Di Mana Surga?

Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman,

Dan sesungguhnya Muhammad itu telah melihat Jibril (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. (Yaitu) di Sidratul Muntaha.” (An-Najm: 13-14)

Sebagaimana diketahui bersama bahwa Sidratul Muntaha terletak di atas langit. Ia dinamakan Sidratul Muntaha karena ia apa saja yang dari sisi Allah berhenti di situ. Allah ta’alaa berfirman,

Dan di langitlah rizki kalian dan apa saja yang dijanjikan kepada kalian.”

Ibnu Abu Najih berkata dari Mujahid bahwa yang dimaksud dijanjikan adalah surga. Begitu juga informasi yang diterima banyak orang dari Mujahid. Ibnu Mundzir dan lain-lainnya menyebutkan dalam tafsirnya dari Mujahid bahwa yang dimaksud dengan yang dijanjikan tersebut adalah surga dan neraka. Ayat di atas membutuhkan penafsiran lebih lanjut karena neraka terletak di tempat yang paling rendah dan bukan berada di atas langit. Artinya bahwa apa yang dikatakan Mujahid sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abu Najih daripadanya dan yang dikatakan Abu Shalih dari Ibnu Abbas bahwa kebaikan dan keburukan itu asalnya dari langit. Maka dengan begitu, bahwa arti ayat tersebut adalah bahwa sebab-sebab neraka dan surga berada di atas langit di sisi Allah.

Harits bin Abu Usamah berkata bahwa telah berkata kepada kami Abdul Aziz bin Aban yang berkata bahwa telah berkata kepada kami Mahdi bin Maimun yang berkata telah berkata kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Abu Ya’qub dari Bisyr bin Syaghaf yang berkata bahwa saya pernah mendengar Abdullah bin Salam berkata,

Bahwa makhluk Allah yang paling mulia adalah Abu Qasim Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bahwa surga berada di langit.” (Riwayat Abu Nu’aim)

Hadits yang sama juga diriwayatkan Ma’mar bin Rasyid dari Muhammad bin Abu Ya’qub yang marfu’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ma’mar bin Rasyid juga meriwayatkan dari jalan Ibnu Mani’ yang berkata bahwa telah berkata kepada kami Umar dan Naqid yang berkata telah berkata kepada kami Amr bin Utsman yang berkata bahwa telah berkata kepada kami Musa bin A’yun dari Ma’mar secara marfu’. Kemudian diriwayatkan dari jalur Muhammad bin Nadhil yang berkata bahwa telah berkata kepada kami Muhammad bin Abdullah dari Athiyyah dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata, “Surga berada di langit yang ketujuh dan Allah menjadikannya sesuai dengan kehendak-Nya pada Hari Kiamat. Dan neraka terletak di bumi yang ketujuh.”

Ibnu Mandah berkata bahwa telah berkata kepada kami Ahmad bin Ishaq yang berkata telah berkata kepada kami Abu Ahmad az-Zubairi yang berkata bahwa telah berkata kepada kami Muhammad bin Abdullah dari Salamah bin Kuhail dari Abu Za’ra’ dari Abdullah yang berkata, “Surga terletak di langit keempat. Pada hari Kiamat, Allah menjadikannya sesuai dengan kehendak-Nya. Neraka terletak di bumi yang ketujuh. Pada Hari Kiamat, Allah menjadikannya sesuai dengan kehendak-Nya.” Mujahid berkata bahwa aku pernah bertanya kepada Ibnu Abbas, “Di mana letak surga?” Ibnu Abbas menjawab, “Ia terletak di atas tujuh langit.” Aku bertanya lagi, “Di mana letak neraka?” Ibnu Abbas menjawab, “Di bawah lapisan laut yang ketujuh.” (Diriwayatkan dari Ibnu Mandah dari Ahmad bin Ishaq dari az-Zubairi dari Israil dari ibnu Abu Yahya dari Mujahid)

Kunci Surga

Hasan bin Arafah berkata bahwa telah berkata kepada kami Ismali bin Ayyasy dari Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Hasan dari Syahr bin Husyah dari Muadz bin Jabal Radliyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Kunci surga adalah kesaksian Laa ilaaha Illallahu (tidak ada Tuhan yang berhak di sembah kecuali Allah).”

Abu Nu’aim meriwayatkan hadits dari Aban dari Nas bin Malik Radliyallahu ‘anhu yang berkata bahwa ada orang Arab badui yang bertanya,

Wahai Rasulullah, apa kunci surga itu?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Yaitu laa ilaahaa Illallahu.”

Abu Syaikh meriwayatkan hadits dari al-A’masy dari Mujahid dari Yazid bin Sakhbarah yang berkata, “Sesungguhnya pedang-pedang adalah kunci-kunci surga.”

Dalam Musnad, disebutkan hadits dari Muadz bin Jabal Radliyallahu ‘anhu yang berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Maukah engkau aku tunjukkan salah satu kunci surga?” Aku menjawab, “Ya, aku mau.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yaitu ucapan laa haula wa la quwwata illa Billahi.”

Allah membuat kunci bagi setiap permohonan. Ia menjadikan bersuci sebagai kunci shalat sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa sallam,

Kunci shalat adalah thahaarah.”

Kunci haji adalah ihram, kunci segala kebaikan adalah kejujuran. Kunci surga adalah tauhid, kunci ilmu adalah bertanya dengan baik dan serius mendengar. Kunci kemenangan dan kegemilangan adalah sabar. Kunci penambahan nikmat ada syukur. kunci keberuntungan adalah takwa, kunci petunjuk adalah cinta dan takut kepada Allah. Kunci permintaan adalah doa, kunci cinta akhirat adalah zuhud di dunia. Kunci iman adalah merenungkan apa saja yang diperintahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya untuk direnungkan. Kunci menuju Allah adalah penyerahan hati. Kunci hati yang hidup adalah merenungkan al-Qur’an, merendahkan diri, berdoa pada waktu sahur dan meninggalkan dosa. Kunci mendapatkan rahmat dan ihsan adalah beribadah kepada Allah dan berusaha menjadi orang yang bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya. Kunci rizki adalah bekerja dengan disertai istighfar dan takwa. Kunci kemuliaan adalah taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Kunci persiapan menuju akhirat adalah memperpendek angan-angan.

Dan adapun kunci segala keburukan adalah cinta dunia dan panjang angan-angan. Kunci neraka adalah syirik, sombong, berpaling dari ajaran Allah yang dibawa Rasul-Nya, enggan berdzikir kepada-Nya dan tidak menunaikan hak-hak-Nya. Allah menjadikan khamr sebagai kunci segala dosa. Ia menjadikan kesesatan sebagai kunci perzinahan. Allah menjadikan kebohongan sebagai kunci kemunafikan. Allah menjadikan kekikiran dan ambisius sebagai kunci kehancuran. Allah juga menjadikan bid’ah sebagai kunci kesesatan.

Sumber: Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. “Hadil Arwaah ila Bilaadil Afraah” atau “Tamasya ke Surga“. Terj. Fadhil Bahri, Lc. Bekasi: Darul Falah. 2015.