya pernah bercerita kepadanya, bahwa ayahnya pernah bertemu dengan Abdullah bin Abbas Radliyallahu ‘anhumaa di Madinah ketika beliau sudah tua dan buta. Ia berkata, “Wahai Ibnu Abbas, apa tanah surga?” Ibnu Abbas menjawab, “Tanah surga adalah batu marmer yang berwarna putih yang terbuat dari perak seperti cermin.” Saya bertanya, “Bagaimana cahayanya?” Ibnu Abbas menjawab, “Apakah anda tidak pernah melihat ketika matahari menjelang terbit? Itulah cahayanya, namun di surga tidak ada matahari dan tidak ada pula hawa dingin yang menyengat.”

Mahligai, Istana, dan Waktu di Surga

Allah ta’alaa berfirman,

Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Rabb-nya, mereka mendapat ghuraf (tempat-tempat), di atasnya dibangun pula tempat-tempat yang tinggi.” (Az-Zumar: 20)

Pada ayat ini, Allah menginformasikan bahwa di atas ghuraf ada ghuraf yang lain dan bahwa kedua-duanya dibangun dalam bentuk bangunan. Maksudnya bahwa, mereka mendapatkan istana-istana yang tinggi dan di atasnya terdapat istana-istana lainnya yang lebih tinggi dari istana-istana di bawahnya.

Tirmidzi di dalam Jami’nya meriwayatkan hadits dari Abdurrahman bin Ishaq dari Nu’man bin Sa’ad dari Ali Radliyallahu ‘anhu yang berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya di dalam surga terdapat ghuraf (bangunan tinggi). Bagian luarnya bisa dilihat dari dalam dan bagian dalamnya bisa dilihat dari luar.” Seorang badui berkata, “Wahai Rasulullah, itu untuk siapa?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itu untuk orang yang baik ucapannya, memberikan makanan kepada orang lain, senantiasa mengerjakan puasa dan shalat malam pada saat orang-orang lain sedang tidur.” (Tirmidzi berkata bahwa hadits ini gharib dan kami tidak mengenalnya kecuali dari Jalur Abdurrahman bin Ishaq).

Ibnu Wahab berkata, bahwa berkata kepada kami Huyai dari Abdurrahman dari Abdullah bin Amr Radliyallahu ‘anhumaa dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya di surga terdapat bangunan tinggi. Bagian luarnya bisa dilihat dari dalam dan bagian dalamnya bisa dilihat dari luar.” Abu Malik al-Asy’ari berkata, “Itu untuk siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ia adalah untuk orang yang ucapannya baik, memberi makanan kepada orang lain dan tidak tidur karena beribadah ketika manusia pada tidur.”

Muhammad bin Abdul Wahid berkata, bahwa hadits di atas menurutnya sanadnya baik dan penyebutan Abu malik di dalamnya menunjukkan keshahihannya. Karena Abu Malik telah meriwayatkannya dan sanadnya juga baik.

Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, disebutkan hadits dari Abu Musa al-Asy’ari Radliyallahu ‘anhu, dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda,

Sesungguhnya orang yang beriman disediakan di surga, istana dari satu mutiara yang berongga. Panjangnya adalah enam puluh mil. Di dalamnya terdapat pelayan-pelayan. Ia mengelilinginya tapi masing-masing tidak bisa melihat sebagian yang lain.”

Dan sabda beliau dalam hadits yang diriwayatkan Abu Musa al-Asy’ari Radliyallahu ‘anhu. “Allah ‘Azza wa Jalla berkata kepada orang yang membaca hamdalah dan inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun ketika anaknya meninggal dunia, ‘Bangunlah untuk hamba-Ku ini rumah di surga dan beri nama rumah tersbut al-Hamdu.”

Sumber: Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. “Hadil Arwaah ila Bilaadil Afraah” atau “Tamasya ke Surga“. Terj. Fadhil Bahri, Lc. Bekasi: Darul Falah. 2015